Kampusiana

Pedagang Klaim Kampus Tak Perhatikan Rakyat Kecil

[Suakaonline.com]- Sejumlah pedagang di lingkungan kampus UIN SGD Bandung merasa keberatan dengan rencana pihak kampus yang akan menertibkan pedagang dari kawasan kampus. Sebagian dari mereka menyebutkan hal tersebut merupakan bentuk tidak adanya kepedulian pihak kampus kepada para pedagang kecil. “kita sih pengennya pihak UIN memperhatikan orang-orang kecil seperti kita.,” ujar salah satu pedagang yang enggan disebut namanya kepada Suaka, Rabu (2/10)

 

Selain itu menurutnya keberadaan mereka selama ini pun turut membantu mahasiswa untuk memenuhi keperluan seperti makan dan minum dengan harga yang terjangkau dan dekat. “keberadaan kita di sini juga cukup membantu bagi mahasiswa. Terlebih UIN kampus yang Islami, tapi kalau hal itu  dilakukan menurut saya tidak mencerminkan UIN sebagai kampus yang islami,”

 

Imas salah satu pedagang yang merasa keberatan dengan aturan tersebut mengatakan, hingga kini pihak kampus belum memberikan kepastian terkait jaminan masa depan mereka apabila instruksi penertiban tersebut sudah dilaksanakan. Padahal, ia menambahkan, sebelumnya pihak rektorat telah berjanji untuk merelokasi para pedagang ke tempat yang lebih laik.

 

“Beberapa waktu yang lalu, orang-orang dari rektorat pernah mendatangi kita, mereka menjanjikan adanya relokasi kepada kita,” tutur penjual gorengan dan nasi rames ini kepada Suaka, Senin (30/9).

 

Tak hanya pedagang yang merasa keberatan dengan aturan tersebut mahasiswa pun turut merasa keberatan dengan ditertibkannya pedagang dari kampus. Selain alasan dekat dan terjangkau, segi sosial dan kemanusiaan pun menjadi alasan utama dari mahasiswa untuk tidak setuju dengan aturan tersebut.

 

Hal tersebut diucapkan oleh Mia Indria mahasiswa Ilmu Komunikasi, ia mengatakan dirinya sangat tidak setuju apabila pedagang kampus ditertibkan. Pasalnya, ia menambahkan, dengan adanya para pedagang dalam kampus membuat mahasiswa jadi terdidik untuk membaur dengan masayarakat. “Coba kebayang tidak kalau nanti pedagang di kampus diganti semua oleh mini market,” ujarnya kepada Suaka melalui, Jumat (18/10).

 

Ia pun menambahkan dengan adanya Pedagang di dalam kampus membantu dirinya juga teman-teman yang tidak tidak memiliki bekal banyak. Karena, menurutnya, para pedagang di dalam kampus selain dekat harganya pun terjangkau. “ Menurut saya keberadaan PKL sangat berguna bagi mahasiswa,” ucapnya.

 

Senada dengan Mia, Ikhsan Mutaqin mahasiswa jurusan Sosiologi pun tidak setuju apabila pedagang di dalam kampus direlokasi. Ia beralasan apabila pedagang direlokasi ke tempat lain akan membuat pedagang membayar sewa lebih mahal.

 

“Gak bisa ngebayangin deh kalo nanti DPR tidak ada pedagang. Suasananya gak bakalan sempurna,” ujarnya kepada Suaka, Jumat (18/10)

 

Sementara itu, Kepala Biro Administrasi Umum UIN SGD Bandung, Jaenuddin, mengatakan penertiban tersebut  memang sudah kewenangan  pihaknya. Adapun, ia mengatakan, langkah tersebut dilakukan guna menertibkan kampus yang tengah dalam tahap pembangunan ini.

 

“Sebenarnya kami memiliki hak untuk menertibkan para PKL, adapun langkah tersebut diambil demi kepentingan kampus UIN sendiri,” tutur Jaenuddin, selaku Kepala Biro Administrasi Umum, saat diwawancarai di kantornya, Jumat (4/10).

 

Lebih lanjut ia mengatakan hal tersebut dilakukan agar kawasan kampus menjadi tertib. Ia pun menilai keberadaan PKL selama ini membuat kawasan kampus terkesan kumuh. “UIN Bandung itu pernah mendapat predikat sebagai salah satu kampus PTAIN terkumuh. Maka dari itu, salah satu tujuan dari penertiban PKL ini adalah untuk menata ketertiban di area kampus UIN Bandung,” ucapnya.

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas