Lintas Kampus

Berbagi Rasa Bersama Difabel-Netra Lewat Bioskop Harewos

Suasana pemutaran film perdana Bioskop Harewos di Nuart Sculpture Park, Jalan Setraduta Raya No. L 6 Bandung, Sabtu (24/9/2016). Bentuk program pemutaran bioskop ini adalah di mana sahabat difabel-netra “nonton film bareng”, dan mereka akan dibisiki oleh volunteer visual reader, tentang situasi apa yang terjadi dalam film yang diputar. (SUAKA / Ibnu Fauzi)

Suasana Bioskop Harewos saat pemutaran film di Teater Nuart Sculpture Park, Jalan Setraduta Raya No. L 6 Bandung, Sabtu (24/9/2016). Bentuk program pemutaran bioskop ini adalah di mana sahabat difabel-netra “nonton film bareng”, dan mereka akan dibisiki oleh volunteer visual reader, tentang situasi apa yang terjadi dalam film yang diputar. (SUAKA / Anjar Martiana)

SUAKAONLINE.COM, Bandung — Bioskop Harewos menggelar pemutaran film di Teater Nuart Sculpture Park, Jalan Setraduta Raya No. L 6 Bandung, Sabtu (24/9/2016). Film yang pertama kali diputaradalah film berjudul “Ngenest”, sebuah film pertama Ernest Prakasa dalam menyutradarai  film bioskop.

Bioskop Harewos berasal dari Bahasa Sunda, yang berarti “berbisik”. Bentuk program pemutaran bioskop ini adalah di mana sahabat difabel-netra “nonton film bareng”, dan mereka akan dibisiki oleh volunteer visual reader, tentang situasi apa yang terjadi dalam film yang diputar. “Saya ingin berbagi rasa dan berbagi warna sama sahabat difabel netra,” ungkap Inisiator Bioskop Harewos, Dita Widya Putri.

Pemutaran film ini bersifat tertutup, hanya diperuntukkan bagi peserta dan volunteer terdaftar (closed screening). Acara ini dihadiri oleh 20 sahabat difabel-netra, 23 volunteer visual reader, 5 volunteer dokumentator, dan 3 volunteer program.

Kombinasi audio dalam film dan deskripsi visual dari para volunteer diharapkan membuka ruang imajinasi sahabat difabel netra agar lebih utuh dan menarik, sehingga memberi pengalaman menonton film yang lebih berkesan. “Saya memang suka banget nonton, setiap nonton itu penasaran banget kelanjutan ceritanya kaya gimana. Ada acara ini senang sekali, karena ada pendamping yang ngejelasin,” papar salah satu sahabat difabel-netra, Ihsanuddin, peserta Bioskop Harewos asal Kendari.

Ihsan menjelaskan, bahwa ia menyukai film sejak kecil sebelum ia buta total. “Keluarga di rumah sering nonton sinetron, jadi saya jatuh cinta sama sinetron atau film, walaupun hanya bisa mendengarkan suara, tapi bisa mainkan imajinasi saya,” tambahnya ketika ditemui Suaka seusai acara.

Baca juga:  Sistem Kontrol KKN Gunakan Line Here

Sebagai Inisiator, Dita berharap, Bioskop Harewos bisa terus eksis, bisa tetap memberi rasa dan warna kepada sahabat difabel netra, serta terus berkembang ke seluruh kota di Indonesia, bukan hanya Bandung dan Jakarta.

Bioskop Harewos kali pertama digagas oleh Bandung Film Council (BFC) dalam gelaran 1000 wajah Bandung, sebagai apresiasi hari film nasional pada 30 Maret 2015 lalu. Bioskop Harewos ini terinspirasi dari sebuah program serupa di Jakarta dengan nama “Bioskop Bisik”.

Saat ini, Bioskop Harewos bukan lagi bagian dari program BFC, namun sudah menjadi wadah mandiri bagi keberlanjutan program Bioskop Harewos ke depannya, dan dijadikan sebagai program reguler. Program ini gratis bagi sahabat difabel-netra dan  volunteer visual reader.

Reporter : Anjar Martiana

Redaktur : Edi Prasetyo

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas