Kampusiana

Hargai Perbedaan, Umat Muslim Boleh Ucapkan 'Selamat Natal'

[Suakaonline]- 25 Desember menjadi hari yang agung bagi umat Kristiani di seluruh dunia. Seluruh pemeluk Kristen yang taat berbondong-bondong merayakan kekudusan suasana hari Natal dengan penuh suka cita.

 

Perayaan Natal tentunya sudah menjadi kebiasaan setiap tahunnya, suasana gemerlap Natal pun tak hanya diraskan oleh umat Kristen saja; dirasakan pula oleh berbagai golongan masyarakat yang heterogen, tak terkecuali umat Islam.

 

Di tengah kondisi masyarakat kita yang multikultural, isu tentang keberagaman agama masih menjadi topik hangat yang laik dibedah berkenaan dengan momentum hari Natal ini, khususnya bagi umat Islam di Indonesia.  Pasalnya, masih banyak pandangan yang melarang umat Islam untuk mengungkapkan ucapan Natal.

 

Dodo Widarda, Dosen Aqidah Filsafat Fakultas Ushuludin UIN SGD Bandung memaparkan bahwa salah satu faktor yang dijadikan pijakan atas pelarangan tersebut adalah Hadist Nabi S.A.W yang artinya: Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka”.

 

Hal tersebut dibenarkan oleh Kustian Nugraha aktivis Lembaga Dakwah Mahasiswa UIN SGD Bandung. Tidak boleh mengucapkan selamat kepada non-muslim, meskipun dengan niat toleransi,” tutur mahasiswa Fidkom ini, Selasa (24/12).

 

Namun, Dodo menambahkan, bahwasannya sudah banyak ulama kontemporer yang membolehkan pengungkapan ucapan Natal, dengan merujuk pada QS Maryam ayat 30 yang berarti: “Dia (Isa) berkata, “Sesungguhnya aku hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi”.

 

Dodo juga memaparkan bahwa ia sepakat dengan pendapat para ulama yang merujuk pada ayat suci Al-Quran,  yang memperbolehkan umat Islam mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristiani.

 

Sebenarnya kita (umat Islam-Red) boleh-boleh saja mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristen, asalkan tidak turut serta menikmati perayaan Natal tersebut,” tegasnya saat ditemui Di Bawah Pohon Rindang (DPR) UIN Bandung.

 

Ia juga beralasan, banyak contoh nyata dari sikap toleran yang digambarkan umat Islam dalam memaknai ucapan selamat Natal ini. “Salah satu contohnya adalah ungkapan selamat natal yang dilontarkan para mufti Mesir terhadap umat Kristen, serta sikap Yusuf Qardhawi yang melakukan hal yang sama, sebagai bentuk toleransi yang merepresentasikan Islam yang fleksibel,” tambah Dodo.

 

Dodo berharap agar pro-kontra tentang pengucapan selamat Natal ini dimaknai secara lebih luas dan mendalam, serta harus dipertimbangkan pula implikasi yang akan ditimbulkannya, terutama dalam ranah multikulturalitas.

 

 

Ucapan selamat Natal ini tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja, kita (umat Islam-Red) harus bisa menilai implikasi sosial-kultural yang dihadirkan dari hal tersebut (ucapan Natal-Red),” pungkasnya.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas