Lintas Kampus

Menulis Untuk Menggugah Kesadaran dan Pemikiran

Zaky Yamani menerima plakat dari panitia pelaksana usai mengisi materi mengenai kelas menulis dalam acara Festival Media yang digelar oleh Lembaga Pers Suara Mahasiswa (SM) Unisba, Kamis (5/10/2016). (SUAKA/ Rendy M. Muthaqin)

Zaky Yamani menerima plakat dari panitia pelaksana usai mengisi materi mengenai kelas menulis dalam acara Festival Media yang digelar oleh Lembaga Pers Suara Mahasiswa (SM) Unisba, Kamis (5/10/2016). (SUAKA/ Rendy M. Muthaqin)

SUAKAONLINE.COM, Bandung – Salah satu anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandung, Zaky Yamani mengatakan bahwa ia menulis untuk menggugah kesadaran, pemikiran dan hati nurani. Selain itu dengan menulis berusaha memancing orang untuk melihat dunia dari sisi lain, bahwa dunia sedang dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Hal tersebut ia sampaikan dalam kelas menulis yang diselenggarakan oleh Lembaga Pers Mahasiswa Suara Mahasiswa (LPM SM) Universitas Islam Bandung (Unisba), Kamis (6/10/2016). Kelas tersebut merupakan salah satu kegiatan dalam acara Festival Media.

Zaky menambahkan bahwa dengan menulis ia menghasilkan kepuasan. “Menulis itu adalah kerja untuk peradaban,” ujar Zaky. Ia menampik bahwa menulis adalah cara orang bertahan hidup, ia menilai hanya segelintir orang yang menggantungkan hidupnya dari menulis dan beruntung.

Selama 14 tahun Zaky menjadi wartawan, ia mengalami banyak pengalaman yang tidak menyenangkan. Ancaman pembunuhan, disingkirkan bahkan banyak yang memusuhi. “Untuk bertahan hidup dalam kondisi seperti itu tidak enak.”

Biasanya Zaky mendapat ide untuk menulis dari hal-hal sederhana. Ia bercerita mengenai proses liputan investigasi mengenai air di Kota Bandung, ia turut berendam ketika banjir terjadi. Kemudian menemukan ide-ide dari pertanyaan sederhana. “Mengapa banjir yang sama terus berulang setiap tahunnya, mengapa enggak diberesin.

Ia juga menilai media hanya menampilkan masalah yang begitu saja setiap tahunnya.  Menurut Zaky keadaan tersebut merupakan pembodohan terhadap masyarakat. “Wartawan terlibat dalam pembodohan itu.”

Ketika menjadi wartawan Zaky mengatakan hal yang twrsulit adalah dikejar orang dan harus melarikan diri. “Karena banyak orang yang merasa terancam oleh saya,” ujar Zaky. Ia juga harus berpikir untuk keselamatan dirinya dan keluarganya.

Baca juga:  Mencium Bau Limbah, Warga Panyileukan Resah

Reporter : Isthiqonita

Redaktur : Edi Prasetyo

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas