Opini

Cover Majalah Suaka “Menggigit”

*Oleh Yoga Zaraandrita


Preambule

 

Sabtu, 04 Januari 2014. Sebetulnya saya sedang bikin tulisan yang agak serius soal isi dari majalah Suaka baru-baru ini, tepatnya soal berita di rubrik laporan utama. Tapi ah ternyata ‘jangar’, ada data-data yang berserak dan mesti saya strukturkan ulang seturut dengan pesan utama yang saya inginkan. Belum lagi ada istilah-istilah asing yang mesti saya cerna untuk memahami LHP BPK sebagai referensi utama dari tulisan saya itu.


Berkaca dari pengalaman Archimides , yaitu saat raja Hieron II meminta beliau meneliti mahkotanya apakah dicampur dengan perak atau tidak. Saat itu Archimides sampai kewalahan dan tak kunjung mendapatkan jawaban dari soal yang diajukan raja, sehingga ia memutuskan untuk berhenti sejenak memikirkannya (meneliti) seraya menceburkan diri di bak pemandian umum.


Di situlah, konon katanya Archimides menemukan jawabannya, justru saat ia sedang tidak meneliti. Begitulah, tulisan ini adalah tulisan pengalihan dalam rangka menghibur diri dan bersenang-senang.


Isi


Tiga Tanda Warna apa yang dominan di cover majalah Suaka edisi ‘Yang Tersangkut di Rektorat’? adalah warna orange. Dari sekian banyak makna yang ditautkan pada warna orange salah satunya adalah; bencana, atau bisa juga kerusakan, bisa juga kekacauan. Warna ini kerap dipakai (dan dikukuhkan) sebagai warna primer dalam seragam organisasi kebencanaan, sebut saja salah satunya BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah).


Ya, orange jadi penanda bencana. Saat melihat warna dominan orange dalam majalah Suaka edisi baru-baru ini, secara tak sadar benak kita langsung memikirkan satu term yang mengerikan yaitu ‘bencana’. Rupanya, redaksi majalah Suaka tidak mau berhenti sampai di situ, bermain-main dengan warna saja. Ada kata-kata yang kemudian dibikin sebagai ‘penunjuk jalan’, bahwa meskipun setiap bencana dan kerusakan itu tidak otomatis akibat ulah tangan manusia. Namun, bencana yang satu ini diakibatkan oleh ulah tangan manusia.


Maka dibikinlah kalimat, yang juga berfungsi sebagai judul majalah, kalimat itu ialah “yang Tersangkut di Gedung Rektorat”. Kalimat itu dikuatkan lagi dengan gambar manusia berbaju hitam dengan kerah putih dan kepala nyaris botak serta tangan seperti sedang memohon. Artinya, dari tiga tanda (kalimat, gambar manusia, dan warna dominan) ini saja, kita sebagai pembaca bisa langsung menangkap pesan yang ingin disampaikan redaksi majalah Suaka.


Kira-kira pesannya seperti ini, “Ada Bencana yang diakibatkan oleh Ulah Tangan Manusia”. Gambar Kren dan Gedung Rektorat Perta
nyaannya kemudian, “di mana?” jawabannya, tentu saja di kampus UIN SGD Bandung. Sebab kalimat SUAKA berwarna putih yang tertera paling atas di cover majalah telah implisit bermakna UIN SGD Bandung.


Dari sini mari kita masuk ke pesan yang sifatnya khusus yang membuat majalah ini melalui covernya tidak sedang menghayal. Karena tiga tanda yang telah saya uraikan diatas belum cukup menampung makna (petanda) yang sifatnya khusus. Apa yang kemudian membuat cover ini bicara soal-soal yang sifatnya khusus adalah Gambar Kren dan Gedung Rektorat.


‘Orang-orang UIN Bandung’ sudah pasti tahu gambar gedung yang tertera di cover majalah Suaka adalah gambar gedung rektorat. Dan mereka juga sudah pasti tahu (kecuali yang tidak mencari tahu) bahwa di UIN SGD Bandung sedang ada proyek pembangunan. Dalam hal ini maka  Gedung Rektorat berarti penanda khusus yang semakin mengukuhkan tiga tanda di atasyang telah diuraikan.


Telah disampaikan bahwa tiga tanda yang dibahas diawal berbicara, “Ada bencana yang disebabkan oleh ulah tangan manusia,”. Dari pesan implisit itu yang masih bersifat umum setidaknya kita bias mengajukan dua pertanyaan yang membuat cover ini sedang bicara soal-soal yang spesifik. Pertanyaan itu ialah; “Manusia mana?” “Bencana apa yang dimaksud?”. Ini bisa dijawab ketika kita saling merelasikan lima tanda yang terhampar di cover majalah Suaka : Warna Dominan (Orange).


Kalimat Utama Cover (yang Tersangkut di Gedung Rektorat), Gambar manusia, Gambar Kren, Gambar Gedung Rektorat.


Pertanyaan pertama, “manusia mana?” bisa kita jawab dengan melihat penanda kalimat (yang Tersangkut di Rektorat), Gambar gedung rektorat, dan Gambar orang. Dari tiga penanda ini sudah cukup menjawab manusia mana, yaitu manusia yang berkantor di gedung rektorat UIN SGD Bandung.


Pertanyaan kedua, “bencana apa yang dimaksud?” bisa kita jawab dengan melihat penanda gambar kren, dan warna dominan orange). Gambar kren sebagai penanda dari pembangunan menjelaskan petanda dari penanda warna dominan (yaitu bencana). Dari situ kita bisa menjawab bahwasannya bencana yang dimaksud adalah bencana pembangunan. Jika lima tanda itu kemudian kita rangkai, maknanya kira-kira menjadi seperti ini, “bencana pembangunan disebabkan oleh ulah tangan manusia (yang tersangkut) yang berada di gedung rektorat”.

 

 

*Penulis adalah mahasiswa jurusan Aqidah Filsafat, Fakultas Ushuludin UIN SGD Bandung, aktif di LPIK.

 

 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas