Kampusiana

Budiman Sudjatmiko ‘Anak-Anak Revolusi’

[Suakaonline] – Auditorium Universitas Islam Negri Sunan Gunung Djati Bandung kedatangan tamu dari Jakarta Jum’at kemarin (24/1). Ia adalah Budiman Sudjatmiko yang saat ini menjabat sebagai komisi II DPR. Ia diundang oleh BEM-J KPI dalam acara bedah buku barunya yang berjudul ‘Anak-Anak Revolusi’. Dalam kesempatan ini, juga BEM-J KPI bekerja sama dengan DEMA untuk melaksanakan program kerjanya yaitu bedah buku. “bedah buku adalah salah satu dari rangkaian acara KPI summit, ulang tahun KPI” Ungkap Ridho M Firdaus sebagai ketua OC. Acara sendiri dibuka langsung oleh Wakil Rektor IV, Muhammad Najib secara simbolik. Selain mahasiswa UIN, acara ini juga dihadiri oleh mahasiswa dari kampus lain seperti UNPAD dan UPI.


Budiman sendiri adalah seorang aktifis pada masa reformasi. Pengalaman dan kegelisahannya ia tuangkan dalam sebuah buku autobigrafi yang diterbitkan tahun 2013. Ridho menjelaskan buku ini dipilih karena dapat memotivasi mahasiswa agar dapat membangun jiwa perjuangan. Mahasiswa haru lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Hal serupa juga diungkapkan oleh ketua DEMA, Fakhru Roji Ishak bahwa lewat buku ini mahasiswa sebagai agent of change, dapat memiliki jiwa yang kritis untuk membangun negara agar lebih baik. “Mahasiswa bisa melakukan perubahan-perubahan melalui gerakan agar negara lebih baik lagi” Tambahnya.


Buku ini menceritakan tentang masa kanak-kanak dan remaja Budiman yang memiliki banyak pertanyaan dan kegelisahan tentang sistem yang ada. Ia mulai mencari jawaban dengan membaca buku-buku yang pada saat itu dilarang. Darisanalah ia mendapat jawaban atas pertanyaannya selama ini, ada yang tidak benar dalam sistem pemerintahan pada masa itu.


Setelah itu ia melakukan gerakan untuk melawan pemerintah yang membuatnya sempat tinggal dibawah jeruji besi. “Buku ini tentang pemberontakan bagaimana kita melawan hal-hal yang pada saat itu hanya akan merugikan rakyat” Papar Budiman. Ia juga menjelaskan bahwa gerakan yang dilakukan untuk mengubah sistem, pola fikir yang banyak merugikan pada masa itu pemberontakan adalah salah satu caranya.


“Kisah Mas Iko (panggilan Budiman, red) mengajarkan kepada kita bahwa idealisme dapat diaktualisasi dan menjadi realitas walaupun harus berhadapan dengan resiko” tulis Rohmanur Aziz, dosen KPI dalam esai tanggapannya terhadap buku ‘Anak-Anak Revolusi’. Budiman juga menjelaskan bahwa Idealisme mahasiswa, tidak harus sama seperti dulu namun tergantung pada zamannya. Jika dulu harus ada pemberontakan, sekarang tinggal menjaga dan mengisi kebebasan itu.


 

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas