Lintas Kampus

Tri Joko Her Riadi : Wawancara Adalah Seni

Perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Tri Joko Her Riadi (kanan). Saat sedang menyampaikan materi mengenai seni mewawancarai dalam kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Menengah (PJTM), yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung (FKPMB) di Gedung Diklat Koperasi UKM Perindustrian Perdagangan, Cigondewah, Bandung, Sabtu (3/12/2016). (SUAKA / Hasna Salma)

Perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Tri Joko Her Riadi (berdiri), saat menyampaikan materi mengenai seni mewawancarai dalam kegiatan Pelatihan Jurnalistik Tingkat Menengah (PJTM), yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung (FKPMB) di Gedung Diklat Koperasi UKM Perindustrian Perdagangan, Cigondewah, Bandung, Sabtu (3/12/2016). (SUAKA / Hasna Salma)

SUAKAONLINE.COM, Bandung – Perwakilan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Tri Joko Her Riadi mengatakan bahwa wawancara adalah seni. Karena melibatkan lebih dari satu orang yang memiliki latar belakang dan kepentingan yang berbeda. Menurutnya, setiap wawancara memiliki sifat yang unik. Selain informasi, hal yang dapat diperoleh dari wawancara adalah konfirmasi dan pengakuan dari narasumber.

“Banyak hal yang bisa didapatkan dari wawancara dan itu sangat bermanfaat tidak hanya dalam menulis berita, tapi juga dalam keseharian kita,” ujar Joko saat memberikan materi dalam Pelatihan Jurnalistik Tingkat Menengah (PJTM) yang diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Pers Mahasiswa Bandung (FKPMB) di Gedung Diklat Koperasi UKM Perindustrian Perdagangan, Cigondewah, Bandung, Sabtu (3/12/2016).

Joko juga memaparkan bahwa terdapat tiga tahap dalam membuat berita jurnalistik. Pertama adalah tahapan sebelum wawancara. Hal yang harus disiapkan ketika akan melakukan wawancara yaitu pertanyaan. Kemudian, siapkan rekaman  agar didapatkan bukti yang otentik untuk sumber berita yang akan ditulis.

Tahapan kedua yaitu saat wawancara. Didalam tahapan ini, diperluka rasa nyaman dan memberikan kesan hangat kepada narasumber. Karena narasumber merupakan sumber dari berita, maka narasumber harus berada dalam suasana senyaman mungkin agar data yang didapat lebih akurat.

Selain itu, menurut Joko, pertanyaan terbuka sangat diutamakan agar narasumber dapat memberikan banyak informasi. Dalam tahapan ini, melakukan kontak mata dan memperhatikan gerak serta detail ekspresi narasumber merupakan hal yang paling penting. Dari kedua hal terakhir ini, wartawan akan mengetahui bagaimana kondisi yang sedang dirasakan oleh narasumber saat itu.

Baca juga:  Pikiran Rakyat Menolak Gugatan yang Diajukan Zaky Yamani

“Ditahap ketiga, atau tahapan setelah wawancara. Usahakan tulis transkrip sesegara mungkin, hal ini dilakukan bukan hanya untuk menghindari lupa. Tapi juga agar wartawan bisa secara fresh menggambarkan kondisi dan situasi yang baru saja tejadi. Setelah ditulis pilihlah data yang menurut kita penting, karena tidak semua informasi yang didapatkan harus dimasukkan kedalam tubuh berita,” tambah Joko.

Jika data telah terpilih, maka data tersebut dapat diekspresikan kedalam tulisan deskripsi dan kutipan. Kemudian, cek kembali akurasi data sebelum diterbitkan, agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisan akibat tidak mengecek akurasi data yang ada.

Reporter : Hasna Salma

Redaktur : Edi Prasetyo

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas