" > 3 mnt membaca"> Hukum Menulis: Fardlu’ain! - Suaka Online
Opini

Hukum Menulis: Fardlu’ain!3 mnt membaca

Oleh Totoh Tohary


Bagi mahasiswa, menulis bukan hanya kebutuhan melainkan juga suatu kewajiban. Lalu, kenapa harus menulis? Barangkali itulah pertanyaan yang ada dibenak Anda.


Bila diibaratkan, mahasiswa itu bak seorang petani. Sama-sama punya “lahan”, sama-sama punya “garapan”. Tapi, perbedannya sangat tipis. Seorang petani akan dikatakan sebagai petani, jika ia sudah mencangkul kebunnya. Demikian pula mahasiswa. Ia akan disebut mahasiswa, kalau sudah mencangkul “kebunnya”.


Pertanyaanya, apakah kebun sang agent of change itu sama seperti petani? Jawabannya tentu bukan tanah, atau sebidang sawah. Tetapi, “menulis”. Itulah yang disebut Guru Besar Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Profesor Asep Saepul Muhtadi sebagai “kebunnya” mahasiswa.


Sebab, pembeda utama kaum mahasiswa dengan kaum lainnya ialah—salah satunya—dengan karya ilmiah berupa tulisan. “Kalau mahasiswa tidak pernah nulis, enggak usah jadi mahasiswa, mending jualan gehu pedas saja. Jelas-jelas dapat uan,.” pungkasnya, sambil tersenyum bernada satire, ketika memberikan pelatihan penulisan mahasiswa belum lama ini.


Memang benar. Bagi kaum intelektual sekelas mahasiswa menulis hukumnya fardlu‘ain, wajib tanpa kecuali. Sebuah keniscayaan bagi setiap mahasiswa, agar mau dan bisa menulis. Terlepas, “genrenya” mau seperti apa. Sebab, mahasiswa adalah “gudangnya gagasan,” tegas sang penulis hebat, yang akrab disapa Kang Samuh.


Hal terpenting bagi mahasiswa, ia mampu mencurahkan gagasanya dalam produk ilmiah, berupa tulisan. Pasalnya, sang agen perubahan, dituntut tidak sebatas fasih berbahasa lisan, tetapi perlu juga fasih dalam bahasa tulisan. Boleh jadi, kita tidak pernah bertemu Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Al-Kindi ataupun penulis hebat lainnya. Tetapi, lewat tulisannya, kita diberi ruang untuk bercengkrama dengan mereka. Walaupun jasadnya sudah tiada, karya-karya mereka masih tetap hidup sampai detik ini. Hal demikian pun mungkin saja terjadi pada kita. Boleh jadi, tulisan kita hari ini tidak dilirik orang. Siapa tahu sepuluh, duapuluh atau limapuluh tahun ke depan, tulisan itu dijadikan rujukan layaknya karya-karya hebat sekelas Al-Ghazali dan kawan-kawan.


Selain itu, ketika (mau belajar) jadi penulis, pada hakikatnya sekaligus menjadi “pembaca”. Ibarat kata, ketika akan menuangkan air dari teko ke dalam cangkir. Tidak mungkin menuangkan air, jika tekonya kosong. Menulis pun demikian. Bila Anda merasa bingung apa yang harus ditulis, maka solusinya dahulukan membaca. Dengan membaca, sedikitnya ada “air” yang bisa ditampung. Apalagi ditunjang dengan referensi yang melimpah. Sudah tentu akan membantu menampung dan menuangkan “air” yang banyak.


Pada saat yang sama, belajar menulis juga akan mengajarkan menjadi pribadi yang bijak. Sedikit demi se
dikit, kita akan paham mana tulisan yang bermutu dan tulisan yang “ngasal”. Bahkan, tidak menutup kemungkinan, Anda berpotensi menjadi seorang analitis handal. Tentu, setelah jam terbang bacaan dan tulisan kita mumpuni.


Seperti yang saya temukan dalam buku kontroversial, Prof. Dr. Nurcholish Madjid, Jejak Pemikiran dari Pembaharu sampai Guru Bangsa. Terlepas dari isi yang diperdebatkan, penulis melepaskan diri dari semua itu. Buku setebal 416 halaman itu, menyajikan banyak pandangan, kritik, masukan, hingga apresiasi kepada Cak Nur. Terkait gagasan-gagasan barunya yang dianggap nyeleneh. Entahlah.


Namun dari sekian sub judul yang disajikan, “menu” karya M. Wahyuni Nafis yang cukup menggiurkan. Tulisan berjudul Kekeliruan dalam “Kekeliruan” ini, selain enak dibaca, juga mengajarkan jadi seorang bijak dalam berpendapat. Dibeberkan satu pandangan dari Abdul Qadir Djaelani (QD) terhadap karya Nurcholish Madjid (NM).


Menurut Nafis, tulisan QD dianggap kurang santun. Terutama, dalam penyampaian sanggahan ataupun pendapat yang tidak sejalan dengan NM.


“Saya kira siapa pun sepakat bahwa gagasan yang dilontarkan oleh seseorang atau sekelompok, tidak mungkin bisa diterima oleh semua kelompok orang. Mengingkari hal ini, berarti sama halnya dengan menghilangkan kebebasan manusia” ujar Nafis (Nurcholish Madjid, 2003:129).


Sebagai warga yang demokratis, sah-sah saja berbeda pendapat. Namun tentu, dalam perbedaan itu sejatinya ada garis penengah indikasi saling menghargai antarsesama.


Di mata Nafis, tulisan QD yang lemah mengkritisi gagasan NM yang (dianggap) ngawur, sudah seperti dialog ayam dan bebek, enggak nyambung. Sehingga, dikukuhkanlah pandangan Nafis itu dalam bahasa yang lebih santun, Kekeliruan dalam “Kekeliruan”. Kisah selengkapnya, silakan baca bukunya.


Kembali pada topik awal, sekali lagi bahwa menulis itu penting. Jikalau dibutuhkan landasan filosfisnya, sabda Rasulullah saw Falyaqul khoir au yasmut—berbicara baik atau diam—bisa menjadi penguat. Tuangkanlah gagasan berlian Anda dalam tulisan. Sehingga orang lain kenal dan tahu kualitas pribadi Anda lewat jendela tulisan.


*Penulis adalah mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Humas


Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas