" > 5 mnt membaca"> Kampoeng Batara, Solusi Merawat Tradisi - Suaka Online
Lintas Kampus

Kampoeng Batara, Solusi Merawat Tradisi5 mnt membaca

Ilustrasi: Siti Hannah Alaydrus/Suaka

SUAKAONLINE.COM – “Ingin menumbuhkan minat baca bagi anak-anak dan masyarakat di lingkungan Kampoeng Batara. Karena itu Kampoeng Baca Taman Rimba (Batara) didirikan.”

Itulah keinginan Widie Nurmahmudy, pria kelahiran 1979 ini adalah petani sekaligus relawan di organisasi sosial yang bergerak di bidang persampahan. Kampoeng Batara yang terletak di daerah Papring, Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi ini ia dirikan sejak Oktober 2014 lalu bersama sang istri, Novita.

Mulanya Cak Wiwi, begitu ia disapa, menjadikan halaman rumahnya sebagai tempat belajar untuk anak-anak yang tidak mengenyam pendidikan formal. Lingkungan yang asri dan jumlah anak yang masih terhitung jari membuat suasana belajar semakin nyaman.

“Kita ingin anak-anak di sini juga memiliki kepercayaan diri dengan meningkatkan kualitas dirinya, yang dimulai dengan minat membaca.”

Banyuwangi kaya akan kebudayaan dikarenakan masyarakatnya yang juga beragam. Seperti kebudayaan masyarakat Using atau Osing yang juga kerap disebut sebagai Wong Blambangan. Kebudayaan yang masih terjaga hingga saat ini di antaranya adalah Tumpeng Sewu, Barong Ider Bumi, Tari Seblang, dan Tari Gandrung.

Sekretaris Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (Aman) PD Using Wiwin Indiarti menyampaikan bahwa Blambangan adalah daerah di mana Jawa dan kepentingan politik Bali sering bertemu dan bersinggungan. Terlepas dari tetangga yang kuat dan sering mendominasi, Blambangan selalu mampu mempertahankan dan menciptakan identitas budayanya.

“Realitas tersebut menjadi salah satu sumber pembentukan penciptaan seni, tradisi dan budaya yang khas di Banyuwangi.”

Lebih lanjut, Mbok Wiwin sapaan akrabnya, menjelaskan kemunculan istilah Using ini merupakan babak baru dalam pengidentifikasian entitas orang Banyuwangi asli. Pada paruh awal abad ke-20 mulai muncul istilah Using yang dicatat oleh beberapa sarjana Belanda sebagai penyebutan untuk orang asli Banyuwangi. Selain itu, Using pun disebut indigenous people Banyuwangi yang dibentuk pada era kolonial di awal tahun 1920 lalu.

Baca juga:  Tabligh Akbar Dema FST: Pemuda yang Dirindu Syurga

“Konstruksi Using mulanya dibentuk pada era kolonial di awal tahun 1920. Menggeliat di pertengahan tahun 1970 dan berkembang hingga saat ini,” sambungnya.

Berangkat dari kesadaran tentang kondisi pendidikan anak-anak di Papring yang pada saat itu kurang percaya diri untuk mengembangkan Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM), Cak Wiwi memutuskan untuk melakukan sesuatu.

Saat itu ketidakpercayaan diri anak-anak di Papring menyebabkan sebagian besar dari mereka memutuskan untuk bekerja keluar daerah dan menjadi buruh. Hal tersebut berdampak pada anak-anak yang berada di Papling kurang menadapat perhatian orang tua termasuk pendidikan.

“Hal ini membuat anak-anak ada yang terlibat membantu orang tua seperti menjaga kebun, sehingga banyak yang putus sekolah, bahkan menikah di usia dini,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Cak Wiwi menjelaskan bahwa ide terbentuknya nama Kampoeng Baca Taman Rimba adalah untuk menumbuhkan minat baca bagi anak-anak dan masyarakat di lingkungan Kampoeng Batara. Selain itu, pengenalan dan pelestarian permainan tradisional menjadi materi dasar dalam upaya mengurangi kecanduan gadget bagi anak-anak. Serta lokasi ruang belajar yang berbatasan dengan hutan diharapkan mampu untuk mencintai lingkungan sekitar.

“Sebelum adanya Kampoeng Batara, anak-anak memilih berhenti sekolah, lalu bekerja, bahkan menikah,” jelasnya saat diwawancarai melalui WhatsApp, pada Sabtu, (14/11/2020).

Tetapi saat ini, terutama anak perempuan, telah banyak yang melanjutkan sekolahnya ke tingkat SMP atau sederajat, karena pemahaman orang tua tentang pentingnya pendidikan mulai terbuka. Metode pembelajaran yang diterapkan selama empat tahun pun telah berhasil mengurangi angka putus sekolah dan pernikahan dini.

“Sebelum adanya Kampoeng Batara, anak-anak banyak yang berhenti sekolah, memilih bekerja, parahnya lagi menikah,” kenangnya.

Tantangan, Prestasi, dan Implementasi Pendidikan di Kampoeng Batara

Baca juga:  Tabligh Akbar Dema FST: Pemuda yang Dirindu Syurga

Sebagai komitmen untuk menjaga kemandirian berfikir dan berproses dalam pembelajaran, sekolah adat Kampoeng Batara tidak mencari dukungan dan berkolaborasi dengan pemerintah, termasuk menerima bantuan.

“Kami juga berkomitmen untuk tidak menerima bantuan dari pemda, sehingga kegiatan yang dilaksanakan pun tidak terkontaminasi dengan sistem pemerintahan,” ungkapnya.

Meski begitu, kegiatan yang diselenggarakan oleh Kampoeng Batara dijadikan indikator Kabupaten Layak Anak oleh pemerintah Banyuwangi pada tahun 2018-2019.

Selain itu, Cak Wiwi menyampaikan bahwa Kampoeng Batara juga pernah mendapatkan penghargaan Inovator di Bidang Pendidikan dari Pemerintah Daerah Banyuwangi pada tahun 2018 dan penghargaan Sahabat Pendidikan Masyarakat oleh Dinas Banyuwangi pada tahun 2019.

Prestasi yang telah dicapai pun tidak lepas dari masyarakat sekitar dan pemuda Papring dalam menjalankan keberlangsungan pola pendidikan di Kampoeng Batara.

Mekanisme pembelajaran yang disampaikan merupakan hasil dari diskusi, dan materi wajib yang diterapkan adalah membaca. Sehingga ketika anak-anak selesai membaca, dilanjut dengan diskusi dan presentasi.

“Hal ini dilakukan sebagai upaya membangun kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab atas kegiatan yang telah dilaksanakan, termasuk dengan ide-ide, saran, dan kritik yang disampaikan.”

Sebagai wujud pengimplementasian dari hasil pembelajaran, setiap pekan sekolah adat membentuk kelompok dengan latar belakang yang berbeda, kelas berbeda, serta usia yang berbeda. Agar terbangunnya kerjasama dan saling mengajarkan satu sama lain. Seperti kegiatan gotong royong, memainkan permainan tradisional, bercocok tanam, teko seliro, saling menghargai, dan saling mendukung satu sama lain.

Salah seorang pemuda di Papring, Tamam Fauzi, menyampaikan bahwa sekolah adat tersebut tidak bisa dilepaskan dari pemuda yang merupakan penerus yang akan melestarikan adat budaya di lingkungan tersebut.

“Kami menyebutnya nguri-nguri budoyo atau melestarikan budaya,” ujarnya.

Baca juga:  Tabligh Akbar Dema FST: Pemuda yang Dirindu Syurga

Selain itu, pemuda pun ikut andil ketika mengikuti kegiatan budaya dan tradisi yang bertujuan untuk tetap melestarikannya.

Dengan adanya sekolah adat tersebut, Tamam pun mengungkapkan adanya dampak bagi para pemuda agar tidak hanya bermain gadget, tetapi mengenalkan tradisi-tradisi yang telah diwariskan oleh para leluhur. Dengan adanya sekolah adat ini menarik banyak kunjungan, baik dari akademisi, ataupun komunitas yang ada di luar lingkungan Kampoeng Batara, dari berbagai kunjungan tersebut, para pemuda bisa bersosialisasi dan mendapatkan ilmu baru.

Cak Wiwi pun berharap semoga di setiap kampung ada kegiatan seperti di Kampoeng Batara, yang bertujuan untuk mencerdaskan anak bangsa sesuai dengan potensi yang ada. Keberadaan sekolah adat juga akan membantu mengembalikan orang-orang yang lahir dari kampung untuk kembali pulang ke kampungnya. Untuk membangun dan menjaga tradisi kampung.

“Karena kita tahu, semakin pintar seseorang yang sekolah formal maka semakin jauh dari kampungnya,” tambahnya.

*Tulisan ini bagian dari program Workshop Pers Mahasiswa yang digelar Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) kerja sama dengan Friedrich-Naumann-Stiftung für die Freiheit (FNF) dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Reporter: Anisa Nurfauziah/Suaka

Redaktur: Awla Rajul/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas