" > 2 mnt membaca"> Masjid Cipaganti, Saksi Bisu Sejarah Indonesia - Suaka Online
Lintas Kampus

Masjid Cipaganti, Saksi Bisu Sejarah Indonesia2 mnt membaca

Dok. Internet

Dok. Internet

SUAKAONLINE.COM, Bandung – Masjid Raya Cipaganti adalah salah satu masjid tertua di Kota Bandung. Keberadaannya bak saksi bisu sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Masjid yang berdiri pada 7 Februari 1933 merupakan tempat bersejarah bagi presiden pertama RI, Soekarno. Konon, masjid tersebut merupakan tempat pembicaraan penting Presiden Soekarno saat berada di Bandung.

Masjid Raya Cipaganti juga pernah dijadikan markas tentara Pembela Tanah Air (PETA).
“Bung Karno sering ke sini ketika berada di Bandung. Kemudian Panglima TNI AH Nasution juga,” ujar Pengurus DKM Masjid Cipaganti, Adang Suryana saat ditemui beberapa waktu lalu.

Masjid ini dirancang oleh arsitek Belanda Charles Prosper Wolff Schoemaker, yang juga merupakan arsitek Hotel Preanger dan Villa Isola, dibantu Het Keramische Laboratorium Bandung (sekarang Balai Besar Keramik). Diresmikan oleh Bupati Bandung R Tumenggung Hassan Sumadipradja bersama Patih Bandung R Wirijadinata dan Penghulu Bandung H Abdoel Kadir

Arsitektur Masjid ini bercorak Jawa dan Eropa. Corak Jawa pada masjid itu terlihat dari penggunaan atap tajug tumpang dua. Sementara corak Eropa, terlihat dari pemakaian kuda-kuda segi tiga yang berfungsi untuk penyangga atap.

Hingga saat ini, masjid tersebut memang sudah masuk dalam bangunan cagar budaya kota Bandung. “Ini kan masjid bersejarah, Alhamdulilah udah masuk cagar budaya Bandung juga,” ujar Ahmad.

Masjid Cipaganti telah beberapa kali mengalami renovasi. Walau begitu, bangunan pokok masjid sejak pertama dibangun tetap ada. Bangunan masjid pertama itu menjadi bagian tengah masjid sekarang. Kaligrafi di pintu masuk, kalimat hamdalah di sokoguru, plafon, dan desain interior tetap dibiarkan seperti sejak 1933.

Lampu ukuran besar juga masih digunakan dan digantung di tengah bangunan utama masjid. Selain pada 1965, perombakan juga terjadi pada 1979. “Kita sengaja tidak pugar semuanya, untuk mempertahankan nilai sejarahnya,” kata Ahmad.

Baca juga:  Dilema Peraturan Pemerintah Mengenai Hak Cipta Musik

Saat ini, tidak hanya terdapat bangunan masjid. Di area Masjid Raya Cipaganti juga berdiri TK Alquran, sekretariat DKM dan kantor biro perjalanan haji dan umrah.

Pada bulan Ramadan, masjid makin ramai. Beberapa kegiatan, mulai tarawih berjamaah, tadarus Alquran, salat, dan ceramah Subuh, iktikaf, takjil gratis, buka bersama, sampai bazar buku, hingga pelatihan pemulasaraan jenazah. Menjelang Idul Fitri, madjid menyediakan zakat fitrah dan sholat Idul Fitri.

Ahmad berharap masyarakat dapat selalu menjaga masjid bersajarah di Kota Bandung. “Pada masyarakat bandung untuk terus memakmurkan masjid, dilingkungan mereka dan menjaga masjid-masjid bersejarah di Kota Bandung agar terus terjaga dan terawat,” kata Ahmad.

Reporter: Robby Darmawan

Redaktur: Isthiqonita

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas