Kolom

Pintu Aksesibilitas yang Membuka Peluang Kriminalitas

(Ilustrasi oleh: Yazid Rizki Agung/Suaka).

Oleh: Fauqi Muhtaromun Nazwan*

Kampus kita ini memang unik. Bagi pengguna kendaraan bermotor seperti saya, hanya ada satu gerbang yang bisa kita lewati. Utamanya di kampus 1, lain halnya kampus 2, lalu lalang kendaraan masuk lewat jalur utama dan memang tak ada lagi jalur yang bisa dilewati. Jika sedang ramai sering kali mengganggu pengguna jalan lainnya, lalu lintas tersendat, kendaraan dari arah Cicaheum perlu bersabar menunggu mahasiswa menyebrang jalan. Sabarnya juga bukan main hingga bunderan Cibiru.

Belum lagi ketika acara besar di Kampus 1 UIN Bandung, entah itu pelepasan wisuda, hingga pelaksanaan budaya pengenalan mahasiswa baru atau biasa kita sebut PBAK, dan acara-acara lainnya. Kampus memang berada dalam jalan raya yang cukup menukik, kadang kencangnya laju kendaraan bukan main, tak jarang pula menimbulkan banyak kecelakaan yang terjadi di depan kampus.

Apakah fenomena kemacetan ini akan terus terjadi? Oh tentu saja, sampai kapanpun pengendara motor seperti saya akan selalu menerima kenyataan tersebut. Tapi dibalik kampus yang pelit memberikan akses kepada para pengendara, pihak birokrasi rasanya memiliki kecerdikan untuk mengakalinya. Kenapa saya sebut fenomena ini akan bersifat permanen? Salah satunya ialah nihilnya pembangunan untuk akses kendaraan di kampus 1, sebab urbanisasi sepertinya mengecilkan tingkat keleluasaan kampus dalam pembangunan.

Walaupun saya harap tetap ada jalan keluar, dan jika saya kembali ke kampus yang sebetulnya tidak terlalu saya sukai, sedikitnya ada harapan untuk menempatkan bujur kendaraan yang akan saya bawa. Nah, kecerdikan yang dilakukan oleh pihak kampus tadi ialah adanya pintu-pintu kecil untuk memudahkan mahasiswa menuju ruang kelas. Saya lebih suka menyebutnya pintu doraemon, fungsinya sederhana memudahkan aksesibilitas mahasiswa bagi mereka yang memilih untuk jalan kaki.

Karna kesediaan pintu ini memang dibutuhkan. Konkritnya bagi mereka yang tak ingin setengah mati berjalan dari gerbang utama, sisi lain bagi kami yang ingin mengisi kekosongan perut, ada bilik-bilik yang menyediakan konsumsi dengan dana sesuai dengan kocek mahasiswa. Jadi tak perlu repot bagi mahasiswa yang tak punya kendaraan, pintu ini sangat aksesibel, siapa saja bisa masuk secara leluasa asalkan tak melebihi batas waktu yang telah disepakati (oleh pihak keamanan kampus).

Pintu Sempit Pembuka Rezeki Seluas Old Trafford

Ada sekitar 3 jalan pintas bagi mahasiswa yang ingin ke ruang kelas. Satu, pintu yang mengarah langsung menuju daerah Manisi, letaknya di belakang gedung Fakultas Saintek. Kedua, berada di area dibawah pohon rindang (DPR) yang posisinya dekat dengan Fakultas Adab dan Humaniora, dan Fakultas Psikologi. Ketiga, yang saya tau letaknya berada dekat Mahad Al-Jami’ah, yang sekarang sudah ditutup kiranya begitu yang diliput oleh rekan saya Yopi Muharam.

Ketiga pintu ini memang tak luas, mungkin cukup sekitar dua orang dewasa dengan posisi pergi-pulang menuju kampus. Betul, cukup sempit memang. Dibalik itu semua pintu ini banyak menghidupi masyarakat sekitar dan kami mahasiswa. Banyak pedagang berjualan disekitar sana, para penyedia akses dunia printing dan fotocopy juga bertebaran, bahkan berdampingan sekitar lima langkah. Warteg penyedia sumber pokok mahasiswa berserakan. Pintu ini membuka peluang bagi siapa saja yang tengah berjuang dengan menjajalkan apa yang mereka punya.

Tak ketinggalan, bagi para penyedia kos-kosan sangat diuntungkan. Mereka biasanya menyewakan dengan harga yang ’sedikit’ lebih mahal lewat alasan ”pulang-pergi kampus, hanya 5 menit.” Sebagian rela mengeluarkan biaya tersebut. Maka tak heran, pintu ini memang sangat leluasa. Pintu dengan aksesibilitas tanpa batas inilah juga mengundang hadirnya kriminalitas yang terjadi di lingkungan kampus.

Pintu-pintu kecil ini memang tidak terkendali. Dengan keadaan mahasiswa yang begitu padatnya, siapa saja bisa masuk dengan identitasnya yang asing. Sedikit saja lengah, bisa saja terjadi kehilangan. Sempat disinggung lewat liputan di Suaka, jalan pintas di Mahad Al-Jami’ah ditutup karna maraknya kehilangan di tempat tersebut. Barang yang hilang berupa tiga monitor, satu laptop dan handphone. Pihak Mahad kemudian meminta kampus untuk menutupnya.

Menyoal Garis Keamanan Kampus

Keamanan di kampus ini saya bisa bilang top-markotop. Walaupun tak menutup kemungkinan maraknya pencurian. Ada 12 unit motor hilang di tahun 2019-2020 menurut liputan Suaka.  Kita semua bahkan tidak asing dengan orang-orang yang memang terlihat ’seperti’ mahasiswa. Misalkan adanya pedagang-pedagang yang sering memenuhi pelataran Masjid Kampus 1 (sekarang pindah samping Gedung Language Center), bahkan belum lama ini saya melihat ada pengamen di depan gedung perkuliahan.

Jelas bukan hal itu yang ingin saya persoalkan. Tapi ini bukti nyata keberadaan pintu tersebut memang mengundang aksi-aksi kriminalitas, juga dalam momen-momen tertentu. Bahaya sangat jelas mengancam. Sadar atau tidak memang bisa jadi inilah penyebab banyaknya kehilangan sepeda motor, helm, hingga barang-barang lainnya di kampus. Bagi saya gerbang utama pun punya kemudahan akses bagi semua orang, dan semua orang bahkan sepakat atas hal itu.

Apakah hal ini pada akhirnya mengharuskan kita menyudutkan pihak keamanan kampus? Konklusinya bukan demikian. Sebab pihak keamanan juga sudah berupaya keras menghalau orang-orang yang patut dicurigai. Bahkan tak jarang, saya menemui mereka tengah mondar-mandir memastikan situasi aman terkendali. Lagi-lagi tak semua persoalan langsung mengarah pada penanggung jawab yang ditugaskan, sebab kita semua pada kasus ini memiliki perannya masing-masing.

Peran mahasiswa juga dituntut saat ini. Apakah mungkin mahasiswa abai? Loh, pihak keamanan di tahun 2022 juga memberikan pernyataan setidaknya ada sekitar 15 kunci motor yang nyantel begitu saja.  Ini berarti kesadaran akan abainya menjaga barang pribadi juga masih ada, walaupun saya tau manusia tempatnya salah dan lupa. Tapi bukan berarti bisa seenaknya menyimpan barang di tempat yang kita tak pernah tau akan mengundang mereka pelaku kriminalitas.

Walaupun dengan ditambahnya sistem keamanan CCTV juga tak menyurutkan semangat para pencuri. Teknologi memberikan kemudahan bagi manusia, bukan berarti manusia harus membuang akalnya dalam berikhtiar. Bahkan jika pemeriksaan kendaraan motor lewat sistem parkir elektronik dilakukan, yang ada hanya menimbulkan masalah baru berupa kemacetan bagi umum.

Dengan ditutupnya jalan pintas tersebut bisa jadi solusi? Sayangnya juga tidak. Berkali-kali saya bilang dan pembaca mungkin mengalami kemudahan akses ini. Sekalipun diberlakukan sistem check identitas manual di jalan pintas tersebut, mungkin banyak mahasiswa yang berkomentar sebab terlambat masuk ruang kelas. Saya pun sangat tidak merekomendasikan, dengan ditutupnya pintu-pintu kecil ini dimana lagi saya harus berharap kala perut tengah keroncongan.

Jelasnya, dalam menanggapi fenomena kriminalitas yang semakin marak perlu upaya yang dilakukan oleh tiap individu mahasiswa. Entah sekedar melaporkan pada pihak keamanan jika ada sesuatu yang mencurigakan, atau bahkan sadar akan hal disekitar ruang-ruang yang dipadati oleh lalu-lalang mahasiswa. Untuk itu keterlibatan semua pihak untuk menangkis segala bentuk kriminalitas di kampus, perlu semua komponen termasuk pihak birokrasi kampus sendiri. Saling rembuk bisa dilakukan, sosialisasi agar terus berhati-hati terhadap kriminalitas juga diupayakan, jangan sampai kita menutup pintu-pintu kecil berharga bagi perputaran kehidupan.

*Penulis merupakan mahasiswa semester tujuh Jurusan Hukum Tata Negara Fakultas Syari’ah dan Hukum dan Kepala Multimedia LPM Suaka 2023

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ke Atas