Infografik

Tahun Politik Global, Gejolak Konflik Kekerasan

 

SUAKAONLINE.COM, Infografis – Media Amerika Serikat (AS), Time mengumpulkan informasi tentang Pemilihan Umum (Pemilu) di belahan negara pada tahun 2024. Time merangkum setidaknya ada 64 Negara yang menyelenggarakan pemilihan, terdiri dari Pemilihan Presiden, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), senat, majelis nasional dan parlemen. Sebab itu, tahun 2024 dikenal tahun politik dunia yang memiliki pengaruh besar, terutama terhadap konflik kekerasan. 

Konflik kekerasan di dunia terjadi karena perseteruan antar negara, blok, kelompok dan kekuatan militer. International Crisis Group melaporkan bahwa sejak 2012 silam, eskalasi konflik muncul di daerah Libya, Suriah dan Yaman respons peristiwa Arab Spring 2011. Ini menjadi pangkal setelah penurunan konflik di tahun 1990-an hingga awal tahun 2000. Gelombang konflik mulai merebak: Perang Azerbaijan – Armenia 2020; Perang Tigray di Ethiopia; Junta Militer Myanmar 2021; Perang Rusia – Ukraina 2022; Penyerangan Gaza dan konflik Sudan 2023. 

Seluruh konflik tersebut tidak lepas dari namanya politik, kekuatan Barat yang dihegemoni AS sepanjang dua tahun terakhir memperlihatkan pengaruhnya pada bantuan militer ke Ukraina dan Israel. Jelang Pemilu, negeri Paman Sam itu tak ayal lagi terguncang oleh beratnya persaingan antara petahana partai Demokrat, Joe Biden melawan Donald Trump dari partai Republik. Pasalnya, jajak pendapat Trump menurut lembaga FiveThirtyEight mewakili Republik mencapai 76,7 persen per 3 Maret 2024. 

Negara negara barat takut apabila Trump kembali berkuasa. Karena dikhawatirkan Trump akan membawa AS berpihak kepada Rusia dan China, sehingga mengabaikan sekutu Uni Eropa. Mengutip kompas.id, peneliti Studi Strategis dan Pertahanan Australia National University, Matthew Sussex menyebut kemenangan Trump memicu anti-demokrasi Eropa, keluar dari Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), menyetop bantuan militer, dan memblokir perbatasan dengan Meksiko. 

Sementara itu, kampanye militer Israel ke Gaza dengan sokongan AS pasca 7 Oktober 2023, memperlihatkan keterlibatan AS secara tidak langsung mendukung genosida, walaupun oleh International Court Justice (ICJ) tidak diputus demikian. Biden yang menampuk kekuasaan juga mencoba intervensi perang Timur Tengah, mendukung Ukraina dan melawan China melalui Taiwan agar dipilih untuk Pemilu AS. 

Lain lagi yang menyangkut peran AS, sebagai lawannya, Rusia juga menyelenggarakan Pemilu. Vladimir Putin telah mempersiapkan jauh hari demi kemenangannya, yakni mengubah konstitusi pada tahun 2020 agar bisa berkuasa sampai 2036 nanti. Hal ini membuat Rusia memiliki pemimpin terlama setelah masa Uni Soviet dibawah Joseph Stalin (1929-1953). Putin masih tetap dalam ambisi besar agresi militer di Ukraina. 

Sedangkan dua pecahan Uni Soviet yang saling merebut wilayah Nagorno-Karabakh, konflik Armenia-Azerbaijan mempunyai peluang damai walaupun Rusia gagal menangani gencatan senjata. Azerbaijan yang didukung Turki juga berselisih mengenai perbatasan negara dengan Armenia, dimana kamp militer mereka saling berhadapan. Di sisi lain, peluang damai ada sebab Azerbaijan menjadi tuan rumah konferensi iklim dunia 2024, COP29, di Baku, Azerbaijan.

Di daerah maritim Asia Pasifik, konflik Laut Cina Selatan adalah hal yang tidak lepas dari dominasi AS-China. Biden dan Presiden China, Xi Jinping bertemu pada November 2023 untuk memperbaiki hubungan. Xi ingin fokus pada perbaikan ekonomi dan pembatasan perdagangan AS, sementara Biden berupaya memberikan ketenangan menuju Pemilu AS. Persoalan ini tumpang-tindih klaim antara maritim China dan sekutu AS, Filipina. 

 

Sumber: TIME, Kompas.id, CNN, ICG.com 

Peneliti: Mohamad Akmal Albari/Suaka 

Redaktur: Faiz Al Haq/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas