Sosok

Temukan Jati Diri Lewat Karya Seni

Foto: Fatimah Nur’aini/Suaka

SUAKAONLINE.COM – Usia tidaklah menjadi penghalang bagi seseorang untuk terus berkarya. Kalimat itulah yang dipegang teguh oleh Ade Mulyana (74). Seniman yang akrab disapa Moel Umboh itu berhasil menyulap limbah pelepah pisang menjadi karya seni yang bernilai tinggi. Hal itulah yang membuat Moel dikenal sebagai seniman pelepah pisang.

Dunia seni sudah ia geluti sejak duduk di sekolah dasar (dahulu sekolah sakyat -red.). Dengan segala keterbatasan pada saat itu, ia memanfaatkan bahan-bahan dari alam untuk memberi warna pada lukisannya. Moel mengaku bahwa bakat seninya dipelajari secara otodidak tanpa mengikuti kursus apapun.

Namun, melukis dengan teknik pewarnaan dirasa sudah menjadi hal yang biasa. Persaingan pun terlihat semakin banyak. Maka dari itu ia berpikir untuk mencari sesuatu yang berbeda dari karyanya. Hingga pada akhirnya, proses kreatif yang terus berjalan mempertemukan Moel dengan sebuah pohon pisang yang dapat menggerakkan hatinya.

Ia memegang teguh prinsip bahwa kehidupan manusia akan terus bersinggungan dengan alam. Sebagai bentuk kecintaannya dan dalam upaya menjaga alam, ia memutuskan untuk membentuk organisasi pecinta alam bersama rekan-rekannya. Pada tahun 1969 berdirilah sebuah organisasi pecinta alam di Cimahi bernama Jana Buana.

Bersama Jana Buana-lah Moel muda sering melakukan pendakian ke gunung-gunung terdekat. Saat melakukan pendakian, tak sengaja ia menemukan sebuah pohon pisang kecil di atas gunung. Moel tertegun melihat pohon kecil itu bisa tumbuh di antara pohon-pohon besar. Ia sendiri bertanya-tanya siapa yang menanamnya di atas gunung.

“Saya deketin seolah-olah dia melambai-lambaikan daun-daun yang terkulai, kulitnya yang terkelupas, seolah-olah dia mengajak ngobrol. Datang ngeliat dari tubuhnya yang kecil dibandingin dengan pohon lain. Saya tanya ‘Apa kamu gak malu? Kamu gak minder? Kamu gak bete? Dalam hal ini kan kamu di antara pohon yang gede-gede’. Jadi saya tarik,” ujar Moel bercerita, Rabu (1/9).

Berawal dari pertemuan dengan pohon pisang itulah, Moel merasa menemukan jati dirinya sebagai seniman. Ia percaya, meski dengan suatu yang kecil dengan kreatifitas akan menjadi suatu hal yang bernilai besar. Hal itu terbukti dengan jumlah karyanya yang tidak terhitung hingga saat ini. Di usianya yang telah menduduki kepala tujuh, Moel tetap menghasilkan berbagai macam bentuk lukisan dari pelepah pisang, mulai dari flora dan fauna, bahkan patung yang dapat dilihat dari segala sisi.

Teguh pendirian

Ketika disinggung soal harga lukisan, Moel menyebutkan tergantung kesanggupan pembeli. “Sekarang gini aja, ini pengerjaan enam bulan, anda mau beli berapa juta? enam bulan pengerjaannya, sok berapa? Kalau orang yang ngerti pasti lain kan. Tapi orang yang nggak ngerti, ‘Ah sampah ini nggak mau, sejuta ge embung’, pasti kayak gitu kan? Saya tidak mau motivasi ke sana, tapi hati saya ketuk dia,” ungkapnya.

Karya seni luki dari pelepah pisang ini sering menuai kritik dari beberapa orang. Tidak jarang Moel menerima cemoohan akan karyanya yang dinilai tidak layak. Namun, hal itu tidak mematahkan semangatnya untuk terus berkarya.

“Kadang orang-orang tuh semuanya bilang ‘pira gedebog cau, iyeu gedebog cau loba’. Saya bilang mereka belum tau pembentukan bagaimana, terus penempelan bagaimana, belum tau mereka. Dalam hal ini, orang menempel bisa, semuanya juga bisa tapi membentuk, memilih, dan memilah belum tentu bisa, yakin itu,” lanjut Moel.

Tak sedikit juga orang yang menyebut rumahnya sebagai “rumah sampah”. Namun Moel tak menghiraukan ejekan tersebut. Ia tetap teguh untuk terus berkarya dalam bidang seni lukis. Sebagai salah satu bentuk kepeduliannya terhadap seni lukis pun, ia kerap mempersilakan bagi siapa saja yang ingin belajar untuk datang ke rumahnya. Dirinya meyakini bahwa ilmu yang ia punya akan berguna jika dibagikan kepada orang lain.

Tidak hanya menggunakan pelepah pisang, ia juga kerap menghasilkan beberapa lukisan dari cat air. “Sebetulnya banyak ya yang digarap oleh Abah. Bikin, bisa. Tapi yang ditekuni dari dulu pohon pisang. Banyak, bisa digarap, tapi satu yang menarik. Jati diri saya tuh dari mana adanya, ya pelepah pisang. Masa pelepah pisang akan dibuang. Nah itu yang mana kalau tidak konsekuen dengan filsafat hidup kita, udah dilepas dari dulu juga,” jelas Moel dengan yakin.

Menekuni dunia cosplayer

Selain menekuni bakatnya di bidang seni, kakek delapan cucu ini memiliki kecintaan terhadap dunia cosplayer. Dirinya sering dianggap mirip dengan Master Roshi dalam serial anime Dragon Ball. Hobinya yang telah dijalankan sejak tahun 2010 ini berhasil menyabet sejumlah penghargaan.

“Ya gitulah, nonton, buat, bikin, terus ceritanya gimana, penimbaan karakter. Banyak karakter, tapi ambillah salah satu yang kira-kira yang masuk di kita. Dorongan dari anak saya juga yang paling bungsu dia cosplayer juga. Awalnya rambut saya segini, trus potong jadi pendek. Bosen panjang, jadi sekalian digundulin,” jelasnya

Berkat semangat dan kegigihannya, ia membuktikan bahwa dengan menekuni apa yang disukai, akan membuahkan hasil yang baik. Seribu kemungkinan terbentang di luar sana, tinggal bagaimana cara kita meraihnya. Diakhir pembicaraan, ia berpesan kepada anak muda untuk tetap berkarya dan menghormati para seniman.

 “Saya menginginkan banyak menghormati kepada orang-orang yang sudah berkarya. Siap untuk mengikuti dengan cara diri sendiri dan kalau bisa ciptakanlah yang gak ada. Beda dari yang lainnya. Abah sendiri kan satu, ambil, itu yang diperdalam walaupun bisa semuanya. Jadi satu, tekuni, kita pegang apapun yang lain pasti dikenal,” tutupnya.

Reporter         : Fatimah Nur’aini/Suaka

Redaktur        : Fuad Mutashim/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas