
SUAKAONLINE.COM – Penayangan Gala Premiere film pendek “Waktu Yang Sama” oleh siswa Journalist Academy 7 (JA7) unit Pers dan Komunikasi (Perskom) Pramuka UIN SGD Bandung, di Aula Pendidikan Profesi Guru (PPG) lantai 3, Kampus 2 UIN SGD Bandung pada Rabu (20/5/2026). Film ini menceritakan perjalanan mahasiswa di pendidikan Perskom yang penuh dinamika.
“Waktu Yang Sama” menampilkan kisah tiga sahabat selama pendidikan, yakni Nara, Fitri, dan Fika, yang menyelesaikan tugas akhir berupa liputan. Konflik muncul ketika Nara harus menghadapi kondisi ibunya yang kritis, sementara Fitri diam-diam menghapus berkas video tugas milik Nara karena rasa insecure padanya.
Menit dalam film terus berjalan, Fika digambarkan terus mendukung Nara hingga berkas videonya berhasil dipulihkan. Ditengah tekanannya, Nara ditunjukkan tidak menyerah selama pendidikan. Film ditutup dengan kabar duka yang diterima Nara setelah kelulusan, ketika ia mendapati ibunya telah meninggal dunia.
Setelah film ditayangkan, Suaka menemui Asisten Sutradara, Mujahidah Nurul Azizah, yang menceritakan inspirasi film ini diambil dari kehidupan sehari-hari. Film ini juga diadaptasi dari cerita siswa JA7 selama proses pendidikan di Perskom atau Gerakan Pramuka karena selama proses tersebut memiliki ujiannya. Dari situasi tersebut, muncul ide untuk mengangkat tema yang relevan dengan kehidupan mahasiswa. “Oh, kayaknya kita akan ngambil tema ini, ‘kita bisa ambil cerita ini’,” tuturnya, Rabu (20/5/2026).
Lebih lanjut, ia juga menyampaikan bahwa melalui penayangan film ini perjuangan selama pendidikan jurnalistik di Perskom bisa tersalurkan. Ia juga ingin mengungkapkan pesan kepada penonton untuk selalu berbuat kebaikan meskipun dalam keadaan susah. “Jika kita melakukan kebaikan dalam kesukaran, tentu kita pasti memiliki alasan untuk berbuat kebaikan,” ujarnya.
Tak sampai di situ, penayangan film ini bertujuan untuk membuktikan hasil proses kreativitas 35 siswa setelah proses belajar tujuh skill yang ada di unit Perskom, seperti yang disampaikan oleh Pemimpin Redaksi Perskom, Syifa Fauziah Nurfadhilah. Ketujuh skill tersebut seperti fotografi, videografi, editing video, desain grafis, broadcasting, livestream, dan kepenulisan.
Salah satu mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia, Nabilah Ardelia, yang hadir sebagai penonton menilai visual dan alur cerita berhasil menggambarkan realita tekanan akademik dan dinamika sosial yang dekat dengan keseharian mahasiswa, “Ada beberapa kejadian di film tuh yang pernah aku rasain, salah satunya tekanan akademik,” sebutnya.
Nabilah juga menangkap pesan yang terkandung dalam film tersebut bahwa setiap perjuangan pasti diiringi berbagai kendala, namun hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti berusaha dan terus berjuang. Baginya, di setiap perjuangan akan selalu ada rintangan. “Kalau kita yakin kita akan bisa, kita pasti mendapatkan pencapaian yang kita tuju,” tutupnya.
Reporter: Imam Sya’ban Abdurrahman/Magang
Redaktur: Zahra Zakkiyah/Suaka

