Pementasan “Bila Malam Bertambah Malam” Angkat Kisah Cinta dan Isu Sosial dalam Balutan Sastra Klasik 

Date:

- Advertisement -
Inwarama Stage menampilkan drama di atas panggung pada acara Pementasan Drama Trilakon 2026 yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Indonesia di gedung Abdjan Soelaeman, Kampus 1 UIN SGD Bandung, Kamis (2/7/2026). (Foto: Ibnu Arif/Magang)

SUAKAONLINE.COM – Pementasan drama dalam upaya menghidupkan kembali sastra klasik melalui teater berjudul “Bila Malam Bertambah Malam” yang digelar oleh mahasiswa Tadris Bahasa Indonesia di Aula Abdjan Solaeman, Kampus 1 UIN SGD Bandung, Kamis (2/7/2026). Pementasan ini menampilkan kisah cinta masa kini yang tidak lepas dari masa lalu, sekaligus menampilkan perbedaan dalam status sosial seperti kasta yang hingga kini masih dirasakan banyak orang.

“Bila Malam Bertambah Malam” menampilkan kisah rumah tangga Gusti Biang, seorang janda bangsawan Bali, bersama dua pelayan setianya, Wayan dan Nyoman. Konflik muncul ketika Ngurah, anak semata wayang Gusti Biang, pulang dan menyatakan niatnya untuk menikahi Nyoman meski berbeda status sosial. Gusti Biang menolak keras hubungan tersebut karena menanggap Nyoman, yang berasal dari kasta sudra, tidak pantas denganya.

Ketegangan terus berkembang hingga Wayan akhirnya mengungkap rahasia besar yang selama ini disimpanya, mendiang suami Gusti Biang ternyata bukan pahlawan seperti yang selama ini dipercaya, melainkan seorang pengkhianat dalam perjuangan kemerdekaan. Wayan juga mengungkap bahwa dirinya dulu adalah kekasih dari Gusti Biang yang terpisahkan karena perbedaan kasta.

Usai penampilan teater, sutradara pementasan tersebut, Aulia Keisya Febriyanti, mengungkapkan bahwa pemilihan naskah ini didasari oleh pertimbangan kondisi psikologis mahasiswa. “Karena aku carinya yang related sama psikologis mahasiswa, soalnya target nontonya mahasiswa, jadi aku pilih judul ini salah satunya karena ini,” ujarnya

Aulia menyebut realita mahasiswa itu yang menjadi pertimbangan utama dalam mencari naskah untuk dramanya, dibandingkan dengan sekedar mencari naskah yang populer. Ia menjelaskan bahwa naskah aslinya berlatar tahun 1966 dengan tata bahasa yang kurang relevan dengan zaman sekarang, sehingga ia merombak sedikit bahasanya agar terhubung dengan konflik-konflik masa kini seperti persoalan politik dan keluarga.

Salah satu penonton pementasan drama, Bani Anggarisi yang akrab disapa Obet, menilai “Bila Malam Bertambah Malam” mengangkat kisah cinta yang terjadi hari ini namun tidak lepas dari kejadian masa lalu. “Ini mengajarkan bahwa kejadian di hari ini tidak akan lepas dari orang – orang yang berperan di masa lalu,” katanya.

Salah satu aktor yang memerankan tokoh Wayan, Fajar, menuturkan bahwa lewat karakternya ia ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya menghargai orang lain tanpa memandang status maupun kedudukan. Menurut dirinya, Wayan juga mengajarkan tentang kesetiaan, kejujuran, dan keberanian untuk mengatakan kebenaran.

Fajar menilai pementasan drama lebih efektif menghidupkan karya sastra dibanding sekadar membacanya di atas kertas. “Soalnya kalau dipentaskan penonton bisa melihat ekspresi, emosi dan jalan ceritanya, jadi pesan yang disampaikan lebih mudah dipahami juga dan langsung kebawa alurnya saat itu juga,” tutupnya.

Reporter: Zikron Aufar/Magang
Redaktur: Zahra Zakkiyah/Suaka


Share post:

Popular

Berita Terkait

Simposium Hukum Bahas Pembentukan UU serta Peran Mahasiswa dalam Legislasi

SUAKAONLINE.COM - Isu hukum kontemporer yang sedang berkembang di...

Kemampuan Menulis Ilmiah sebagai Bekal Mahasiswa Disoroti dalam Talk Show Veloria Littera

SUAKAONLINE.COM – Kemampuan menulis ilmiah menjadi sorotan pada talk...

Dinamika Pendidikan Mahasiswa dalam Film “Waktu Yang Sama” 

SUAKAONLINE.COM – Penayangan Gala Premiere film pendek “Waktu Yang...

Madzhab Fest dan Upaya Ngahirupkeun  Seni Pertunjukan Nusantara

Budaya yang mulai “nyumput” di tengah gempuran era digital...