
SUAKAONLINE.COM – Mahasiswa UIN SGD Bandung yang tergabung dalam Hizbut Tahrir memperkenalkan panji Rasulullah kepada mahasiswa UIN SGD Bandung, Jumat (7/4/2017) di depan Masjid Iqomah. Pengenalan panji ini bertujuan untuk menghilangkan stereotip panji berlatar hitam dengan tulisan Laailaahaillallah berwarna putih (Ar-rayah) yang dianggap milik ISIS adalah salah.
Salah satu anggota Hizbut Tahrir chapter UIN SGD Bandung, Hamidah mengatakan jika bendera Ar-rayah identik dengan bendera ISIS karena propaganda ISIS dengan mengenalkan benderanya. Lalu masih banyak masyarakat tidak mengetahui tentang Ar-rayah dan menganggapnya sebagai bendera ISIS. “Perbedaannya adalah pada bendera ISIS terdapat cincin cap Rasulullah di tengah benderanya,” ujarnya.
Panji berarti tanda kebesaran atas suatu kebanggaan, sedangkan bendera adalah sepotong kain yang sering dikibarkan di tiang. Umumnya digunakan secara simbolis untuk identitas, biasanya melambangkan negara dan menunjukkan kedaulatannya.
Dalam sejarah, Ar-arayah adalah panji Rasulullah yang diberi nama Al-Uqab dan hanya dipegang oleh pemimpin perang. Sedangkan Al-liwa adalah bendera Rasulullah sebagai bendera kenegaraan dan hanya dipegang oleh Rasulullah sebagai pemimpin Negara.
Namun menurut Hamidah, untuk saat ini Ar-rayah digunakan sebagai tanda pemersatu umat. Hal ini untuk menghilangkan sekat-sekat nasionalisme yang memecah belahkan umat. Sehingga umat muslim membutuhkan satu naungan, biasa disebut dengan Panji Rasulullah.
Hamidah menambahkan, umat muslim perlu mengetahui dan tidak boleh takut dengan panji Rasulullah. Kemunculan ISIS dikarenakan propaganda yang dilakukan barat dengan tujuan menjauhkan identitas kaum muslim. Salah satunya menjadikan kaum muslim takut kepada Bendera Rasulullah.
Selain itu, Siti mengatakan jika Hizbut Tahrir mensosialisasikan panji Rasulullah agar masyarakat khususnya mahasiswa UIN SGD Bandung mengenali bendera Islam. Tak hanya di Bandung, sosialisasi juga dilakukan serentak hampir di seluruh kota di Indonesia.
Reporter : Anggi Nindya Sari/ Magang
Redaktur : Dadan M. Ridwan

