
SUAKAONLINE.COM – Aksi Kamisan Bandung kembali menggelar aksi ke-429 dengan tajuk “Antara Efisiensi dan Urgensi ala Kang Dedi Mulyadi (KDM)” di depan Gedung Sate, Kota Bandung, pada Kamis (23/4/2026). Aksi ini merupakan bentuk protes dari pembangunan serta kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang dinilai lebih mengutamakan kepentingan pribadi dibandingkan pemenuhan kebutuhan masyarakat.
Aksi yang dimulai pada sore hari tersebut, diisi dengan berbagai orasi. Salah satunya dari seorang inisiator petisi penolakan revitalisasi plaza, Ricky, berpendapat bahwa pembangunan plaza di depan Gedung Sate hingga Lapangan Gasibu akan menghilangkan fungsi Jalan Diponegoro, serta akan menambah titik kemacetan baru di kawasan sibuk seperti Jalan Surapati, terutama pada jam keberangkatan dan kepulangan kantor.
Lebih lanjut, Ia menyatakan bahwa proyek senilai Rp15,8 miliar ini tidak menunjukkan perencanaan yang jelas. “Dalam hal ini, mau kemana lalu lintas diarahkan? Apakah Dedi sudah membuat simulasi kemacetan dari proyek ini? Ujug-ujug sudah dibongkar. Proyek ini tidak pernah ada uji publiknya, kami tidak diberitahu,” tekannya, Kamis (23/4/2026).
Senada dengan Ricky, perwakilan dari penyelenggara aksi, Gian, menilai pembangunan tersebut terlalu simbolik dan jauh dari kata efisien yang sering dibicarakan pemerintah. Ia menekankan bahwa dana belasan miliar tersebut lebih baik dialokasikan untuk program fundamental. “Seperti perbaikan infrastruktur dasar, misalnya pembangunan halte di kawasan padat seperti Jatinangor atau penguatan sistem transportasi publik,” terangnya.
Tak dilibatkannya tenaga ahli dan akademisi dalam perancangan kota turut disoroti oleh Gian. Ia juga menyinggung kebijakan serupa, seperti pembangunan plaza saat ini, yang dinilai mengulang pola sebelumnya, yakni perubahan gapura Gedung Sate menjadi menyerupai candi. Menurutnya, pembangunan tersebut tidak dilandasi oleh urgensi kebutuhan masyarakat.
Ricky menekankan bahwa kebijakan pemerintah provinsi seharusnya lebih difokuskan pada upaya-upaya substansial seperti penanganan perubahan iklim, penyediaan lapangan kerja, serta pemberantasan judi dan pinjaman online yang marak di Jawa Barat. “Bagusnya, KDM itu menghindari lah kebijakan yang bersifat kosmetik seperti ini dan ubah dengan tindakan yang nyata untuk kesejahteraan warga Jawa Barat,” ungkapnya.
Selain itu, wacana pembangunan program Sekolah Maung bagi siswa berprestasi oleh Dedi turut ditanggapi oleh Ricky. Ia menekankan bahwa peningkatan kualitas sekolah yang sudah ada seharusnya menjadi prioritas. Menurutnya, program tersebut belum memiliki urgensi yang jelas dan cenderung bersifat elektoral.
Diakhir wawancaranya, Gian sangat menyayangkan program-program Dedi Mulyadi yang dinilainya sewenang-wenang. Menurutnya, masih banyak hal lain yang lebih penting daripada revitalisasi plaza yang sedang dibangun. “Harusnya dipikirkan terlebih dahulu, sayang banget soalnya. Ibarat sebuah kepala tapi enggak punya telinga,” tutupnya.
Reporter: Rifki Fadillah/Magang
Redaktur: Zahra Zakkiyah/Suaka

