Aksi Kamisan

Mengingat Memori Kekerasan Negara terhadap HAM pada September Hitam

Aksi Kamisan Bandung menggelar aksi ke-397 bertajuk “Parade Melawan Kekerasan Negara” di Taman Cikapayang Dago, Jl. Ir. H. Djuanda, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, pada Kamis (7/9/2023). (Foto: Ninda Nur Aidah/Suaka).

SUAKAONLINE.COM – Sejumlah elemen masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Aksi Kamisan Bandung menggelar Aksi memperingati September Hitam di taman Cikapayang Dago, Kamis (7/9/2023). Aksi Kamisan kali ini berfokus mengusung satu tema yaitu parade melawan aksi kekerasan negara.

Sejalan tema yang diangkat, orator dari masa aksi kamisan, Fai, di bawah payung hitam  membacakan serangkaian tragedi pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang dilakukan oleh negara dari rentang waktu 1965 sampai 2020. Apa yang Fai bacakan sampai saat ini menggambarkan pemerintah belum bersungguh-sungguh menegakkan keadilan dan pemulihan korban dari tragedi-tragedi tersebut.

“Kita harus melihat lebih jeli bahwa negara semakin menjauh untuk menuntaskan peristiwa pelanggaran HAM. Dan itu lah negara semakin tidak mempunyai rasa malu untuk memberikan langkahnya yang lamban, bahkan abai untuk menyelesaikan kasus pelanggaran ham tersebut,” ujar Fai dengan mikrofon, Kamis (7/9/2023).

Fai juga menyampaikan pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara terus berlangsung hingga hari ini. ”Terakhir terbaru hari ini juga mengabarkan juga terjadi lagi dan lagi dilakukan kepolisian TNI dan juga dan seperangkat alat kekerasan negara lainnya  di kota Batam kepulauan Riau.” tambahnya di penghujung orasi.

Mendukung pernyataan Fai, perwakilan dari PBHI, Riki juga menyampaikan bahwa kekerasan yang dilakukan negara saat ini tidak hanya dilakukan lewat tindakan represif melainkan juga dengan kekerasan ideologis .

Jika kekerasan yang dilakukan secara represif dilakukan oleh aparat negara, kekerasan Ideologis dilakukan melalui dua pintu, yaitu Pendidikan dan media. Dengan tidak diberikannya HAM di kurikulum sekolah saat ini dan sedikitnya media independen yang mengangkat masalah di masyarakat kalangan bawah menjadi bukti kekerasan ideologi terjadi di negara kita.

“Kalau yang ideologis bisa masuk bisa lewat Pendidikan bisa lewat masuk media-media. Sekarang media dipegang sama siapa sih. Sedikit sekali media yang independen yang terus menyuarakan suara di akar rumput gitu. Kemudian, Pendidikan kita bisa lihat dari tadi tidak ada kurikulum HAM, tidak ada kurikulum soal gender, kurikulum-kurikulum yang memang itu, perspektif (nya) dibutuhkan.” Jelas Riki.

Di akhir penyampaian, Riki mengingatkan seluruh elemen masyarakat untuk terus melakukan perlawanan terhadap setiap tindakan kekerasan yang dilakukan oleh negara. Hal itu bisa dilakukan dengan terus bersolidaritas menyampaikan protes-protes harian terhadap kekerasan aparat dan penggusuran. Protes harian juga merupakan upaya merawat ingatan tentang kekerasan yang pernah dan saat ini sedang dilakukan oleh negara.

“Lantas apa sih yang perlu kita lakukan yaitu kita terus melakukan hal hal seperti ini yang dilakukan temen temen kamisan bentuk-bentuk protes harian misalkan kayak ada perpustakaan jalanan ada pasar gratis ada ada bentuk bentuk protes yang bisa kita lakukan terhadap kekerasan yang dilakukan oleh negara” jelas Riki.

Reporter: Faiz Al Haq/Suaka

Redaktur: Mohamad Akmal Albari/Suaka

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ke Atas