
SUAKAONLINE.COM – Teriknya matahari dan padatnya lalu lintas di Jalan Raya Batujajar, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, tidak menyurutkan semangat Suaka mengunjungi toko sederhana yang berdiri di antara padatnya bangunan pabrik-pabrik yang gagah berdiri berperisai tembok dan pagar besi. Kreasi Imah Kertas, sebuah rumah yang disulap menjadi toko kecil oleh seorang ibu rumah tangga, Ainy Nasroh, memberikan kesan cantik disepanjang jalan yang ramai akibat padatnya lalu lintas.
Kala Ainy dikunjungi oleh Suaka, sembari ditemani oleh suara deru mesin kendaraan yang tiada hentinya menjelma menjadi instrumen musik, tidak membuat aktivitas Ainy bersama akang, sebutan untuk suaminya, dalam mengolah limbah kertas terusik. Toko sederhana yang dirintisnya sejak 2010, Kreasi Imah Kertas, perpaduan antara keinginan dan bentuk ungkapan emosional Ainy, terus berkembang hingga sukses menembus pasar Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Nasional di tahun 2019 hingga 2025.
Semua bermula ketika Ainy memiliki keinginan kuat untuk membantu suami memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilnya dalam urusan ekonomi. Segala jenis pekerjaan sudah pernah Ainy coba, dari menjadi seorang buruh pabrik hingga membuka usaha fotokopi sendiri, tetap tidak ada yang bertahan lama. Statusnya yang merupakan seorang istri sekaligus ibu membuatnya merasa ingin memiliki usaha tetapi tidak mengganggu kodratnya.
Keterpurukan pun pernah Ainy rasakan tatkala usaha terakhirnya yaitu membuka fotokopi bangkrut. Akibat dari ketidakjujuran seseorang, membuat Ainy merasa sudah tidak ingin lagi bekerja sama dengan orang lain. Beruntung pada saat terpuruk itu, suaminya terus menyemangati dirinya untuk tetap berkarya dengan memanfaatkan bahan yang ada. Ainy pun memanfaatkan kertas arsip bekas usaha fotokopiannya menjadi bungkus gorengan dan dengan bimbingan suaminya, Ainy pun mulai berkreasi membuat paper bag.
Kala itu paper bag yang diproduksi Ainy dipasarkan oleh suaminya, dari pasar ke pasar dan dari roda ke roda, hingga akhirnya Ainy mempunyai pasarnya sendiri. Setelah paper bagnya laris dipasaran, Ainy pun berpikir untuk terus mengembangkan usahanya, beruntung pabrik di sekitar rumah seringkali menyumbangkan limbah kertasnya pada Ainy. Bukan hanya paper bag yang dipasarkan, namun juga berbagai kerajinan furniture dan barang-barang kebutuhan sehari-hari.
“Itu kan banyak kertas arsip bekas fotokopian dan memang sama akang juga ibu suka bikin bungkus buat gorengan gitu. Ibu iseng aja bikin paper bag. Dari situ usaha ibu mulai dikenal sama pasar. Kebetulan kertasnya dapat juga dari pabrik di depan rumah. Kesempatan nih buat usaha ibu karena bahannya aman, kertas yang dikasih pabrik juga banyak dan masih bagus-bagus,” ungkap Ainy.
Tujuan Ainy membangun Kreasi Imah Kertas sederhana, untuk mewujudkan impiannya ketika masih muda yang hanya lulusan SMP, yaitu melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi lewat anak pertamanya. “Pokoknya saya mau bantu keluarga, gimana caranya untuk memperbaiki, bisa bantu ekonomi keluargalah. Minimal untuk anak, dan memang tujuan utama untuk menyekolahkan anak ya. ‘Pokoknya teteh, kamu tong sampe (jangan hanya sampai -red) SMA, kuliah, kuliah!’ Sejak itu kita berjalan, teteh kuliah ibu bekerja,” ujar Ainy.
Meski tetangga ramai yang meragukan usahanya, Ainy tidak pernah berhenti membangun Kreasi Imah Kertas untuk tetap berdiri ditengah keraguan dan umpatan masyarakat. Hingga Kreasi Imah Kertas di tahun 2025 sudah dilibatkan dalam project-project UMKM pemerintahan Kabupaten Bandung Barat hingga bekerja sama dengan kementerian. Bahkan setiap tahun, selalu ada momen berharga yang dapat dikenang dan dibanggakan.
“Saya enggak nyangka dari juara kemasan, terus ikut content planner, terus bekerja sama dengan Home Decor, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Barat, Lionstar, Rumah Keramik Bogor, Komunitas Bambu. Sampai ikut berbagai perlombaan dan dapat penghargaan. Emang benar loh, ketika kita kejar itu banyak banget peluang, cuman kadang kita punya waktu, kesempatan, dan kesiapan enggak buat jalin tali silaturahminya? Ternyata saya dikuatkan dan dimampukan,” ujar Ainy sembari menunjukan sederet sertifikat penghargaannya kepada Suaka.
Makna Tersirat Kreasi Imah Kertas
Pepatah mengatakan bahwa nama adalah doa, Ainy pun menyelipkan doa dalam nama Kreasi Imah Kertas. Kreasi dimaknai sebagai impian, setiap manusia pasti memiliki impian, Ainy juga memiliki impian untuk membahagiakan keluarga, “Mungkin bintang di langit, cukup untuk dilihat. Tapi bintang di hati, anak saya, yang menjadi penerang dalam kehidupan saya. Mau susah, mau senang, ada yang saya tuju, yaitu senyum anak saya, mereka harus sukses dan bahagia,” ujar Ainy.
Ketika kehidupan yang menyakitkan menghampiri Ainy, cukup dirinya yang merasakan segala kepahitan. Anaknya harus merasakan kebahagiaan yang selama ini Ainy impikan, termasuk bahagia dalam mendapatkan pendidikan. Anak pertamanya, yang akrab disapa Teteh telah sukses mewujudkan cita-cita Ainy, lulus sarjana di sebuah perguruan tinggi dan saat ini mengajar di Sekolah Kerakyatan program pemerintah.
Makna imah sendiri dalam Bahasa Sunda bermakna rumah, dimana semua orang akan kembali. Ainy ingin Kreasi Imah Kertas menjadi tempatnya untuk mengaspirasikan segala perasaan yang tidak pernah mampu ia sampaikan pada siapapun. Ainy merasa lebih menyenangkan mengungkapkan segala bentuk perasaanya pada kertas. Mengubah emosi negatif menjadi produk cantik.
Lembaran kertas yang disulap menjadi sebuah paper bag atau wadah, yang Ainy maknai sebagai bentuk penerimaannya terhadap kehidupan. Wadah baginya tempat menyimpan segala rasa, perasaan tidak dianggap, perasaan disepelekan, dan berbagai perasaan yang menyelimuti kehidupannya. Selain wadah, dari lembaran kertas Ainy juga menciptakan sebuah tali, yang ia maknai sebagai tali kehidupan, untuk melilit atau menutup kepedihannya.
Kreasi Imah Kertas merupakan transformasi dari kehidupan manusia yang penuh dengan impian, kepedihan, dan juga kesempatan. Bagaimana manusia menjalani kehidupan dan menghadapi berbagai tantangan, dapat terlihat seberapa menakjubkan lembaran kertas atau kesempatan yang dimanfaatkan oleh manusia tersebut.
Serupa Kartini, Pemberdayaan Perempuan Ingin Terus Digaungkan Ainy
Meskipun zaman semakin modern, tapi budaya dan pandangan masyarakat terhadap perempuan masih sama. Menganggap bahwa perempuan karir tidak lebih baik daripada ibu rumah tangga, ibu rumah tangga tidak lebih baik dari perempuan yang tidak merepotkan suaminya. Berada di posisi yang membingungkan dan menyesakkan dada, Ainy tidak ingin perempuan lain merasakan kebingungan itu.
Maka tatkala tujuan utamanya dalam mewujudkan impian kecilnya sudah terwujud, giliran Ainy memberdayakan perempuan-perempuan dalam konteks ini ialah ibu-ibu rumah tangga yang bernasib sama dengan dirinya menggapai impiannya. Baginya, dua belas ibu yang saat ini bekerja bersamanya adalah mitra usaha, tempat berbagi canda, tawa, dan cerita di Kreasi Imah Kertas. Dengan setulus hati, Ainy merengkuh para perempuan muda hingga tua untuk merajut asa lewat lembaran kertas usangnya.
Berbagi ilmu dengan mitranya berarti berbagi harapan baru, begitulah yang Ainy bayangkan tatkala memberikan waktu dan tenaga untuk merangkul mitranya. Akan tetapi setiap niat baik akan selalu menghadapi tantangannya, kepercayaan menjadi tantangan paling mendasar yang dihadapi oleh Ainy. Seringkali ia mendapatkan pertanyaan dari calon mitra usahanya yang berkaitan dengan administrasi keuangan di Kreasi Imah Kertas.
Merespon hal itu, Ainy melakukan pendekatan secara personal dan menjelaskan bahwa untuk bergabung di Kreasi Imah Kertas tidak perlu modal dan pendidikan tinggi, Ainy hanya membutuhkan ketekunan dan konsistensi yang diberikan oleh mitranya. “Jadi itu saya targetnya, ngajarin, belajar bersama. Kalau dia nanti udah bisa mandiri, ya hebatlah, silakan bikin usaha sendiri. Saya hanya memberikan cara memiliki kemampuan untuk dia,” ujar Ainy.
Apapun yang terjadi, perempuan berhak berdaya dengan kekuatannya sendiri. Demi keluarganya, perempuan akan selalu menjadi pelengkap di keluarganya, yang menutupi kekurangan dari keluarga, itulah yang Ainy yakini ketika mengajak para ibu rumah tangga meramaikan tokonya untuk membuat produk. Serupa lukisan yang diwarnai, perempuan adalah warnanya yang akan senantiasa memberikan kehidupan pada lukisan tersebut.
In This Economy : Anak Muda harus Lebih Kreatif dan Menekuni Bidangnya
Dilansir dari cnbcindonesia.com, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) umur muda masih tinggi di Indonesia, yakni berada di atas 16 persen. Sebagai perumpamaan, angka tersebut berarti dari 100 orang penduduk yang memiliki rentang usia 15-24 tahun yang sudah masuk angkatan kerja, terdapat sekitar enam belas orang yang menganggur. Jika ditelaah berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang diterbitkan pada Februari 2025, hasil akumulasi penduduk muda indonesia sebanyak 44,26 juta orang, maka jumlah pengangguran umur muda Indonesia mencapai 3,6 juta orang.
Anak muda menurut pandangan Ainy merupakan sekelompok orang yang selalu menikmati kehidupannya dengan canda tawa, menutup luka hatinya dengan sederet kesibukan yang bermanfaat. Hal ini benar-benar diakui oleh Ainy, sebab disamping memberdayakan perempuan, ia juga aktif bekerja sama dengan anak muda dan sekolah-sekolah untuk memperkenalkan produk daur ulang.
Mengetahui fakta di lapangan bahwasannya pengangguran di Indonesia lebih banyak tergolong pada usia muda, Ainy berusaha mengubah perspektif anak muda akan momok menakutkan ini, sebab zaman sekarang segala kebutuhan anak muda sudah terpenuhi, tergantung seperti apa dan bagaimana mereka memanfaatkannya. Menurut Ainy, Indonesia tidak kekurangan anak muda yang cerdas, hanya perlu memberikan pengetahuan dan membantu mereka berkembang dengan sendirinya.
Pengetahuan tentang pemanfaatan daur ulang sampah itu penting, dan Ainy merasa bahagia ketika ada anak muda yang peduli juga. Diakui oleh Ainy, mendaur ulang sampah berarti mengajarkan kepada anak muda tentang hidup dalam kesederhanaan. Berbagai usaha bisa dilakukan anak muda, asal konsisten dan mau berkreasi terus menerus. Ketekunan dan inovasi menurut Ainy kunci dari kesuksesan anak muda saat ini yang bisa lebih melek tentang dunia ekonomi dan dikaitkan dengan bidang-bidang yang dikuasainya.
“Kalau anak muda mau membuat produk daur ulang udah banyak jenisnya, bahan kertas saja bisa untuk membuat semua produk. Tinggal bagaimana kita mengembangkannya dan mengetahui mana yang dibutuhkan di pasar. Itulah tugas anak muda untuk selalu peka terhadap kebutuhan pasar saat ini,” ungkap Ainy.
Anak muda tidak kekurangan lapangan usaha hanya perlu meningkatkan kualitas diri dan juga berpandangan ke depan. Jika memang anak muda tertarik untuk memiliki usaha di bidang lingkungan, hal yang penting diperhatikan juga ialah cara mereka mempromosikan kegiatannya. Ainy mengaku bangga, saat ini sudah banyak anak-anak muda yang berkreasi dengan sampah dan diolah menjadi berbagai macam kerajinan tangan, tetapi harus tetap diperhatikan tujuan pembuatannya jika ingin memiliki nilai jual, perlu perhatikan kualitas dan kuantitasnya.
“Semoga dengan segala fasilitas yang ada, karena anak muda sekarang mah serba dimudahkan. Jangan ada kata tidak bisa, karena semua bisa dan mampu. Tetap semangat untuk terus belajar. Menjadi pembelajar untuk semua pengalaman dan ilmu yang didapatkan, agar bisa diterapkan dalam kehidupan yang lebih baik,” pesan Ainy untuk anak muda menutup perjumpaannya dengan Suaka.
Reporter: Intan Nurfatimah/Suaka
Redaktur: Mujahidah Aqilah/Suaka

