
SUAKAONLINE.COM, Infografis – Apa jadinya jika sebuah pidato bisa mengubah arah dunia? Itulah yang terjadi pada 18 April 1955, ketika Soekarno berdiri di panggung Konferensi Asia Afrika dan menyuarakan “Unity in Diversity“. Sebuah seruan yang tak hanya memukau dunia, tapi juga abadi sebagai warisan peradaban.
Bukan hanya menjadi penanda sejarah perjuangan bangsa-bangsa Asia dan Afrika melawan kolonialisme. Pidato tersebut ditetapkan sebagai bagian dari Memory of the World karena memuat nilai-nilai universal tentang solidaritas, kemerdekaan, dan perdamaian global.
Pada pidato “Unity in Diversity Asia Africa” Soekarno menyatakan persoalan Asia-Afrika yang senasib. Dikarenakan, pada saat itu negara Asia-Afrika masih di bawah cengkeraman imperialisme Barat.
Ia menyuarakan pentingnya peran kawasan Asia-Afrika dalam menciptakan perdamaian dunia. Pidato ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam mendukung antikolonialisme di kawasan tersebut.
Pidato “Unity in Diversity Asia Africa” diajukan sebagai bagian dari warisan dokumenter dunia atau Memory of the World (MoW) UNESCO pada tahun 2018–2019. Pengajuan ini dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), dan Perpustakaan Nasional RI.
Selain pidato tersebut, dua pidato Soekarno lainnya, “To Build the World a New” dan “New Emerging Forces,” turut diajukan dalam kesempatan yang sama.
Pengajuan pidato ini sebagai MoW merupakan bentuk komitmen dalam menjaga dan melestarikan kekayaan bangsa-bangsa. Alasan lain mengapa diajukannya pidato ini adalah untuk membangun dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya warisan dokumenter Indonesia, serta mengembangkan pembangunan karakter bangsa.
Tidak hanya itu, Soekarno juga dianggap memainkan peran utama dalam perkembangan peradaban dunia. Pidato milik Soekarno juga dikatakan unik dan tidak tergantikan. Selain itu, pidatonya memenuhi unsur waktu atau mewakili zamannya dan bersifat monumental.
Pidato “Unity in Diversity Asia Africa” mampu memukau delegasi dari 29 negara yang hadir pada Konferensi Asia Afrika. Pidato ini membakar semangat para delegasi sekaligus memberi inspirasi dan motivasi untuk ikut berjuang melawan kolonialisme dengan dibuktikan banyaknya negara yang mulai memerdekakan diri setelah adanya Konferensi Asia Afrika.
Peneliti: Rengganis Elung Naafi Astuti/Magang
Redaktur: Sabrina Nurbalqis/Suaka
Sumber: Portal Informasi Indonesia, Kompas, Kumparan, Liputan 6

