Wisuda ke-104 UIN Bandung, 63 Wisudawan Raih IPK Tinggi

Date:

- Advertisement -
UIN SGD Bandung menggelar Sidang Senat Terbuka Wisuda ke-104 di Gedung Anwar Musaddad, Kampus I UIN Bandung, Kota Bandung, Sabtu (23/8/2025). (Foto: Rengganis Elung Naafi Astuti/Magang)

SUAKAONLINE.COM – UIN SGD Bandung menyelenggarakan Wisuda ke-104 dengan mengangkat tema “Melangkah Pasti Menuju Indonesia Emas: Cerdas Spiritual, Tangguh Digital” di Gedung Anwar Musaddad, Kampus 1 UIN SGD Bandung, Sabtu (23/8/2025). Jumlah wisudawan kali ini masih sama seperti wisuda sebelumnya yaitu sebanyak 1.700 wisudawan dari berbagai program studi, termasuk sarjana, magister, dan doktor yang dilantik oleh Rektor UIN SGD Bandung, Rosihon Anwar.

Para wisudawan terdiri dari berbagai fakultas:

  1. Fakultas Ushuluddin: 110 orang
  2. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan: 263 orang
  3. Fakultas Syariah dan Hukum: 307 orang
  4. Fakultas Dakwah dan Komunikasi: 211 orang
  5. Fakultas Adab dan Humaniora: 172 orang
  6. Fakultas Psikologi: 33 orang
  7. Fakultas Sains dan Teknologi: 61 orang
  8. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik: 133 orang
  9. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam: 283 orang
  10. Program Magister: 100 orang
  11. Program Doktor: 27 orang

Terdapat pemberian penghargaan tahfidz 30 juz kepada sepuluh wisudawan dan juga penghargaan predikat pujian IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) tertinggi kepada enam puluh tiga wisudawan. Penghargaan tertinggi yaitu Adhi Djati Utama diberikan kepada wisudawan yang bernama Muhammad Fathi, wisudawan jurusan Manajemen Pendidikan Islam, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan dengan IPK 3,93. Selain itu, ia adalah seorang hafidz Qur’an 30 juz. Ia juga tercatat sebagai penulis 6 artikel terakreditasi nasional, peraih 5 kejuaraan bidang kepenulisan, dan penerima beasiswa Pancakarsa.

Fathi mengungkapkan bahwa dirinya sangat senang ketika ia menerima anugerah Adhi Djati Utama, “Ya sangat senang, karena tahapan proses untuk mencapai nominator juga sangat sulit, apalagi untuk mendapatkan Adhi Djati Utama.” jelasnya saat diwawancarai Suaka, Sabtu (23/8/25). Fathi menyampaikan bahwa pada awalnya ia tidak berharap untuk mendapatkan Adhi Djati. Tetapi, seiring berjalannya waktu, timbul motivasi dan keinginan untuk berusaha melengkapi kriteria-kriteria Adhi Djati.

Motivasi yang dimilikinya selain ingin mengangkat atau mengembangkan potensi diri adalah ingin memberikan bukti tanda cinta, rasa bangga sebagai anak, dan sebagai bentuk balas budi kepada orang tuanya. “Tentunya orang tua, sebagai bukti tanda cinta dan bangga sebagai anak,” ujar Fathi. 

Tidak hanya Fathi, seorang wisudawan penerima predikat pujian bernama Muhammad Haekal Fatahillah Akbar juga mengungkapkan bahwa motivasinya berasal dari orang tuanya. Ia juga mengungkapkan salah satu tantangan yang dihadapi adalah teralihnya perhatian dengan hal lain. Cara ia mengatasinya adalah fokus dengan tujuan awal. “Kalo memang kita tujuannya untuk belajar, kita pasti bakal dimudahkan untuk bertemu dengan hal-hal yang bisa memudahkan kita untuk belajar,” ungkapnya.

Di sisi lain, Rektor UIN SGD Bandung, Rosihon Anwar mengharapkan wisudawan-wisudawati untuk menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dan menjadi agen islam yang ramah dan moderat. “Saya minta nanti di masyarakat tetap menjadi agen-agen yang menyampaikan pesan-pesan Islam damai, bukan Islam yang keras atau intoleran,” ujarnya dalam pidatonya.

Lebih lanjut, wisuda ini berbeda dari wisuda yang sebelumnya karena Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amin Suyitno berkesempatan untuk menyampaikan sambutannya. Ia mengatakan wisuda ini akan terasa lebih hikmah jika para wali wisudawan berada di ruangan yang sama. “Mungkin andaikata ruangan ini memenuhi, akan lebih terasa hikmah, terasakan erat sekali hubungan antara kita, anak-anak, dan para civitas akademika kalo bisa bersama-sama di dalam ruangan ini,” ujarnya.

Tak hanya menyampaikan sambutan, ia juga memaparkan adanya anomali yang disebabkan oleh kecenderungan rendahnya permintaan terhadap pasaran kerja, sedangkan suplainya cenderung tinggi. “Padahal, hari ini kita kalo bicara tentang suplai melahirkan 1.700 alumni dari berbagai bidang keilmuan, dari berbagai disiplin keilmuan, sedangkan di luar sana, permintaan terkait dengan pangsa kerja kita sangat terbatas,” paparnya. 

Ia menyebutkan, salah satu tantangan mengerikan yang disebutkan adalah adanya perubahan iklim. “Ini tidak lebih dari tantangan pertama, apa yang kita sebut dengan global warming, climate change yang tidak bisa dihindari,” ujarnya. Selain itu, peluang pekerjaan juga menjadi tantangan lain yang dihadapi. Masalah ini disebabkan karena adanya sekian profesi yang sudah tergantikan oleh kecerdasan buatan.

 

Reporter: Rengganis Elung Naafi Astuti/Magang

Redaktur: Mujahidah Aqilah/Suaka

Share post:

Popular

Berita Terkait

UIN Bandung Lepas 1.500 Wisudawan pada Wisuda ke-109, FSH Kembali Raih Adhi Jati Utama

SUAKAONLINE.COM – UIN SGD Bandung menggelar Wisuda ke-109 dengan...

Diskusi Impunitas Pelanggaran HAM dalam Merawat Ingatan September Hitam

SUAKAONLINE.COM – Pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan kekerasan...

Terhalang UKT, Mahasiswa Baru Menanti Keringanan di Ambang Pengunduran Diri

SUAKAONLINE.COM - Di tengah banyaknya mahasiswa baru yang sudah...

Mahasiswa Baru PBAK 2026 Berceceran, Kurangnya Pengawasan dan Fasilitas Kampus

SUAKAONLINE.COM - Sebanyak 7.503 mahasiswa baru mengikuti Pengenalan Budaya...