Date:

- Advertisement -

Wartawan dulu lain dengan sekarang, ketika selesai wawancara ia harus segera kembali ke kantor untuk membuat berita, sembari membawa selembar catatan hasil wawancara. Bagi wartawan dulu mungkin itu menjadi kebiasaan yang wajar, namun tidak bagi wartawan yang hadir bersamaan dengan munculnya kecanggihan teknologi.

Kini, wartawan tidak perlu direpotkan harus menulis berita di kantor, mereka hanya perlu menggunakan gawainya masing-masing, lalu dikirimkan langsung melalui internet ke editor di kantor. Tanpa harus bolak-balik ke kantor dan mengefisienkan waktu wartawan.

Tersebarnya informasi atau big data membuat wartawan lebih mudah meriset bahan agar lebih dalam sebelum mewawancarai narasumber. Kemajuan ini tidak lepas dari Internet of Things/ IoT. Internet of Things/ IoT merupakan bagian penting dalam Revolusi Industri 4.0, tak terkecuali dalam dunia kejurnalistikan. Bagaimana wartawan harus meriset data, meliput, hingga memproduksi suatu berita, tidak bisa lepas dari yang namanya internet dan dunia digital.

Salah satu Kontributor detik.com wilayah Kabupaten Bandung, Wisma Putra merasakan betul dampak dari berkembangnya teknologi pada pekerjaannya. Berita yang dibuatnya selain aktual tapi juga harus cepat, kadang ia pun harus bekerja ganda, memotret sekaligus membuat video, bahkan grafis.

Menurutnya, adanya perkembangan teknologi dapat memberikan kemudahan bagi wartawan. Namun, itu pun membuatnya harus tangguh dengan tantangan yang ada dan yang akan datang.

“Karena arus teknologi informasi tidak terelakkan, kita harus bisa mengikuti, harus bisa bertahan, harus bisa bertarung. Agar tidak mati di jalan. Jurnalis harus bisa mengikuti arus teknologi informasi,” ujar pria berkacamata itu (6/12).

Perkembangan ini tidak hanya dirasakan oleh wartawan saja melainkan industri yang menaunginya yaitu industri media. Industri ini mendapatkan banyak keuntungan juga kerugian, khususnya cetak. Nielsen Indonesia menyatakan bahwa di Indonesia, saat ini pembaca media digital sudah lebih banyak ketimbang media cetak ini pun berdampak pada menurunnya jumlah media cetak di Indonesia.

Terjadinya penurunan dalam industri media cetak yang signifikan karena banyaknya media daring yang bermunculan, sehingga tidak sedikit media cetak yang harus berhenti membuat terbitan cetak dan beralih menjadi daring.

Dilansir dari thedisplay.net, ada beberapa majalah seperti Rolling Stone Indonesia,  Majalah Hai, Cosmo Girl Indonesia, Esquire Indonesia, For Him Magazine (FHM) Indonesia, Maxim Indonesia, Majalah Commando, High And Teen Magazine, dan Grazia Indonesia, yang harus menjadikan tahun 2017 sebagai tahun terakhir publikasinya. Kemudian, ada Majalah Bola dan Bola Vaganza yang juga berhenti cetak pada tahun 2018.

Keberadaan media daring saat ini juga sudah sangat menjamur di masyarakat, seperti yang dilansir dari merdeka.com, terhitung ada sekitar 43.300 media daring sejak Februari 2013 hingga 2017. Namun, menurut Dewan Pers hanya ada sekitar 0,04 persen atau sekitar 167 media saja yang dapat dikatakan sebagai media profesional.

Jurnalisme Robot dan Algoritma

Dalam perkembangan saat ini, kecerdasan buatan atau yang dikenal sebagai Artificial Intelegent (AI) memunculkan suatu yang baru dalam dunia kejurnalistikan, yaitu jurnalisme robot. Jurnalisme robot ini sudah digunakan oleh media-media besar seperti Los Angeles Times, Bloomberg, New York Times, dan Washington Post. Salah satu media di Indonesia pun sudah menggunakan jurnalisme robot, yaitu Beritagar.id.

Menurut Wakil Pemimpin Redaksi Beritagar.id, Rahadian P. Paramita, jurnalisme robot itu menggunakan robot yang dapat membuat artikel layaknya manusia, dan merupakan sebuah keuntungan bagi wartawan itu sendiri, karena wartawan tidak perlu repot untuk mengolah data yang sudah ada, dan dapat lebih fokus ke hal lainnya.

Sejauh ini Beritagar.id menggunakan jurnalisme robot hanya untuk memproduksi berita bertema olahraga dan finansial, yang datanya sudah tidak perlu diperdebatkan lagi atau diverifikasi. “Problemnya tinggal menyusun paragrafnya saja, bagaimana paragraf itu nanti jadi template lalu angka di situ akan diisi menggantikan konten,” ujar Rahadian (3/11).

Terkait masa depan media, Editor at Large Tirto.id, Zen Rs mengatakan, media sendiri mau tidak mau harus memperkerjakan AI atau jurnalisme robot. Karena memang beberapa pekerjaan mustahil untuk terus-menerus dikerjakan oleh manusia. “Salah satu masa depan media menurut saya adalah seberapa mampu media mengadopsi AI, bukan hanya memproduksi konten tapi juga untuk membaca audien,” papar seorang yang akrab di sapa Zen itu di awal November.

Media akan dipermudah dengan bantuan AI, dapat membaca apa keinginan pembacanya. Dengan algoritma yang ada dalam big data dan kemampuannya dalam memperoleh data yang sangat banyak, media dapat melakukan analisis big data dan akan tahu apa yang sering dicari oleh pembaca. Sehingga hal ini dapat membantu menjangkau pembaca yang lebih banyak, dan menjadikannya sebagai strategi pemasaran.

Zen menuturkan bahwa, media saat ini bukan dipengaruhi oleh era Revolusi 4.0, tetapi yang paling mempengaruhi dari evolusi media, gerak-gerik, dan inovasi itu adalah algoritma. Karena algoritma dalam satu minggu dapat berubah, maka dalam setiap perubahan algoritma harus diikuti dengan perubahan strategi media. Hal itulah yang memaksa media harus terus menerus untuk melakukan inovasi, antisipasi, dan akhirnya harus beradaptasi.

 

Antara Clickbiat dan Tanggung Jawab Media

Banyak jenis berita yang sering ditemui terutama di media daring yang lebih mengutamakan pemberitaan sensasional dan clickbait. Jenis pemberitaan seperti itu sudah bukan lagi fenomena baru, namun sudah ada dari sejak jurnalisme itu hadir. Bahkan, jenis pemberitaan tersebut menjadi jenis pemberitaan yang banyak diklik oleh masyarakat.

Berita clickbait dalam industri media dikenal dengan yellow journalism atau jurnalisme kuning. Jurnalisme ini merupakan jenis pemberitaan yang menggunakan judul-judul  bombastis agar pembaca tertarik dan penasaran dengan sebuah berita.

Anehnya, media yang dalam pemberitaannya sering kali mengutamakan clickbait, dapat berkembang bahkan bertahan di tengah revolusi industri ini, karena mereka memiliki banyak pembaca. Tidak hanya itu, banyak juga media yang tidak mau susah mencari pembaca sehingga lebih memilih jalur ini untuk pemberitaannya. Menurut Zen, banyaknya media daring yang membuat konten-konten sensasional merupakan permasalahan lama, yang alih-alih terselesaikan justru semakin akut seiring adanya perkembangan teknologi.

Menurut Rahadian, ada tiga genre berita yang menjadi sumber traffic bagi sebuah media, yaitu yang berkaitan dengan sex, hal yang berbau darah seperti pembunuhan, dan juga gosip. Ketiga genre berita itulah yang akhirnya dieksploitasi oleh jurnalisme kuning dalam memproduksi sebuah berita. Ia juga menjelaskan bahwa dalam jenis pemberitaan tidak berubah dari dulu hingga sekarang, yang berubah itu hanya mediumnya saja.

“Yang berubah itu hanya format atau kemasan akhir, dulu hanya cetak, koran, tiba-tiba ada elektronik, format jadi bermacam. Isinya gak berubah tetap sesuai dengan prinsip jurnalisme yang ada,” tutur pria berkumis tipis itu.

Senior Produser Video Vice Indonesia, Rizky Rahadianto juga mengatakan, jenis pemberitaan itu sebenarnya tidak berubah. Namun, pemberitaan yang clickbait yang dilakukan beberapa media daring merupakan pembodohan bagi masyarakat. Meskipun pembaca tidak suka dengan apa yang diberitakan media, bagi media itu tidak penting, yang terpenting adalah klik pembaca bagi berita tersebut.

“Ya itu seperti mengeksploitasi jurnalisme, yang paling penting mereka mendapat klik bukan kualitas. Sebenarnya, kita harus menghalau yang kaya gitu, itu bukan strategi sebuah berita, sebenarnya itu sudah masuk ke dalam pelanggaran kode etik jurnalistik yang harus dilaporkan, nggak cuman dibiarin. Bahkan kasusnya sudah parah banget dan bisa disebut hoaks, atau kaya framming berita yang membahayakan,” tuturnya.

Ia juga menjelaskan, dalam mengatasi hal yang seperti ini, pembaca harus cerdas dalam memilih berita yang akan dibaca dan media harus kuat dalam idealismenya. Selera publik tidak bisa diatur oleh media, namun yang dapat dikendalikan media adalah apa yang media produksi. Sejauh ini, produksi pemberitaan sensasional dapat dikatakan seimbang dengan berita yang kredibel. Semakin banyak berita yang kualitasnya bagus, maka pemberitaan yang sensasional juga dapat terhalau.

Media harus bekerja sesuai tanggung jawabnya, yaitu memberitakan dan memperjuangkan sesuatu yang perlu diketahui oleh publik, bukan hanya sekedar mengikuti apa yang diinginkan publik. “Karena tanpa itu pembaca bakalan stuck di situ saja,” jelasnya.

Sependapat dengan Rizky, Rahadian menuturkan, media tidak boleh menyerah dengan selera publik. Ia mencontohkan, setiap minggu Beritagar.id memproduksi berita tentang vaksin, meskipun isu itu tidak banyak menarik pembaca, namun itu perlu disampaikan kepada publik. Karena berita vaksin merupakan pemberitaan yang perlu diketahui oleh publik.

Meningkatkan Kemampuan

Menurut wartawan Kompas, Reni Susanti, wartawan perlu banyak belajar dalam mengimbangi perubahan era sekarang. Dalam upaya untuk meningkatkan kompetensi wartawan, perusahaan juga berkewajiban meningkatkan ilmu dan menyelenggarakan pelatihan. Mulai dari pelatihan menulis, foto, video, hingga media sosial.

Namun tidak semua media memberikan pelatihan  ilmu baru kepada pekerjanya. Hal itu bisa disiasati dengan berbagai pelatihan yang digelar oleh berbagai lembaga, di antaranya organisasi kewartawanan ataupun lainnya. Hanya saja selalu ada sejumlah wartawan yang cenderung malas mengikuti pelatihan karena target berita yang harus dipenuhi setiap harinya tinggi atau karena alasan lainnya.

Apalagi tantangan wartawan saat ini bukan hanya mengenai kemampuan teknis yang harus ditingkatkan, tapi banjirnya arus informasi seperti di media sosial juga perlu diperhatikan. Tentunya tidak semua informasi benar, ada kalanya itu informasi hoax. Dan salah satu tugas wartawan adalah  menginformasikan kepada khalayak, informasi tersebut hoaks atau bukan. Jangan sampai wartawan malah ikut menulis dan menyebarkan berita hoaks.

Karena sekarang semua orang bisa menjadi wartawan kapan dan di mana saja, misalnya hanya dengan menulis status di media sosial tentang sebuah kejadian, mereka sudah dapat disebut wartawan, meskipun tanpa adanya verifikasi tentang kebenaran hal tersebut. Akhirnya, publik kebanjiran informasi yang belum tentu validitasnya.

Menurut Rahadian, untuk mempertahankan jurnalisme di Indonesia saat ini harus konsisten pada fitrahnya. Menjadi fourth estate atau pilar keempat dalam demokrasi serta menjadi sebuah lembaga independen yang mengawasi proses demokrasi agar berjalan dengan baik. Kalau untuk tuntutan teknologi sendiri lebih bersoal pada kemasan saja, bagaimana media menyesuaikan kemasannya dengan berita, dan bagaimana mendefinisikan jurnalisme daring.

Menurut Zen, untuk mempertahankan media saat ini adalah bagaimana sebuah media membuat konten berita yang bermutu, “Media itu industri kepercayaan, kalau audiensnya sudah gak percaya, ya runtuh. Untuk percaya, Anda (media-Red) harus punya konten yang bagus, taat pada kode etik, punya standar dalam memberitakan bencana, dan lain-lain. Pendeknya konten bermutu itulah yang pada akhirnya akan membuat sebuah media itu semakin bertahan,” tutur seorang yang menyukai tim sepak bola Persib Bandung tersebut.

Rizky juga berpendapat, untuk mempertahankan dan menghadapi era sekarang ini, media harus tetap membuat berita-berita yang bernilai substansial. Untuk dapat bersaing, media harus bisa merevolusi sebuah produk dengan cara mengubah cara-cara lama dengan metode-metode baru, tanpa mengubah nilai substansial suatu berita.

Dengan perkembangan teknologi saat ini, di mana nyaris setiap orang dapat membuat perkembangan teknologi semakin cepat, menjadi sebuah tantangan baru juga bagi dunia kejurnalistikan. Wartawan perlu beradaptasi, karena sekarang pengolahan data dalam memproduksi berita dapat menggunakan robot, dan permintaan dalam mengolah berita sudah melebihi apa yang kita pelajari. Maka sebagai seorang wartawan di era sekarang sangat penting untuk meningkatkan kompetensi agar dapat mengikuti arus teknologi.

Share post:

Popular

Berita Terkait

Pengumuman Kelulusan Anggota Muda LPM Suaka Tahun 2026

Berikut nama-nama yang lulus menjadi anggota LPM Suaka tahun...

Panggung Kata dalam Balutan Seni Sastra

SUAKAONLINE.COM - Teater Awal Bandung menyelenggarakan lomba membaca puisi...

Ujian Keseimbangan Dosen di UIN Bandung Belum Selesai

SUAKAONLINE.COM, Infografis – Pertumbuhan jumlah mahasiswa di Indonesia terus...

Saksi Jejak Perjuangan dalam Meramu Kertas Usang

SUAKAONLINE.COM – Teriknya matahari dan padatnya lalu lintas  di...