
SUAKAONLINE.COM – Studio Bangkrut bekerja sama dengan Dago Melawan, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Fragment Project menyelenggarakan pameran dan diskusi Arsip Warga Dago Elos di Fragment Project lt. 2, Jalan Ir. H. Djuanda, Bandung, Minggu (5/5/2024). Diskusi ini dilakukan selama dua hari dari tanggal 4 sampai 5 Mei 2024. Adapun pada hari kedua, diskusi membahas mengenai dampak yang timbul dari konflik perebutan tanah milik warga Dago Elos.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap warga Dago Elos yang berjuang mempertahankan tempat tinggalnya setelah digugat oleh ketiga Muller bersaudara dan PT. Dago Inti Graha sejak tahun 2016. Puncaknya, pada tanggal 14 Agustus 2023, warga menggelar aksi unjuk rasa di depan Polrestabes Bandung. Namun, aksi ini berujung mendapat tindakan represif dari kepolisian setempat.
Salah satu narasumber diskusi sekaligus perwakilan warga Dago Elos, Yayang mengatakan dampak yang muncul karena konflik perebutan tanah ini harus menyerang pada psikis anak-anak di Dago Elos. Ia mengungkapkan bahwa anak-anak memiliki sebuah ketakutan terhadap para aparat kepolisian. “Jangan coba-coba masuk ke kampung kami pake seragam, pake batik, itu bikin anak-anak trauma, seperti mereka parno melihat polisi,” kata Yayang, Minggu (5/5/2024).
Yayang menyampaikan bahwa memulihkan trauma tersebut menjadi hal yang sangat sulit untuk dilakukan dirinya dan warga Dago Elos lainnya. Beberapa cara dilakukan untuk membantu mempebaiki psikis anak-anak di Dago Elos, salah satunya dengan memberikan pendidikan informal. “PR besar memperbaiki psikis anak-anak. Pendidikan informal diberikan pada anak anak agar sedikitnya bisa kembali ke anak-anak selayaknya, seperti bikin karya sama anak-anak,” ucapnya.
Tidak hanya berdampak pada psikis anak-anak, dampak konflik ini juga berpengaruh terhadap perekonomian warga. Mayoritas warga Dago Elos adalah pedagang, sehingga saat ada kegiatan aksi mereka ikut turun memperjuangkan tanahnya dan terpaksa harus libur berjualan. Di sisi lain, mereka juga harus mengeluarkan uang untuk mempertahankan tempat tinggalnya.
“Kami dari sisi hukum, dokumen-dokumen, arsip-arsip nasional, akan menjadi bukti-bukti kami bahwa banyak dokumen tidak sinkron dan palsu dijadikan bukti untuk perlawanan kami. Cek kertas bukti ke lab sampai setengah miliar, penerjemah membayar tidak sedikit walau beberapa gratis, dari berbagai aspek dan sisi. Ada teman-teman LBH, dan lainnya,” ujar Yayang.
Pameran dan diskusi ini turut menarik perhatian masyarakat, terutama anak muda yang ingin mengetahui lebih dalam tentang konflik Dago Elos. Salah satu peserta juga mahasiswa ITB, Allaam mengaku tertarik dengan kegiatan pameran dan diskusi karena dirnya belum memahami akar permasalahan konflik Dago Elos.
“Jadi tahu pihak-pihak yang merenggut hak-haknya masyarakat Dago Elos. Terus juga perusahaan mana yang istilahnya jahat lah disini. Terus juga, aku jadi tahu perkembangan warga Dago Elos dari tanah sumbernya tadi, termasuk dari cerita anak-anak di sana seperti apa gitu,” ucapnya.
Di samping itu, ia berharap kegiatan seperti ini bisa terus dilaksanakan sehingga orang lain mengetahui mengenai konflik Dago Elos. “Harapannya, lebih diperbanyak acara seperti ini. Terus juga, durasinya, kalau ini kan cuma dua hari ya, mungkin bisa ada pameran yang lebih permanen atau jangka waktunya sebulan atau dua bulan yang orang-orang bisa lebih banyak datang dan tahu tentang Dago Elos ini, ” tutup Allaam.
Reporter: Hanifah Flora Reine/Magang
Redaktur: Nia Nur Fadillah/Suaka

