Gema Aswaja: Melestarikan Tradisi Mengembangkan Inovasi

Date:

- Advertisement -
ustaz-soleh-mahmoed-yang-dikenal-dengan-julukan-ustad-solmed-_130107212041-322
Ilustrasi/Dok.Net

SUAKAONLINE.COM — Gema Aswaja atau Gerakan Muda Ahli Sunah Wal Jamaah adalah sebuah organisasi yang mulai masuk ke UIN SGD Bandung pada 1 Muharram yang lalu. Gema Aswaja mempunyai visi dan misi “Melestarikan Tradisi Mengembangkan Inovasi”.

Berawal dari 40 orang pengurus, saat ini mereka sedang menerima pendaftaran anggota baru. Anggotanya sendiri berasal dari berbagai organisasi, baik Nahdathul Ulama (NU), Persatuan Islam (Persis) maupun Muhammadiyah. Rencananya mereka akan menerima hanya 100 orang anggota baru saja. Akan diseleksi kajiannya, wawasannya, tidak fanatik serta universal.

Gema Aswaja saat ini belum menjadi sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di UIN SGD Bandung. Walaupun begitu, mereka sedang berupaya memprosesnya. “Kalaupun menjadi UKM, itu sebagai penopang kegiatan mahasiswa. Ya, kita sih sebagai manusia hanya  bisa merencanakan, Allah yang menentukan, yang penting kita sudah usaha,” kata Muhammad Aziz, mahasiswa semester dua Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UIN SGD Bandung sekaligus ketua  Gema Aswaja.

Kegiatan dari Gema Aswaja ini sendiri diawasi oleh Dewan Pembina yang diketuai serta dinasihati oleh Rektor UIN SGD Bandung, Deddy Ismatullah dan pembinanya  Djuhaya Asmaja. Kegiatannya terbagi dari tiga program yaitu program mingguan, bulanan dan tahunan.

Kegiatan mingguan yaitu kajian bersama para guru besar serta Dewan Pembina. Bulanan yaitu pengajian bakti sosial. Tahunan yaitu mengisi acara Peringatan Hari Besar Islam, seperti Maulid Nabi, Isra Mi’raj dan lainnya.

Baru-baru ini Gema Aswaja sudah mengadakan Maulid Akbar Nasional yang dihadiri sekitar 2500 orang, meskipun tidak sedikit yang mengkritik acara tersebut. “Kita banyak mendengar, katanya kurang bagus kalau ada Gema Aswaja karena Islam itu bisa dikatakan Islam NU, Islam Persis, Islam Muhammadiyah. Padahal menurut saya, NU, Persis dan Muhammadiyah itu bukan agama tapi itu organisasi,” papar Aziz.

Mak Eneh, cerita Aziz, sesepuh pengajian ibu-ibu di Manisi yang mengalami masa-masa Rektor pertama mengatakan kepada saya, “Ayeuna mah karasa UIN teh jiga UIN. Baheula mah teu jiga UIN Ziz (Sekarang UIN baru terasa UIN-nya, dulu tidak terasa),” cerita Aziz.

Menurut Aziz, Mak Eneh mengatakan seperti itu karena masa-masa awal berdirinya IAIN ini seperti pesantren, sering diadakan pengajian, tapi setelah meninggalnya rektor pertama itu, IAIN menjadi sepi. Tapi kini mulai terbangun lagi. Karena menurut Aziz, kita UIN yang merupakan Universitas Islam sudah hampir kalah dengan ITB yang notabene-nya mempelajari eksak.

“Buya Yahya sudah masuk sana, padahalkan seharusnya kita yang mengkaji kegiatan seperti itu,” kata Aziz.

“Mungkin Pak Rektor dan guru besar lain bisa melihat kinerja dari Gema Aswaja. Kita sih kalau dikasih sumbangan ya, Alhamdulillah diterima dan diberikan kepada mubaligh, anak yatim dan jamaah,” komentar Aziz menanggapi kedekatan Gema Aswaja dengan para guru besar termasuk rektor.

Reporter : Nuru Fitry/Magang

Redaktur : Adi Permana

Share post:

Popular

Berita Terkait

Tiga Tahun Thufanul Aqsa, Sejumlah Mahasiswa UIN Bandung Serukan Perjuangan Palestina

SUAKAONLINE.COM – Dalam mengembalikan kembali ingatan serta menggemakan perjuangan...

Mahasiswa Ushuluddin Gelar Aksi, Tuntut Tindak Lanjut Dugaan Pelecehan Seksual dan Pelanggaran Etika Akademik

SUAKAONLINE.COM – Kejadian berulang terkait dugaan pelecehan seksual dan...

UIN Bandung Lepas 1.500 Wisudawan pada Wisuda ke-109, FSH Kembali Raih Adhi Jati Utama

SUAKAONLINE.COM – UIN SGD Bandung menggelar Wisuda ke-109 dengan...

Diskusi Impunitas Pelanggaran HAM dalam Merawat Ingatan September Hitam

SUAKAONLINE.COM – Pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan kekerasan...