
*Oleh: Qarin Qurnaeni
Katanya, aku napas bumi
Katanya, aku layaknya urat nadi
Tapi rasanya makin hangus di sini
Entah apa yang para insan ini cari?
Batang dijilati pijar
Arang menutupi akar
Dan puspa berhenti mekar
Sialnya, para insan bilang ini wajar
Cakrawala sudah kelabu
Surga kecil telah berubah menjadi abu
Aku masih membisu sementara para insan mulai bertanya-tanya “Mengapa para anak rimba masuk ke rumahku?”
Bodoh, bukankah itu tindak tandukmu?
Tidak sedikit insan berkalang tanah
Sebagian yang lain memekik marah
Tanah tempat berpijak mulai kehilangan ramah
Katanya “Mungkin Tuhan sedang marah”
Ketika kepulan hitam mulai berpetualang, para insan panik
Ketika tirta mulai surut, para insan tercekik
Kemudian saat rinai terdengar, mereka bilang “Ini rezeki orang baik”
Masihkah disebut baik jika membiarkan aku tercabik?
Kebinasaanku diganti dengan pundi-pundi
Tak pernah habis apa yang mereka cari
Kapan mereka berhenti?
Aku telah mati
Jika barang sebentar mereka mau mendengarkan
Aku hanya ingin memberi kehidupan
Jika besok lusa aku tetap dibinasakan
Biar kesumatku dibalaskan oleh Tuhan
*Penulis merupakan Mahasiswi Jurusan Sejarah Peradaban Islam angkatan 2024 sekaligus Anggota Multimedia LPM Suaka

