
SUAKAONLINE.COM – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) PendidikanFisika mengadakan Seminar Pendidikan Fisika sebagai rangkaian acara milad Gebyar Fisika Eureka 2019, di Aula Abjan Soelaeman, Minggu, (24/11/2019). Acara tersebut bertemakan “Optimalisasi Peran Generasi Milenial Melalui implementasi Nilai-Nilai Edukasi dan Sosio Sains Menuju Indonesia Emas 2045.”
Kegiatan ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana kehidupan manusia di zaman revolusi industri 4.0. Acara ini mengundang Guru besar Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB) Mitra Djamal dan Dindin Nasrullah. Dalam seminarnya, Mitra Djamal menjelaskan beberapa materi, diantaranya uraian generasi per-generasi, kompetensi pendidik, dan lainnya.
Mitra Djamal menjelaskan uraian generasi ke generasi dan penyebutannya. pertama, generasi builders yaitu generasi pembangunan pada tahun 1946, kedua, baby bloomers yaitu generasi pembangunan lanjut tahun 1946-1964. Ketiga, generasi X yaitu orang yang lahir pada tahun 1965-1979, keempat, generasi Y yaitu orang yang lahir pada tahun 1980-1994,
Kelima, generasi Z yaitu orang yang lahir pada rentang tahun 1995-2009 dan yang terakhir adalah generasi Alpha yaitu orang yang lahir dari tahun 2010 sampai sekarang. Ia juga menyampaikan kompetensi yang harus dimiliki para pendidik yaitu, creative, critical, competitive, collaborative, dan cooperative. Lima kompetensi ini jika dijalankan dan diamalkan oleh seorang pendidik, menurutnya akan sukses.
Revolusi industri menurut Mitra adalah suatu yang harus dilewati dan bertahap. Seperti revolusi industri 1.0 yaitu proses dimana tahap ini adalah proses menggunakan mesin uap, revolusi 2.0 proses mesin cetak, revolusi 3.0 yaitu proses sistem mekanik dan revolusi industri 4.0 adalah proses mudahnya mendapat sebuah informasi dan sistem network dan Cyber Science.
Mitra memberikan apresiasi kepada fisikawan muda dan perannya. “Sarana pembelajaran ini sangat penting dan menjadi sarana kedua selain belajar di dalam kelas. Peran fisikawan adalah memahami ciptaan Allah Swt dan harus juga menjadi orang yang merasa diri lebih kecil bahwa Allah-lah yang mempunyai alam semesta ini,” ujarnya saat diwawancarai Suaka.
Selain itu, ia menjelaskan pandangannya tentang fisikawan muda adalah ia yang mempelajari tentang ilmu-ilmu alam dan menghayati ciptaan-Nya sehingga fisikawan dapat menghayati dan mengimplementasikan nilai-nilai pengetahuan alam. Seorang pendidik harus memahami alam dulu baru dia bisa mengajarkan kepada orang lain.
Rangkaian kegiatan acara “Gebyar Fisika Eureka 2019” mendapat dukungan dari ketua Program Studi Pendidikan Fisika Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN SGD Bandung, Adam Malik. Ia menjelaskan, acara ini mendapat sambutan dari guru dan siswa dari berbagai sekolah. “Dan ini sebagai tune up atau penambahan wawasan pada keilmuan fisika yang berada di Perguruan Tinggi,” ungkap Adam.
Ia juga berharap pada semua civitas akademika bahwa harus bisa mengambil makna dan sikap kreatif, kompetitif, dan kolaboratif untuk menunjang kehidupan menuju Indonesia Emas 2045.
Reporter : Maman
Redaktur : Awla

