
SUAKAONLINE.COM – Stigma buruk terhadap menstruasi masih menjadi masalah yang kerap dihadapi masyarakat. Untuk merespons isu tersebut, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Women Studies Center (WSC) menggelar talkshow dan panggung kesenian dengan mengusung tema “Mencegah Stigma Menstruasi, Mewujudkan Akses yang Setara” di Gedung Aula Abdjan Soelaeman, Selasa (18/3/2025). Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional.
Dalam talkshow ini, pemateri Irma Riyanti menyampaikan bahwa menstruasi sebagai proses alamiah yang dialami oleh setiap perempuan, masih sering dianggap tabu di kalangan masyarakat. “Tak jarang dalam menstruasi masyarakat menyangkut pautkannya dengan hal-hal mistis, misalnya darahnya dijilat setan atau apalah,” ujarnya, Selasa (18/3/2025).
Lebih lanjut, Irma menjelaskan dua jenis stigma yang berkembang di masyarakat. Pertama, normal atau dominan understanding. kedua, terstigmakan yang biasanya dialami oleh kelompok minoritas. Stigma ini berdampak pada pelabelan terhadap perempuan sebagai kelompok yang berbeda, sehingga mempengaruhi penerimaan diri dan mengarah pada perlakuan diskriminatif dalam masyarakat. Akibatnya, aturan-aturan yang ada seringkali mengesampingkan peran perempuan hanya karena stigma tersebut.
Kemudian, pemateri Paridah Napilah menyoroti menstruasi dan stigma. Menurutnya, menstruasi merupakan hal yang normal terjadi pada perempuan sebagai tanda adanya kematangan pubertas. Selain itu, ia menjelaskan bahwa pada masa lalu seseorang yang mengalami menstruasi dianggap sebagai wanita kotor, tidak boleh didekati, bahkan barang yang disentuh oleh orang yang menstruasi pun dilarang disentuh oleh masyarakat. “Ini bukti nyata bahwa memang banyak sampai hari ini stigma terkait menstruasi itu ada,” ungkapnya.
Paridah Menekankan bahwa kegiatan-kegiatan seperti diskusi terbuka sangat penting untuk dilakukan, sehingga kita bisa paham bahwa menstruasi itu merupakan hal yang wajar terjadi terhadap perempuan. Ia berharap mahasiswa senantiasa mengedukasi masyarakat sekitar. Terutama terhadap anak-anak di sekitar kita yang baru pertama kali mengalami menstruasi serta cenderung merasa malu untuk bertanya dan mengungkapkannya kepada publik.
Sementara itu untuk mengatasi stigma ini, Irma menegaskan pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi yang berkelanjutan di lingkungan pendidikan dan masyarakat. Sosialisasi, kampanye publik, serta kerja sama antara institusi pendidikan, pemerintah, dan tokoh masyarakat diperlukan untuk mengedukasi masyarakat dan mengurangi dampak stigma menstruasi terhadap perempuan.
Salah satu peserta talkshow, Siti Sarah memberikan tanggapannya mengenai acara tersebut “Menghilight pembicara tadi, bahwasanya benar wanita haid itu bukan kotor gitu, dan pun ketika kita masuk masjid itu i’ts okay, kan zaman sekarang udah canggih ya, dengan adanya pembalut dan segala macamnya yang penting kita tau batasan, dan itu sangat penting banget,” tanggapnya.
Reporter: Safilah/Magang
Redaktur: Guntur Saputra/Suaka

