Mengurai Efektifitas CCTV Kampus 1 UIN Bandung

Date:

- Advertisement -
Dok. Suaka

Oleh: M. Shibghoh Kuncoro Putra

SUAKAOLINE.COM – Siang itu, terik matahari mulai bergeser dari puncak tertingginya. Kelas-kelas tak sepadat pagi hari, mahasiswa ramai bersenda gurau setelah selesai melaksanakan perkuliahan, parkiran terisi dengan kendaraan yang datang dan pergi silih berganti, dan masjid kampus 1 yang ramai dipenuhi mahasiswa dan dosen yang singgah sejenak untuk melaksanakan sholat Ashar berjamaah sebelum kembali melaksanakan kegiatan masing-masing.

Di balik keramaian dan suasana syahdu itu, di ruang berbeda, seorang mahasiswi Jurusan Hukum Pidana Islam (HPI) tingkat dua, Renata masih kebingungan mencari hand phone (HP)-nya yang hilang di dalam tas setelah ia tinggal untuk berwudhu. “Kita nyimpen tas disitu, HP dimasukin ke dalam tas, wudhu. Selesai wudhu, ambil tas langsung sholat ke atas, tapi dicek di tas tuh ga ada HP sama sekali,” jelasnya. Ia meraba bagian dalam tasnya, merapikan isinya berharap tertindih barang lain, ponselnya hilang tanpa jejak.

Berbagai macam kemungkinan ia coba, hingga terbesit di benaknya untuk memeriksa CCTV yang ada di sekitar masjid. Segera ia bertanya pada Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Iqomah apakah CCTV di area tersebut berfungsi. Namun, jawaban yang diterima sama sekali tak memberikan harapan. “Katanya ada, tapi emang ga nyala. Terus tadinya kan emang pengen ngecek aja ke ruang CCTV-nya, siapa tau masih ada lah sedikit yang nyala, ternyata emang ga ada sama sekali yang nyala,” kesahnya.

Dibantu satpam dan teman-temannya ia tetap mencari menggunakan aplikasi pelacak. Setelah dideteksi, hp-nya menunjukan lokasi di sekitar kampus, tepatnya di gedung Ex-Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI). Ia bergegas ke lokasi dengan penuh harap yang akhirnya rapuh, setelah tiba dan menelusuri setiap jengkal dari gedung tersebut keberadaan hp-nya tak kunjung ditemukan.

Tak menyerah, terbesit dibenaknya untuk memeriksa kamera pengawas yang ada di gedung tersebut untuk melihat tanda-tanda pergerakan mencurigakan. Namun hasilnya nihil, kondisi CCTV di sana tak jauh berbeda dengan yang ia temukan di area masjid. “Emang di situ tuh katanya ngeliat CCTV di sekitar gedung ex-FEBI ga ada, ga ada yang nyala CCTV-nya,” lanjutnya.

Keresahan serupa juga dialami oleh Triska, alumni angkatan 2021 yang kehilangan sepeda motor. Ia menuturkan bahwa siang itu, ia memarkirkan motornya di depan perpustakaan, namun di sore hari, ia melihat motornya hilang tanpa jejak. “Setelah jam lima aku selesai berkegiatan, ternyata motor yang terparkir di depan perpustakaan itu sudah tidak ada,” ungkapnya.

Ia sempat berpikir motornya ada yang memindahkan, namun setelah melakukan pencarian ia sama sekali tak menemukan tanda-tanda keberadaan motornya. Ia pun mencoba untuk menanyakan kepada satpam setempat dan satpam di depan pintu gerbang, namun ia dibuat bingung karena pihak keamanan mengatakan bahwa pihak satpam itu hanyalah outsourcing yang tidak bisa menindaklanjuti dan memiliki kewajiban untuk menelusuri secara lebih dalam. “Akhirnya satpam menyarankan untuk kembali di esok hari dan menemui pihak aljamiah,” katanya.

Dok. Suaka

Keterbatasan Akses Pengawasan bagi Satuan Pengamanan (Satpam)

Saat awak Suaka mengonfirmasi kepada satpam di pintu gerbang, salah satu satpam, Ali mengatakan dirinya dengan satpam lain memiliki keterbatasan dalam mengakses seluruh CCTV di kampus kampus. Ia bersama rekannya, Kunkun menjelaskan bahwa satpam hanya memiliki akses CCTV di sekitar gerbang kampus saja dengan monitor yang terpasang di pos satpam. “Itu aja, itu kan hanya yang ada di pos satpam aja kita,” ucapnya menunjukan letak monitor.

Menurutnya, sebagai pihak yang bertanggung jawab langsung atas keamanan, mengaruskannya memantau langsung kamera pengawas secara real-time, mengantisipasi pergerakan mencurigakan, atau dapat memverifikasi laporan jika terjadi kehilangan secara cepat. Namun tugas tersebut menjadi tidak optimal sebab akses yang terbatas.

“Satpam we jadi tameng, hayu we ada kehilangan motor, kurang kumaha satpam? aya kunci ngegantung, sapoe menang sabelas, tujuh belas, ampikeun, ampikeun, masih kene aya nu leungit, komo lamun eta teh bawel, ‘satpam eweh gawena’ (Selalu satpam yang menjadi tameng ketika ada kehilangan motor. Kurang apa satpam? Sehari dapat 11-17 kunci yan diamankan, masih tetep ada yang hilang. Apalagi kalo cerewet bilang ‘satpan gak ada kerjanya’,” tanggap Kunkun.

Dok. Suaka

Akses Eksklusif Demi Pengamanan

Berbeda kondisi dengan yang terjadi di lapangan. Di ruangan yang penuh berkas dan peralatan kantor, di tengah satu-satunya gedung yang menjadi pusat seluruh administrasi kampus (Al-Jamiah) awak suaka mengonfirmasi kepada Kepala Subbagian (Kasubag) Rumah Tangga, Cahyanto.

Ia mengonfirmasi bahwa akses pemantauan kamera CCTV yang tersebar di lingkungan kampus tidak dapat diakses oleh semua orang bahkan untuk satpam sekalipun. Kebijakan ini dilakukan dengan dalih keamanan dan mencegah kemungkinan yang tidak diinginkan. Hanya orang-orang tertentu yang diberi kepercayaan untuk mengakses CCTV dan status mereka dirahasiakan.

“Ada yang megang dari pihak satpam juga. Ga mungkin ane kasih tau ente si anu. Ada, tapi kita gak bisa menyatakannya. takut dia terintimindasi atau seperti apa, seperti apanya, gitu aja. Tapi maaf nih, misal ada kejadian nih, orang itu kita tugaskan khusus aja, nanti kita ketika nanya ‘coba liat jam ini di tempat ini’, itu ada aplikasinya kok ga harus di computer atau laptop, karena di HP juga bisa,”  terangnya.

Ia juga menjelaskan bahwa segala hal yang berkaitan dengan pemeliharaan CCTV dilakukan dengan bantuan eksternal sebab kampus tidak memiliki teknisi khusus yang ditugaskan memeriksa kamera setiap hari. Seluruh perbaikan bergantung pada vendor pihak ketiga sehingga apabila tidak terdapat laporan kerusakan, kamera tidak akan diperiksa.

Sebanyak 28 dari total 36 CCTV aktif di Kampus 1, ia menjelaskan alasan teknis mengapa CCTV di kampus sering mengalami gangguan dan kehilangan sebab CCTV yang terpasang mengandalkan jaringan Wi-Fi gedung. Hal ini dinilai lebih efisien dan minim resiko dibanding harus menghubungkan sinyal  dengan kabel. “Lebih berisiko kabel itu, belum ada tikus. belum ada yang outdoor kan. Kepanasan, kehujanan. Lebih berisiko kalau kabel,” tambahnya.

Mengenai mekanisme pengajuan pemantauan CCTV bagi mahasiswa atau seseorang yang kehilangan barang di lingkungan kampus. Ia menegaskan jika terjadi kehilangan, mahasiswa harus membuat surat laporan kehilangan resmi dari kepolisian terlebih dahulu untuk menghindari penyalahgunaan akses. “Misal, kamu memberikan laporan ke kepolisian, kemudian ternyata kamu teh komplotan, nah itu bisa kena banyak pasal. Kita juga perlu hati-hati,” tuturnya.

Dok. Suaka

Berharap Kehadiran Sistem Pemantauan yang Optimal

Ali menuturkan harap agar kedepannya pengelolaan sistem pemantauan keamanan kampus dapat menjadi lebih jelas dan terawat. Ia juga berharap agar kampus menyediakan satu ruangan khusus tempat pihak keamanan bisa memantau kondisi kampus secara menyeluruh melalui CCTV.

Baginya, langkah tersebut merupakan upaya konkret untuk mencegah dan mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.“Harusnya kan, misal bikin lah satu ruangan khusus untuk mantau CCTV. Kita stand by sambil santai memantau. Saat melihat hal yang mencurigakan, bisa langsung dicek. Tapi kan hingga kini saat udah kejadian hal yang tidak diinginkan baru lihat CCTV, kan buat apa?” tanggapnya.

Di sisi lain, Renata yang sejak awal mengalami sendiri kebingungan dan kehilangan di lingkungan kampus, turut menyampaikan harapannya. Menurutnya, fasilitas pengamanan kampus seperti CCTV harus diperbaiki agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya dan meminimalisir kasus kehilangan yang terus terjadi di lingkungan akademik.

 “CCTV yang terpasang tuh tolong dinyalain gitu ya. Kayak di parkiran atau tempat kemarin aja kehilangan HP. Karena kan itu tuh sebuah bukti penting gitu ya. Buat kita tahu siapa pelakunya. Kalau misalkan dari banyaknya CCTV yang dimatikan atau yang ga boleh mahasiswa tau gitu. Gimana kita mau tau barang yang hilang diambil sama siapa,” tutupnya.

Redaktur: Mujahidah Aqilah/Suaka

Share post:

Popular

Berita Terkait

UIN Bandung Lepas 1.500 Wisudawan pada Wisuda ke-109, FSH Kembali Raih Adhi Jati Utama

SUAKAONLINE.COM – UIN SGD Bandung menggelar Wisuda ke-109 dengan...

Diskusi Impunitas Pelanggaran HAM dalam Merawat Ingatan September Hitam

SUAKAONLINE.COM – Pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan kekerasan...

Terhalang UKT, Mahasiswa Baru Menanti Keringanan di Ambang Pengunduran Diri

SUAKAONLINE.COM - Di tengah banyaknya mahasiswa baru yang sudah...

Mahasiswa Baru PBAK 2026 Berceceran, Kurangnya Pengawasan dan Fasilitas Kampus

SUAKAONLINE.COM - Sebanyak 7.503 mahasiswa baru mengikuti Pengenalan Budaya...