
SUAKAONLINE.COM – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) UIN SGD Bandung menggelar Closing Harmonic Tafseer 8 bertajuk “Where Harmony Blooms, Our Quranic Heritage Lives On” di Gedung Abjan Soelaiman, Jumat (17/4/2026). Puncak milad ke-8 ini menghadirkan Sherly Annavita Rahmi dengan topik “Berani Bersuara di Ruang Publik: Antara Idealisme, Risiko, dan Tanggung Jawab”.
Dalam materinya, Sherly Annavita menekankan bahwa pemuda memiliki energi besar dan keberanian melawan arus, sebagaimana sejarah Rengasdengklok hingga Reformasi 98. Ia menyebut perbedaan kualitas anak muda terletak pada leher ke atas, yakni cara berpikir dan apa yang dibicarakan. “Letak takdir ada di titik maksimalnya usaha dan doa. Jika ingin menghancurkan bangsa, hancurkanlah anak mudanya,” tegas Sherly, Jumat (17/4/2026).
Lebih lanjut, ia membedah bahwa anak muda seringkali terhambat oleh rasa takut akan kegagalan, kritik, hingga zona nyaman. Sherly mendorong mahasiswa agar energi yang dimiliki disalurkan menjadi sebuah suara (voice), bukan sekadar kebisingan (noise). Menurutnya, bukan seberapa banyak yang dilakukan, melainkan dampak apa yang dihasilkan dari tindakan tersebut bagi lingkungan sosial dan intelektual.
Ditemui di sela acara, Ketua Pelaksana, Tria Azzahra Putri, menilai kemudahan teknologi harus dimanfaatkan lebih dari sekadar konsumsi konten pasif. Ia mendorong mahasiswa agar aktif bersuara di ruang daring. “Digital jangan hanya untuk scrolling, tapi harus berani bersuara di ruang publik ketika ada hal yang harus disuarakan,” ujar Tria.
Setelah sesi materi dan diskusi berakhir, suasana di dalam gedung dihangatkan dengan penampilan religi yang dibawakan oleh Ahmad Widani bersama Malika Khairunnisa sebagai guest star. Mereka membawakan lagu sholawat untuk menghibur para pengunjung yang telah menyempatkan waktu untuk hadir dalam acara tersebut.
Sementara itu, Panitia Bidang Acara, Gavin Daffa Al Kahfi, menegaskan bahwa tema kegiatan yang diangkat adalah sebagai bentuk refleksi tanggung jawab besar mahasiswa sebagai agen perubahan. Baginya, menyuarakan kebenaran adalah kewajiban moral saat melihat penyimpangan. “Ketika naik ke jenjang mahasiswa, ada tanggung jawab lebih besar. Bersuara itu keharusan, bukan hal aneh. Sudah ranahnya kita menyuarakan yang benar,” tegas Gavin.
Gavin menjelaskan bahwa nilai keberanian tersebut juga diwujudkan melalui aksi sosial santunan anak yatim sebagai pengaplikasian Q.S. Al-Baqarah ayat 220. Momen ini menjadi sarana bagi jurusan IAT untuk terjun langsung membantu warga melalui aksi nyata. Menurutnya, penyaluran bantuan ini menjadi pembeda utama dari milad tahun-tahun sebelumnya sebagai wujud kepedulian yang lebih inklusif.
Gavin menambahkan bahwa aksi sosial tersebut menyasar 15 anak yatim di wilayah RT 01 Manisi. Panitia melakukan pendataan langsung melalui pengurus RT setempat guna memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran bagi warga yang membutuhkan. Melalui kolaborasi ini, ia berharap pihak jurusan dapat mempererat hubungan emosional antara civitas akademika dengan masyarakat sekitar.
Salah satu pengunjung, Tifa Astrianti, mengaku mendapat perspektif baru mengenai keberanian berpendapat. Ia menilai kegagalan dalam bersuara bukanlah halangan, melainkan bagian dari proses perjuangan. “Jangan takut untuk menyampaikan. Orang yang tidak pernah gagal, berarti tidak pernah berjuang. Kegagalan itu guru paling baik,” tutup mahasiswi jurusan Matematika Sains di akhir wawancaranya.
Reporter: Herlin Widia Maulida/Magang
Redaktur: Amelia Sri Agistiani/Suaka

