
SUAKAONLINE.COM – UIN SGD Bandung mengukuhkan 17 guru besar dalam rangkaian Dies Natalis ke-58 di Aula Anwar Musaddad, Kampus I, Selasa (7/4/2026). Acara yang mengangkat tema “58 tahun meneguhkan keunggulan: dari kampus keilmuan menuju peradaban” ini menegaskan tanggung jawab serta peran yang harus diemban oleh para guru besar.
Sekretaris Senat UIN SGD Bandung, Asep Muhyiddin menyampaikan bahwa arti dari tema pengukuhan ini mencerminkan peran perguruan tinggi yang harus terus berkembang, berkontribusi, serta mampu menjawab tantangan zaman. Tak hanya itu, ia juga menegaskan bahwa acara ini sebagai upaya mengukuhkan arah agar ilmu yang dimiliki bukan sekedar tumpukan karya. “Para guru besar yang dikukuhkan, menjadi kompas untuk membangun kampus menjadi lebih baik dan negeri yang lebih maju,” jelasnya, Selasa (7/4/2026).
Sejalan dengan itu, Rektor UIN SGD Bandung, Rosihon Anwar, dalam pidatonya menegaskan bahwa pengukuhan guru besar merupakan tonggak intelektual yang membawa tanggung jawab moral yang semakin besar. Ia juga mendorong para guru besar untuk terus aktif meneliti dan berkontribusi melalui publikasi ilmiah.
Dalam pidatonya, Ketua Senat UIN SGD Bandung, Mahmud, menyampaikan bahwa tanggung jawab yang harus dimiliki guru besar adalah sebagai rujukan dalam berucap dan bertindak di lingkungan akademik, serta diharapkan memberi kontribusi nyata bagi kemajuan kampus.
Lebih lanjut, Asep menjelaskan bahwa guru besar memiliki peran strategis sebagai pilar utama dalam pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sekaligus menjadi pionir dan panutan bagi civitas akademika. Selain itu, ia berharap para guru besar yang baru saja dilantik mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat luas sesuai visi kampus, yakni rahmatan lil alamin. “Guru besar harus menjadi payung bagi kalangan akademik dan memberikan arahan serta bimbingan,” katanya.
Salah satu guru besar Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) yang baru dikukuhkan, Hariman Surya Siregar, dalam wawancaranya mengakui bahwa gelar guru besar merupakan amanah besar yang menuntut kontribusi keilmuan berkelanjutan. Ia pun menegaskan bahwa pengukuhan bukan akhir dari berkarya, justru awal untuk terus mengeksplorasi ilmu dan mengabdi kepada bangsa.
Ia menambahkan bahwa setelah dikukuhkan, guru besar harus menjadi pionir dan contoh bagi dosen-dosen lainnya, terutama dalam aspek inovasi kegiatan pembelajaran. “Kita pun sebagai dosen, harus dapat bertanggung jawab dan profesional saat melakukan edukasi pembelajaran dalam aspek apapun,” terangnya.
Terakhir, Asep berpesan kepada para guru besar yang baru dikukuhkan agar senantiasa menjaga jati diri sebagai akademisi dengan menunjukkan perilaku dan tindakan yang dapat menjadi suri teladan. “Sebagai dosen, guru besar memiliki tanggung jawab dalam menjalankan proses akademik, seperti membimbing, mengajar, serta melakukan penelitian dan kegiatan ilmiah lainnya,” pungkas Asep diakhir wawancaranya.
Reporter: Chairil Dwi Mufarriji/Magang
Redaktur: Zahra Zakkiyah/Suaka

