Meramu Harapan dalam Setangkai Bunga

Date:

- Advertisement -
Seorang pembeli tengah memilih gantungan kunci berbentuk bunga dari pedagang bunga rajut dan bunga kawat bulu pada acara wisuda ke-104 UIN Bandung di depan gedung ex Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Sabtu (23/8/2025). (Foto: Zahra Zakkiyah/Magang)

SUAKAONLINE.COM – Di antara riuhnya para wisudawan UIN Bandung dengan wajah yang sumringah bahagia, Euis yang tak kenal lelah menaruh harapan lewat setiap tangkai bunga yang ia rangkai. Tujuh tahun lamanya ia setia pada pekerjaannya, berbagai momentum kelulusan ia lalui, jadi saksi bisu momen berharga bagi seorang mahasiswa di akhir perjuangan kuliahnya.

Jauh sebelum hari wisuda tiba, persiapan Euis sudah dimulai. Tiga hari sebelumnya, ia mulai memilih bunga, membeli kertas cellophane hingga mulai sibuk merangkai bunga. Euis tidak berangkat sendiri, ia bersama enam penjual bunga lain yang sekaligus saudaranya, selalu berangkat bersama. “Kita biasanya berkomunikasi melalui grup WhatsApp untuk mengatur segala persiapan dan titik kumpul,” ucapnya

Awalnya, ia mengaku hanya iseng merangkai bunga karena hobi. Namun, kegemarannya kini menjadi sumber penghasilan. Ia belajar merangkai bunga secara otodidak, meniru berbagai model yang ia temukan di Google dan YouTube. Berbagai jenis bunga yang ia jual, mawar putih, mawar merah, dan bunga jenis baby’s breath yang ia petik langsung dari kebun bunganya sendiri.

Namun, kadang kala ia harus menghadapi kendala sebagai seorang tukang bunga dengan bersumber dari tamannya, bunganya tidak selalu mekar sesuai dengan jadwal sehingga ia harus meng-suply bunga dari tempat lain. “Kadang suka belum ada bunganya karena bunga itu hanya ada tiga bulan sekali,” ujarnya dengan wajah sendu.

Euis dan rombongannya berangkat menggunakan mobil, biasanya H-1 sebelum acara. Perjalanan dari rumah memakan waktu sekitar satu setengah jam. Ia dan rombongan tidak kembali pulang setelah sampai, melainkan menginap di lapak jualan mereka dengan tikar seadanya. Untungnya, mereka diperbolehkan oleh pihak satpam asalkan tidak mengganggu ketertiban “Saya tidur saja di lapak saya di bawah situ bareng sama saudara rombongan,” katanya seraya menunjuk.

Mereka rela mengesampingkan kenyamanan demi menjemput rezeki untuk kehidupan. Momen kebersamaan ini menjadi bukti bahwa di balik setiap bunga, ada ikatan kekeluargaan yang erat, dan harapan yang sama “Saya berangkat bareng dan tidur disini bareng sama saudara saya, pasti kita juga berharap jualannya habis dan usahanya makin berkembang,” tuturnya dengan senyum keikhlasan

Seikat Fresh Flower di tengah Gempuran Tren Bunga Baru 

Keramaian keluarga wisudawan memenuhi halaman Gedung Anwar Musaddad. Dari celah kerumunan, seorang pedagang sederhana berjalan pelan sambil membawa keranjang bunga segar sembari menawarkan bunganya. Ia adalah Ahmad Jelani, seorang penjual fresh flower yang memilih berkeliling menjemput pembeli.

Dulu, ia berdagang dari lapak kecil, menunggu orang datang menghampiri. Namun kini, menurutnya, persaingan kian ketat. Deretan buket uang, boneka, hingga bunga palsu yang lebih tahan lama, membuat lapak tak lagi ramai. Di acara wisuda kali ini, Ahmad tak tinggal diam, ia bergerak menyusuri kerumunan keluarga wisudawan, menawarkan seikat bunga segar dengan senyum sederhana yang tergambar di wajahnya.

Perjalanan Ahmad selalu dimulai dari Cianjur. Tiga hari sebelumnya, sang istri telah sibuk merangkai bunga, memilah mawar dari pemasok, menyiapkan edelweis yang ditanamnya, hingga mengikat setiap rangkaian dengan rapi. Pukul empat subuh, motor tuanya melaju menuju Bandung. Keranjang penuh bunga terikat erat di belakang, menjadi bekal dagangan sekaligus harapan. “Dulu mah enak, jualan di lapak, saingannya masih sedikit. Sekarang banyak buket baru. Kalau tidak habis ya dibuang,” ucapnya pelan.

Lebih dari satu dekade ia bertahan dengan jalan yang sama, menjual bunga segar di momen wisuda, meski untungnya kian tipis. Ia hanya berharap jualannya ramai kembali dan membawa rezeki pulang bagi keluarganya di Cianjur.

Tak jauh beberapa meter dari keberadaan Ahmad, awak Suaka menemui seorang perempuan paruh baya tampak duduk beristirahat dengan keranjang bunga di depannya. Tatapannya terlihat lelah, seakan tenaganya terkuras setelah berkeliling menawarkan dagangannya sejak pagi. Namanya Juminah, pedagang bunga yang sudah sepuluh tahun menjajakan bunga segar di setiap acara kampus.

Setiap kali wisuda tiba, Juminah bersama rombongan pedagang bunga lainnya telah terbiasa menyarter angkot, menempuh perjalanan panjang menuju kampus-kampus di berbagai kota. Di dalamnya, keranjang-keranjang penuh bunga berguncang mengikuti jalanan, seolah membawa harapan yang tipis. “Kalau nggak laku, ya kebuang, beda sama bunga palsu yang tahan lama. Modalnya besar, tapi ya sudah, resikonya memang begitu,” katanya lirih.

Bagi Ahmad maupun Juminah, bunga segar bukan sekadar dagangan, tapi juga napas harian. Namun di tengah gempuran tren buket modern, menurut mereka, bunga segar yang dulu menjadi primadona kini kian sulit terserap. Meski begitu, Ahmad dan Juminah tetap menyelipkan harapan di setiap tangkai bunga yang dijualnya, meski tahu bahwa tidak semua bunga akan menemukan tangan penerimanya.

Inovasi Buket Bunga di Era Digital

Disisi lain, seorang anak muda yang memiliki inovasi buket di era digital, dari layar ponsel yang menyala, ada sebuah cerita yang mekar dari kelopak-kelopak bunga. Bukan tentang toko bunga dengan etalase kaca yang berkilauan, melainkan tentang sebuah toko digital yang bertumbuh di sela-sela jari, digerakkan oleh niat dan kreativitas. Nayla adalah orang dibalik inovasi tersebut, ia perangkai bunga yang tak hanya mengandalkan lapak fisik, tetapi juga mencari rezekinya di dunia maya.

Bagi Nayla, berjualan buket merupakan karya seni. Awalnya, ia memulai dari sebuah kreativitas. Bunga segar ia ambil dari orang lain, namun ia tak lantas menjualnya begitu saja. Di tangannya, buket-buket itu berubah rupa. “Aku rangkai, disatu-satuin, dirapihkan dengan kertas craft agar menarik pembeli,” katanya, dengan raut wajah bersemangat.

Proses tersebut membutuhkan ketelitian dan waktu, bahkan bisa sampai satu jam untuk beberapa buket. Namun, seiring berjalannya waktu, ia menjadi mahir. Kini, ia dan sang kakak, rekan setianya, bisa merampungkan sepuluh hingga belasan buket dalam satu jam. Selain berjualan fresh flower dua bersaudara tersebut juga menjual berbagai buket seperti buket uang dan buket boneka.

Ia menjalankan bisnisnya di dua media, daring dan luring. Di satu sisi, ia memiliki lapak luring yang ia buka saat musim-musim tertentu, seperti wisuda. Di sisi lain, ia juga mengelola toko daringnya, menjangkau pembeli di dunia digital. “Kita juga ada online shop suka banyak lah pembeli dari sekitaran Bandung,” ujarnya. Sejak tahun lalu, ia telah membuka toko daringnya, memperluas jangkauan pembeli dan menjangkau mereka yang tidak bisa datang langsung ke lapaknya.

Meskipun potensi pasar daring sangat besar, Nayla mengakui ada tantangan yang tidak mudah. Di balik setiap pesanan, ada cerita baru. “Customer online itu terkadang ada yang bawel,” katanya sambil tersenyum. Seringkali, ekspektasi mereka tidak sejalan dengan realitas. Nayla harus bersabar menghadapi pelanggan online dengan berbagai karakter.

Setiap buket adalah karya seni yang rapuh. Perjalanan dari tangan perangkai hingga ke tangan pembeli adalah sebuah misi yang harus dipastikan aman. Setiap hiasan buket harus dilindungi, agar buket tetap indah saat tiba di tujuan. Tentunya ada tantangan logistik yang tak kalah rumit, yaitu pengemasan. “Packagingnya harus dipastikan aman sampai customer,” jelasnya. dengan tutur kata yang ramah.

 

Reporter: Zahra Zakkiyah/Magang dan Nurul Hikmah Azzahro/Magang

Redaktur: Mujahidah Aqilah/Suaka

Share post:

Popular

Berita Terkait

UIN Bandung Lepas 1.500 Wisudawan pada Wisuda ke-109, FSH Kembali Raih Adhi Jati Utama

SUAKAONLINE.COM – UIN SGD Bandung menggelar Wisuda ke-109 dengan...

Diskusi Impunitas Pelanggaran HAM dalam Merawat Ingatan September Hitam

SUAKAONLINE.COM – Pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan kekerasan...

Terhalang UKT, Mahasiswa Baru Menanti Keringanan di Ambang Pengunduran Diri

SUAKAONLINE.COM - Di tengah banyaknya mahasiswa baru yang sudah...

Mahasiswa Baru PBAK 2026 Berceceran, Kurangnya Pengawasan dan Fasilitas Kampus

SUAKAONLINE.COM - Sebanyak 7.503 mahasiswa baru mengikuti Pengenalan Budaya...