
SUAKAONLINE.COM – Demi menjaga keamanan mahasiswa dan civitas akademika UIN SGD Bandung, Wakil Rektor 1, Dadan Rusmana mengeluarkan Surat Edaran Rektor Nomor B-1611/Un.05/1.1/PP.00.9/08/2025 tentang penyesuaian pelaksanaan perkuliahan dan layanan akademik di lingkungan UIN SGD Bandung. Melalui edaran yang ditetapkan pada tanggal 30 Agustus 2025 itu, kampus memutuskan pelaksanaan perkuliahan dilaksanakan secara daring pada tanggal 1-6 September 2025.
“Kondisi nasional yang terjadi chaos yang diakibatkan oleh beberapa faktor yang memunculkan ketidak amanan. Disisi lain juga hal ini untuk mendukung protes-protes yang konstruktif dan legal” jelasnya saat di wawancarai, Rabu (3/9/2025). Menurutnya, kebijakan ini dibuat berdasarkan imbauan dari kementerian untuk menjalankan work from home/work from anywhere.
Ia menjelaskan bahwa dengan adanya kebijakan ini bukan berarti membatasi peran mahasiswa untuk menyuarakan aspirasi dan kritik mereka, namun juga mendukung hak menyuarakan pendapat, saran, dan kritik. “Tapi di satu sisi, ada konstruksi dan eskalasi seperti harus mengambil langkah-langkah yang persuasif, kondusif untuk melaksanakan hal itu,” tambahnya.
Dadan pun menyampaikan informasi bahwa situasi di Bandung sudah mulai mereda dan eskalasi menurun setelah aparat mengidentifikasi provokator serta melakukan langkah preventif. “Semalam saya melakukan Zoom dengan beberapa pihak, sekarang sudah mulai mereda, konsolidasinya juga sudah mulai down lagi, ya artinya eskalasinya sudah menurun,” ujarnya.
Ia menegaskan aspirasi tetap boleh disampaikan selama beretika dan berbasis data. Terkait perkuliahan, ia menyebut daring hanya berlaku satu pekan kecuali ada kejadian luar biasa. “Kabar menggembirakannya itu ialah semalam, nampaknya perkuliahan online ya pekan ini saja,” paparnya.
Disampaikan pula bahwa perkuliahan online pada pekan ini sudah digunakan sekitar 7-8% dari toleransi perkuliahan daring, ia berharap agar kedepannya sistem perkuliahan tetap berjalan sesuai dengan aturan. “Peraturan 70 persen wajib luring itu kan untuk mengatur supaya tidak kebablasan online, karena ada hal yang tidak bisa didapatkan dari sekedar perkuliahan online,” jelasnya.
Sejalan dengan Dadan, dosen Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), Yayan Muhammad Rayani, menanggapi perkuliahan daring dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk menggabungkan idealisme dengan tanggung jawab akademik. “Mahasiswa masih bisa melakukan studi meskipun dia memikirkan bagaimana tujuan idealisme sebagaimana demo itu dilaksanakan, juga ada kesempatan bagi yang masih memegang idealisme untuk terus mengawal,” ujarnya.
Menurutnya, mahasiswa sebagai agen perubahan sosial tidak hanya mencari pengetahuan di dalam kelas saja tetapi juga dalam kehidupan nyata serta turut andil bersama masyarakat. “Harus ada kontribusi terhadap masyarakat dan jangan sampai dikotomi, artinya adalah memisahkan antara akademik dan sumbangsi mahasiswa kepada masyarakat karena tridharma itu mencakup semua elemen,” tambahnya.
Menanggapi hal ini, salah satu mahasiswa baru, Alisa, mengaku sangat menyayangkan perkuliahan pertamanya harus dilakukan secara daring, meski memahami kondisi yang terjadi. “Kalo maba kan punya semangat baru ya untuk mengenal lingkungan kampus, dosen-dosennya, temen-temen. Jadi lebih ke menyayangkan aja kenapa harus daring,” ungkapnya saat diwawancara, Selasa (2/9/2025).
Ia pun menambahkan bahwa ia lebih nyaman dengan perkuliahan tatap muka, tetapi untuk saat ini ia mendukung kebijakan kampus. “Sudah pasti offline lebih masuk materinya, terus kalo offline tuh mau nanya juga bisa langsung detik itu di tempat itu, tapi kalau online tuh ada kendala, kadang kalo mau nanya pun karena belum kenal dosennya jadi agak segan,” tambahnya.
Reporter: Amel Sri Agistiani/Magang dan M. Shibgoh Kuncoro/Suaka
Redaktur: Mujahidah Aqilah/Suaka

