
SUAKAONLINE.COM – Massa yang terdiri dari mahasiswa dan warga sipil setempat mengerumuni gerbang Gedung DPRD Jawa Barat pada aksi demonstrasi yang bertajuk “Indonesia Disaster”, Senin (15/6/2026). Aksi ini dilakukan sebagai bentuk ketidakpuasan masyarakat atas kondisi ekonomi Indonesia yang dinilai berantakan, seperti kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dolar dan kenaikan harga BBM nonsubsidi beberapa hari lalu.
Melansir dari Google Finance, nilai tukar rupiah terhadap dolar menyentuh titik tertinggi dalam sejarah Indonesia pada hari Senin (8/6/2026) yakni senilai Rp18.190 per USD. Selain itu, PT Pertamina Patra Niaga juga menaikkan harga BBM nonsubsidi. Harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250, sementara Pertamax Green naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liternya.
Akibatnya, masyarakat terutama mahasiswa merasakan adanya kenaikan harga bahan baku dan kenaikan kebutuhan penunjang kuliahnya. Hal ini disampaikan oleh Ketua Badan Eksekutif Mahasiswaa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (BEM FEB) Universitas Islam Bandung (Unisba), Muhammad Raenaldi.
“Seperti kebutuhan, kalau misalkan untuk mahasiswa akhir biasanya kebutuhan yang kayak gimana ya, misal dollar 18 ribu, gue masih harus disuruh print skripsi gitu kan. Maksudnya kayak gitu, itu dampak paling terasa. Mungkin yang paling terasa itu kepada masyarakat juga itu dampak langsung di mana bahan-bahan baku sekarang udah melambung tinggi, sangat naik sekali,” ujarnya, Senin (15/6/2026).
Senada dengan Raenaldi, dampak kenaikan harga di masyarakat juga diutarakan oleh mahasiswa yang kuliah sambil bekerja di pasar, Fathir Muhammad. Ia membandingkan bahwa sebelum kenaikan nilai tukar dolar dan BBMi, ia masih bisa menyisihkan uang keuntungan untuk ditabung. “Sekarang harga beli menipis harga jual semakin melonjak, jadi saya sebagai mahasiswa sekaligus pedagang merasa keuntungan saat ini tuh menipis banget yak arena pengaruh ekonomi, bahkan kita jadinya rugi banget,” katanya.
Selain pada pasar dalam negeri, kenaikan harga juga terjadi pada pasar impor. Keluhan ini diungkapkan oleh mahasiswa Ilmu Politik UIN SGD Bandung yang memiliki usaha jual beli Iphone, Fahri. Dirinya merasakan sulitnya mencari dan menjual produk dikarenakan harga pasar global sedang naik imbas kenaikan nilai tukar dolar terhadap rupiah.
Lebih lanjut, ia menjelaskan pengeluarannya untuk kebutuhan sehari-hari turut meningkat. “Saya merasakan betul dari uang jajan dan uang makan dari ortu yang dulunya bisa untuk ditabungkan sekarang makin sulit untuk menyisihkannya untuk menabung, bahkan saat ini pun makan tuh yang darinya 3x sehari jadi 1-2x sehari, itu pun makan bareng-bareng dengan teman-teman,” ungkapnya.
Untuk mengatasi permasalahan ini, Raenaldi menyarankan para mahasiswa untuk mempelajari dan mengawal ekonomi Indonesia sampai titik terbaik. “Jangan menelan mentah-mentah semua informasi, tapi tolong kaji, tolong pelajari lebih lanjut, jadi kita bisa tau tindak lanjut apa yang kita, harus kita lakukan. Tapi untuk saat ini solusinya adalah kita kawal terus, kita bawa perubahan sampai pada titik yang terbaik, sampai kita menang,” tutupnya.
Reporter: Amelia Sri Agistiani dan Rafif Asya Andhika/Suaka
Redaktur: Mujahidah Aqilah/Suaka

