SUAKAONLINE.COM – Seorang jurnalis dan pembaca harus disiplin verifikasi atas informasi yang ia dapat atau peroleh sebelum dan sesudah tersaji menjadi sebuah berita. Disiplin verifikasi ini nantinya menghindarkan pembaca dan jurnalis akan berita kibul atau hoaks.
Jurnalis Hukum Tempo, Syailendra Persada mengatakan, saat jurnalis memperoleh data dan informasi harus memverifikasi, Check and re-check fakta yang benar terjadi. “Prinsip dasar dalam suatu berita yaitu 5W+ 1H, ketika mendapatkan berita check unsur 5W+1H-nya. Berita yang tidak mengandung 5W+1H merupakan berita yang tidak solid dan tidak kokoh,” tegasnya saat menjadi pembicara dalam acara Tempo Goes To Campus yang bertemakan “Lawan Kabar Kibul” di Isola Resort UPI Kota Bandung, Sabtu (28/04/2018).
Persada mengatakan seorang jurnalis harus konsisten dalam memakai kaidah jurnalistik. Jika seorang jurnalis mendapatkan suatu informasi, maka harus check one by one berita tersebut. Menurutnya, tugas pers itu bukanlah menebar kebencian dan menyebarkan prasangka, akan tetapi melenyapkan keduanya dan mengomunikasikan akan saling pengertian terhadap sesama.
Pria alumni Undip ini menginformasikan, sikap yang harus dimiliki oleh seorang jurnalis maupun pembaca adalah skeptis atau meragukan terhadap kekredibilitasan berita tersebut. Pertanyakan dari mana sumbernya dan dan kritisi serta analisa secara tajam kebenaran berita tersebut. Hal tersebut merupakan hal yang sangat penting dalam melawan kabar hoaks.
Chairperson Next Generation Indonesia, Khemal Andrias mengatakan, masyarakat akan mampu terhindar dari berita hoaks yaitu dengan memahami konsep digital literasi. Menurutnya, berita hoaks yang diterima atau disampaikan itu seperti benar padahal belum tentu benar.
Digital literasi merupakan kemampuan bagaimana membaca, menulis dan mengelola serta menghitung bahkan menciptakan konten digital. Dengan memahami konsep digital literasi maka ia sudah terbentengi dengan keadaan saat ini.
Khemal memamaparkan mengenai kemampuan dalam digiltal literasi di antaranya; kemampuan teknik literasi, media literasi dan sosial literasi. Teknik literasi itu bagaimana seseorang bisa mengoperasikan teknik dasar digital itu. Misalnya menyalakan telepon genggam, menyalakan komputer dan membuat akun.
Lalu, media literasi yaitu bagaimana membedakan setiap media antara media A dan B. Misalnya membedakan antara Facebook dan Whatsapp. Serta sosial literasi yaitu bagaimana orang-orang bersosialisasi, berinteraksi dengan yang lainnya melalui media digital.
“Yang menyebabkan hoaks itu berkembang adalah karena lemahnya masyarakat kita tentang pemahaman terhadap sosial literasi,” ucapnya. “Bagaimana dia bisa tahu mana yang sebenarnya benar dan salah.”
Kegiatan yang bertemakan “Lawan Kabar Kibul” ini merupakan kegiatan Tempo Goes To Campus yang diselenggarakan oleh Tempo Institute di seluruh kota di Indonesia termasuk di Kota Bandung yang bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai bagaimana melawan kabar kibul.
Reporter : Sani Muhammad Ramdani/ Magang
Redaktur : Muhammad Iqbal

