
Oleh: Muhamad Seha
Aku berjajar di dekat spektrum cahaya
selalu kosong terlewat semata.
Kalian lebih suka bersembunyi jauh di belakang,
Membiarkan ilmu jatuh tanpa sempat kalian catat ulang.
Apa salahku? Apa dosaku? Hingga kau tak mau bersamaku,
Apakah karena dosen begitu dekat menatapmu?
Atau sebab jemari tak bebas menari di layar,
Hingga keberanian pun memilih menghindar?
Padahal di hadapanku suara begitu jelas,
Setiap huruf jatuh tanpa sedikit bias.
Aku mendengar spidol berlari tanpa jeda,
Namun kalian memilih bersembunyi di antara sela-sela
Alasan kalian selalu sama dan kering
“Takut ditanya, takut ditegur, takut dibimbing.”
Seakan duduk di depan adalah sanksi
Padahal di sanalah ilmu paling terang kita dapati.
Aku si kursi depan, saksi dari kemalasan,
Hari demi hari hanya dipeluk kesepian.
Kalian sibuk bersandar dan menari di atas layar
Lupa bahwa banyak Impian yang harus dikejar.
Betapa aku merindukan punggung yang berani,
Yang tak gentar disorot mata dosen setiap hari.
Yang menatap dengan mata bercahaya,
Bukan lari ke belakang supaya bebas bercanda
Aku terus menunggu di setiap pergantian kelas,
Menjadi tanda tanya dalam sunyi yang resah.
Mengapa kursi paling dekat dengan pengetahuan,
Justru kalian jauhi seakan penuh kutukan?
Maka biarlah aku berucap sebagai peringatan,
Keberanian bukan sekadar hadir dalam absen dan catatan.
Tapi berani duduk di depan, menantang tatap dosen,
Menyambut ilmu dengan hati yang tak terpenjara kemalasan.
*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Hukum Pidana Islam 2024 dan merupakan anggota divisi Redaksi LPM Suaka 2025

