Sayang, Aku Perempuan

Date:

- Advertisement -
Ilustrasi: Sofa Nur Alfiah/Suaka

*Oleh: Qonita Razinatul Amani

Sayang, aku perempuan Aku lahir bersama ratapan
Aku berpijak di atas duri angan Aku bahkan tak punya kawan

Sayang, aku perempuan Tangisku adalah darah
Aku tertimbun bara para amarah Aku terkurung oleh marwah
Sayang, tatap mataku
Maukah kau berdansa denganku dalam alunan nestapa? Atau akankah kau tertawai aku yang merana

Atau mungkin kau biarkan hatimu tak merasa
Sayang, lihat aku
Asaku tak bernilai bagi mereka
Hidupku dilelang dan dijual pada neraka

Aku lahir sebagai manusia, namun diperlakukan tak lebih dari benda
Aku ditinggalkan bersama senandika
Sayang, aku perempuan
Aku hadir memberi dunia lahir Tapi diriku runtuh karena takdir Aku dibunuh oleh sesat akal pikir
Aku berteriak, meratap, walau suaraku tak berukir

Sayang, aku perempuan
Sayapku dipatah, lukanya menyayat hati Sayang, aku ingin menari lagi

Tapi sayang,
aku telah mati jauh sebelum napasku berhenti

*Penulis merupakan Mahasiswa UIN SGD Bandung jurusan Pendidikan Biologi 2024 dan merupakan anggota magang LPM Suaka

Share post:

Popular

Berita Terkait

Aku Yang Bisu

*Oleh: Qarin Qurnaeni Katanya, aku napas bumiKatanya, aku layaknya urat...

Merdeka, untuk siapa?

*Oleh: Imam Syaban Abdurrahman Delapan puluh satu tahun telah berlalu,bendera...

Di Antara Sembilan Kursi

Mentari pagi mulai merangkak naik, mengantarkan langkah kaki Andre...

Sujud yang Tertinggal

Sujudku masih tergesasalatku terbuang di ujung waktuazan berkali lewat...