Merdeka, untuk siapa?

Date:

- Advertisement -

*Oleh: Imam Syaban Abdurrahman

Delapan puluh satu tahun telah berlalu,
bendera masih berkibar gagah,
tapi tanya ini tak jua reda,
siapa yang sebenarnya merdeka?

Di ruang kelas, bangku-bangku sepi,
buku kalah oleh ompreng nasi,
anggaran yang disisihkan secara perlahan,
demi program yang riuh dikampanyekan

Rupiah yang jatuh, terhuyung tak berdaya,
dijadikannya bercandaan ketika berpidato,
orang-orang itu tertawa di podium nasional,
seakan derita hanya statistik

Harga-harga melambung tinggi,
dapur rumah menahan sunyi,
mereka memilih diam,
berlagak semua baik-baik dalam kelam

Suara yang lantang mudah dicurigai,
kritik ditukar dengan tuduhan ramai,
mimbar bebas hanya slogan semata,
nasib seorang penyuara jadi abu jalan

Temanku menulis di media kecil
mengabarkan yang tak ingin didengar
nahas, suaranya terpaksa ditekan,
demi nama baik yang katanya harus dijaga

Hutan digadai demi rupiah asing,
gunung dikeruk, sungai kering,
alam melolong dalam diam panjang,
bencana datang tanpa diundang

Anggaran bermilyar-triliunan tanpa henti,
berdalih kepentingan rakyat,
tangan-tangan itu tetap menilap tanpa segan,
nasib rakyat kian tenggelam

Layar-layar kaca sibuk memutar yang tak penting,
isu dialihkan, luka ditutup mata,
delapan puluh satu tahun kita bertanya,
merdeka ini, untuk siapa?

*Penulis merupakan mahaisiswa Jurusan Tadris Bahasa Indonesia 2024 dan merupakan anggota magang LPM Suaka

Share post:

Popular

Berita Terkait

Aku Yang Bisu

*Oleh: Qarin Qurnaeni Katanya, aku napas bumiKatanya, aku layaknya urat...

Sayang, Aku Perempuan

*Oleh: Qonita Razinatul Amani Sayang, aku perempuan Aku lahir bersama...

Di Antara Sembilan Kursi

Mentari pagi mulai merangkak naik, mengantarkan langkah kaki Andre...

Sujud yang Tertinggal

Sujudku masih tergesasalatku terbuang di ujung waktuazan berkali lewat...