Di Antara Sembilan Kursi

Date:

- Advertisement -

Mentari pagi mulai merangkak naik, mengantarkan langkah kaki Andre pada sebuah gedung tempatnya bekerja. Pandangannya tersebar ke seluruh sudut, tangannya sesekali merapikan kerah baju yang sebenarnya rapi. Hingga tibalah dirinya di sebuah ruang yang cukup besar.

Udara segar tergantikan oleh aroma kayu jati yang mendominasi. Sudah ada beberapa orang yang berkumpul disana, tapi belum lengkap. 

“Bagaimana perasaanmu, bung Andre?” Tanya Harsa dengan senyumnya yang manis. 

“Selalu baik” jawab Andre seraya duduk disampingnya. 

Suasana pagi yang segar, kini terasa sedikit lebih panas seiring para anggota berdatangan. Riuhnya percakapan dan kepulan asap rokok yang tak sedap menjadikan ruangan besar ini terasa sesak. Puluhan orang duduk di meja yang sama, dengan harap yang tak jauh beda. 

Waktu terus berjalan hingga akhirnya jam menunjukkan pukul delapan. Sidang pertama hari ini resmi dibuka dengan sambutan dari perwira tinggi yang berasal dari negeri seberang.

Sidang berjalan panjang dengan berbagai rentetan agenda. Berbagai pidato dan usulan disampaikan, hingga akhirnya hari selesai tanpa kesimpulan. 

Cahaya matahari yang menembus melalui sela-sela jendela mulai menghilang, menandakan bahwa sudah saatnya untuk pulang. 

***

Dua hari sudah berlalu, namun belum cukup untuk Andre dan para rekannya menyelesaikan sidang. Rasa lelah yang mulai menggerogoti tubuh tak membuat langkah mereka terhenti untuk kembali berkumpul di hari ketiga.

Sejak sidang pertama dibuka, pikiran Andre sesungguhnya tak lepas dari wajah warga yang tersimpan dalam benaknya. Ia sadar betul bahwa semua hal yang sedang dilakukannya sekarang akan berdampak bagi masa depan. 

Di tengah gulungan beban pikirannya, Andre merasakan suasana yang kian menegang ketika ia kembali duduk di kursi itu. Tanpa berlama-lama, setelah sidang dibuka secara resmi, kini saatnya Sukarjo berdiri dan menyampaikan usulannya.

Suara Sukarjo yang lantang seakan membakar semangat para anggota. Gaya bicaranya sangat khas, berapi-api layaknya orator ulung. Ia berupaya untuk menyatukan beragam isi kepala menjadi lima dasar negara. Satu per satu ia sebutkan, hingga sampailah ia di ujung kalimat, “…Dan yang terakhir, Ketuhanan yang Maha Esa. Bahwa setiap warga negara bebas menyembah Tuhannya sendiri-sendiri, tanpa ada paksaan, tanpa ada ego golongan. Merdeka!”

Riuh tepuk tangan kini memenuhi ruangan. Pandangan Sukajo menatap ke seluruh anggota, seolah memberi keyakinan akan pidatonya yang baru saja ia sampaikan. 

Setelah Sukarjo kembali pada tempat duduknya, kini giliran sang ketua yang berdiri dan angkat suara, “Saudara-saudara sekalian, dengan selesainya pidato dari Saudara Sukarjo tadi, maka berakhir pula sidang pertama pada hari ini. Namun, tugas kita tidak  hanya sampai disini,” ucapnya dengan lantang, membuat suasana yang sempat ramai tergantikan oleh keheningan yang menyelimuti ruangan. 

“Kalimat-kalimat yang Sukarjo usulkan masih berupa gagasan mentah. Kita butuh sebuah tim yang lebih kecil untuk lanjut merumuskan berbagai usulan agar menjadi suatu dasar negara yang utuh” lanjutnya. 

Rajendra mulai memanggil nama-nama anggota yang masuk ke dalam tim kecil ini. Hingga akhirnya nama Andre turut disebut. 

“Saudara Andre,” ucapnya 

Andre yang sedang melamun langsung tersentak. Bayangan tentang wajah para kuli dan petani yang dulu ia bela di pengadilan buyar seketika. Puluhan pasang mata mulai tertuju padanya. 

“Ya?” 

“Saya meminta saudara untuk melengkapi tim ini. Tim yang beranggotakan sembilan orang dan dipimpin oleh Sukarjo dengan Harsa sebagai wakilnya. Kami membutuhkan keahlian saudara dalam menyusun argumen hukum demi dasar negara yang tidak goyah hingga kapanpun”

Andre menelan ludah sambil mengangguk menerima. Beban di pundaknya terasa semakin berat. Ia adalah satu-satunya anggota yang memegang salib di antara delapan rekannya yang memakai peci. 

“Terima kasih atas kesempatannya, saya akan berusaha sebaik mungkin” ucap Andre sambil tersenyum. 

“Baik saudara-saudara, kita cukupkan sidang hari ini. Dan untuk anggota yang sudah saya tunjuk, besar harapan saya kepada kalian untuk menyelesaikan rumusan ini. Saya kira cukup sekian, terima kasih” 

Perlahan ruangan ini kembali hampa. Andre yang masih duduk di tempatnya, melamun sambil memutar-mutar pena. Memikirkan rencana apa yang akan ia lakukan untuk bangsa. 

“Tenang saja, Andre. Saya yakin kau pasti bisa” ucap Harsa sambil menepuk-nepuk bahu Andre. 

“Kita. Kita pasti bisa” balas Andre sambil tersenyum. 

Selesai sidang, Andre segera pulang menuju kediamannya yang menenangkan. Ditemani dengan malam yang sunyi, ia duduk di teras rumahnya yang luas. Menikmati sejuknya angin malam dengan pikirannya yang melayang-layang. 

Apakah kita akan berhasil? Pikirnya. 

Diam-diam ia meragukan diri. Ada perasaan takut yang menghampirinya, sebab kenyataan seringkali tak sesuai rencana.

Namun, lamunan Andre terusik oleh suara langkah kaki yang muncul dari dalam rumah. 

“Sudah waktunya istirahat, mari makan malam bersama” ucap seorang perempuan dengan lembut. 

Andre menoleh, mendapati sang istri Mareine namanya, berdiri di ambang pintu dengan senyum yang teduh. Ia pun bangkit dari duduknya dan masuk ke dalam rumah bersama sang istri. Aroma masakan yang hangat seketika menyapu sisa-sisa ketegangan politik yang cukup membuatnya pengap.

Percakapan sederhana kini memeluknya dengan ramah. Selesai makan ia pun beristirahat sebelum esok kembali terjun ke dalam riuhnya perdebatan. 

***

Pagi yang cerah seolah memberi pertanda bahwa hari akan berjalan indah. Setidaknya, itulah yang dipercayai Andre. Usai menyeruput kopi dan berpamitan pada istri, Andre kembali berada di tempat yang penuh perbincangan. Tempatnya tidak sebesar kemarin, tapi tanggungannya tetap sama.

Meski melelahkan, ia tahu bahwa bangsa ini membutuhkannya. Terutama dalam hal persatuan dan kesetaraan yang selalu menjadi prioritas utamanya. 

Rupanya sudah ada beberapa orang yang berkumpul di meja, mereka berbincang ringan sebelum diskusi berat berlangsung.

“Selamat pagi, Bung Andre” sapa Barja yang sedang duduk santai meski kepalanya terasa pening pagi ini.

“Pagi, Bung” jawab Andre sambil tersenyum. 

Bersamaan dengan Andre yang baru saja duduk, Sukarjo masuk ke dalam ruangan bersama rekan-rekan lain yang juga baru tiba. Mereka mengambil tempat duduknya masing-masing. Kini, lengkap sudah sembilan orang dalam satu ruang. 

Sukarjo sebagai ketua tim kecil ini, membuka diskusi dan membacakan ulang usulan para anggota seperti di sidang pertama kemarin. Hanya saja kali ini suasananya terasa lebih santai.

Tapi ternyata keheningan itu tidak bertahan lama. Ketika dasar ‘Ketuhanan yang Maha Esa’ diucapkan, semua anggota saling bertatapan. Bagi Andre yang mewakili golongan minoritas, ini adalah simbol keadilan. Rasanya sangat menenangkan jika kalimat tersebut akan ditetapkan. 

Tapi di seberang meja, Dzikri merasa bahwa kalimat itu masih terlalu mengawang-ngawang. Sebagai seseorang yang hampir seumur hidupnya berada di lingkungan muslim, ia merasa bahwa identitas mayoritas yang telah memperjuangkan negara tentu layak untuk diberikan pengakuan yang lebih terasa. Pria berkacamata itu mengernyitkan dahinya sambil menggumamkan sesuatu sebelum akhirnya angkat suara. 

“Maaf, Bung. Rasanya kita tidak boleh melupakan realita bahwa mayoritas rakyat di lapangan yang selama ini berjuang memiliki keyakinan seperti kita. Sudah selayaknya dasar negara yang kita tetapkan bukan sekadar kalimat umum. Kita butuh sesuatu yang lebih kuat!” ucapnya dengan tegas. 

Andre sedikit heran dengan perkataan yang dilontarkan rekannya itu. Apakah hadirnya diriku di sini masih kurang cukup untuk mewakili kaum minoritas? Pikirnya. Ia ingin sekali menyela, namun naluri dirinya yang terbiasa dengan cara dunia hukum bekerja seakan memberi tahu dirinya bahwa ini belum saatnya. Maka akhirnya ia tetap diam dengan seribu bahasa. 

“Tapi, kita pun tidak dapat mengabaikan umat yang lain, bukan? Apakah kau pikir yang selama ini berjuang hanya umat kita saja? Tentu tidak. Dan kau tau itu. Jadi coba kau pikir dasar negara hanya menaungi sebagian golongan, lalu bagaimana dengan yang lainnya?” ucap Harsa, ia sengaja menjeda kalimatnya agar tidak turut terbawa emosi.

“Republik ini tidak diciptakan untuk satu golongan!  Jika sedari awal pondasinya sudah memihak, bagaimana kita bisa menyatukan semua sayap?” lanjutnya. 

Ruangan itu seketika meledak. Tiga anggota berbicara di waktu yang sama, saling menunjuk dan menginterupsi dengan nada tinggi. Karena terbawa suasana, beberapa anggota lain ikut berbicara. Sesekali terdengar gebrakan meja, mengiringi argumen yang entah kapan selesainya. Kepulan asap rokok yang dihembuskan dengan kasar membuat udara terasa pengap dan menyesakkan. Andre terbatuk pelan dan sesekali mengucek matanya yang perih akibat asap.

Di tengah kekacauan itu, Harsa menoleh, menatap Andre yang sedari tadi masih diam tanpa kata. 

“Bagaimana menurutmu, Bung Andre?” tanya Harsa, memecah kebisingan dengan melemparkan pandangan pada Andre yang duduk disebelahnya.

“Betul. Bagaimana menurutmu?” Dzikri ikut bertanya, menuntut ketegasan dari Andre sebagai seseorang yang mewakilkan kaumnya. 

Semuanya diam seketika. Ruangan yang bising kian mereda. Seluruh pasang mata menatap Andre yang sedari tadi belum bersuara. 

Andre mengerutkan alisnya. Otaknya seakan bekerja dua kali lipat. Ingin sekali ia berbicara, namun ia pikir tak bisa langsung begitu saja. Sebab dasar negara bukan hanya untuk diucapkan semata, tapi juga pedoman hidup yang akan terus dibawa sampai akhir masa. 

Situasi ini membuat Andre merasakan kembali atmosfer ketika dulu dirinya mengabdi pada rakyat sebagai pengacara. Perasaan ini rasanya tak asing baginya. Sedari dulu ia selalu mencari keadilan bagi siapapun, tanpa memandang apapun. Rasa sayangnya pada bangsa inilah yang membuat dirinya selalu menahan segala gundah. 

Bagaimana caranya aku bisa tetap adil dalam situasi seperti ini? Pikirnya. 

Antara batin dan pikirannya seakan terus beradu. Pendiriannya yang nasionalis sedikit goyah ketika mendengar ucapan Dzikri, sebab ia juga sangat ingin untuk membela kaumnya.

“Ayolah, Bung. Utarakan saja seluruh pendapatmu,” desak Dzikri. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya kedepan, tangannya terkepal seolah tak sabar mendengar pendapat dari seberang. 

Harsa menatapnya dengan sinis, tapi tak berkata apapun. Begitu pula dengan anggota yang lain, mereka ikut terdiam dan menunggu jawaban Andre.

Andre menarik napasnya dalam-dalam, mengumpulkan seluruh ketenangan yang tersisa dalam dirinya. 

“Saya setuju dengan prinsip kesetaraan yang disampaikan oleh Bung Harsa, tapi saya juga mengerti kegelisahan Dzikri hingga akhirnya mengusulkan suatu hal yang berbeda,” ucap Andre dengan suaranya yang dijaga agar tetap tenang, ia pun menarik napasnya kembali sebelum melanjutkan kalimatnya. 

“Saya yakin dengan tim ini, dengan seluruh anggota yang ada disini. Dan saya rasa kawan-kawan pun tahu bahwa kita disini demi menciptakan dasar negara yang berguna bagi seluruh rakyat. Seluruhnya.” lanjutnya seraya menghembuskan napas yang membuatnya merasa tercekik.

Sukarjo yang sedari tadi menyimak dari ujung meja tampak tersenyum tipis. Ia menundukkan kepalanya dan membaca berkas yang tersimpan di atas meja berulang kali, memikirkan kalimat apa yang dapat mengganti usulan pertamanya. 

Waktu demi waktu berlalu dengan keheningan, para anggota saling berbincang dengan suara yang sangat pelan, cukup lama hingga akhirnya Sukarjo kembali bersuara.

“Saudara-saudara sekalian,” ucap Sukarjo, ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. Ia menatap Andre dengan lekat, seolah meminta izin sebelum melanjutkan kalimatnya, “Bung Andre ada benarnya. Kita butuh titik temu dan mengambil jalan tengah. Maka dari itu,, bagaimana jika kalimatnya kita ubah dengan ‘Ketuhanan dengan menjalankan syari’at Islam bagi para pemeluk-pemeluknya’ untuk menjadikannya bahan pertimbangan terlebih dahulu?” 

Keheningan seakan menjadi teman dekat mereka sekarang. Beberapa kali mereka saling bertukar pandangan tanpa kata. Entah berusaha meyakinkan atau masih mempertimbangkan. 

Andre kembali merenung. Kalimat yang baru saja terucap oleh Sukarjo berputar-putar dalam pikirannya. Ada rasa ganjal di hatinya tentang masa depan minoritas, namun untuk kesekian kalinya ia memilih untuk melunakkan ego yang ada pada dalam dirinya. 

Sukarjo memperhatikan rekan-rekannya dan akhirnya kembali berbicara, “Bagaimana saudara-saudara? Kita tak bisa menundanya terlalu lama” desak Sukarjo.

Satu per satu anggota mulai mengangguk setuju. Bagaikan es yang terkena matahari, suasana kian mencair. 

Dzikri yang sempat memasang wajah muram kini terlihat lebih tenang. Ia mengangguk lalu berkata, “Jika memang ini adalah titik temu kita. Maka saya rasa kalimat ini dapat diterima” 

Kini, tinggal Andre yang terlihat masih termenung. Ia semakin bingung karena Dzikri baru saja menyetujuinya, ia hanya menatap lekat tulisan-tulisan rumusan di atas meja, mencoba berpikir sejernih mungkin agar tidak berat sebelah. 

“Baiklah. Demi kesatuan yang tercipta, saya rasa usulan itu sudah cukup untuk menjadi pijakan awal kita,” ucap Andre. Ia setuju bukan karena mengalah, melainkan karena ia tahu, kepentingan bersama adalah hal yang utama. Dan keadilan akan ikut serta apabila kedamaian berhasil dijaga. 

Semua anggota tersenyum lega, meski masih banyak yang belum dirundingkan. Diskusi pun dilanjutkan hingga langit berubah jingga. Pertemuan pertama ini memakan waktu cukup lama. 

Hari-hari berikutnya mereka lalui bersama dengan rentetan diskusi yang terasa tidak ada akhirnya. 

Rumusan yang selama ini hanya tersimpan dalam pembicaraan tim kecil itu akhirnya resmi dilaporkan dalam sidang besar yang kedua. Disana Sukarjo menjelaskan bahwa bunyi ‘Ketuhanan dengan menjalankan syari’at Islam bagi para pemeluk-pemeluknya’ merupakan jalan tengah dari berbagai perbedaan pendapat antar golongan.

Meski begitu, riak ketidakpuasan dari beberapa pihak tetap muncul. 

“Instruksi, Pimpinan!” ucap seorang lelaki timur dengan suaranya yang tak kalah lantang. Sukarjo mengangguk pelan, mempersilahkannya berbicara. 

Di barisan kursi yang sama, Andre merasa ada rasa hangat sekaligus cemas. Ia tahu betul bahwa Jonathan adalah seseorang yang sangat taat pada Tuhannya. 

“Saya memahami bahwa apa yang diucapkan oleh saudara Sukarjo adalah hasil diskusi dan kompromi. Namun, sebagai wakil dari saudara-saudara di timur, saya keberatan terhadap kalimat tersebut. Ada ketidakadilan yang tercipta secara tidak langsung,” 

Melihat keberanian Jonathan, beberapa rekan lain ikut berdiri bergantian, meski mereka tidak memegang kepercayaan yang sama. Dilontarkannya argumen-argumen yang memperkuat pernyataan Jonathan. 

Di sisi lain, Andre turut bangga melihat rekan-rekannya, meski ada sedikit rasa cemas akan apa yang terjadi setelahnya. 

Kondisi semakin riuh, maka Sukarjo pun segera menertibkan kembali agar forum berjalan dengan aman. Waktu terus berjalan dan para anggota mengutarakan pendapatnya bergantian. Sidang ini berakhir dengan keputusan yang sama dengan berbagai alasan yang akhirnya dapat diterima. 

Menuju hari pengesahan, hari dimana sejarah akan tertulis, semesta tidak berpihak di sisi mereka. 

Pagi itu Andre datang lebih awal, ia membaca ulang kata demi kata yang ia tulis dalam bukunya. Namun, tiba-tiba saja Harsa datang dan memberi kabar padanya tentang pesan yang ia dapat, bahwa beberapa kelompok merasa keberatan dengan rumusan dasar negara yang pertama, yang selama ini menjadi perdebatan. 

“Lalu bagaimana dengan sidang esok hari?” ucap Andre sedikit gelisah karena mereka tidak punya waktu banyak untuk mengulas kembali. 

“Tenang saja, Bung Andre,” sahut seorang pria dari arah belakang. Andre menoleh dan mendapati Karman, pria berwibawa yang selama ini ia hormati. 

“Harsa sempat mengajak saya dan tiga anggota lain untuk rapat pendahuluan, dan kami akhirnya sepakat untuk mengubah dasar pertama itu menjadi ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Sebab seperti yang kau tahu bahwa negeri kita memiliki banyak sekali perbedaan, dan tentu kita adalah salah satu kelompok yang bertanggung jawab untuk mempersatukannya” lanjutnya. 

Mendengar itu, ada rasa tenang yang muncul dalam diri Andre. Mungkin memang selama ini ia hanya diselimuti oleh rasa yakinnya yang palsu. Mungkin memang selama kalimat itulah yang selama ini ia ingin dengar. 

Andre tersenyum sambil menahan air matanya. Ia menatap Karman, lalu beralih pada Harsa dengan rasa lega yang sama. 

***

Riuhnya percakapan dari banyaknya insan akhirnya jeda sejenak saat akhir pekan tiba. Di minggu pagi ini, Andre menjalankan rutinitasnya untuk pergi ke gereja bersama sang istri. Baginya, pergi ke gereja menjadi salah satu kunci agar ketenangan selalu disampingnya. 

Penulis: Meyliana Sofiyanti/Magang

Share post:

Popular

Berita Terkait

Aku Yang Bisu

*Oleh: Qarin Qurnaeni Katanya, aku napas bumiKatanya, aku layaknya urat...

Merdeka, untuk siapa?

*Oleh: Imam Syaban Abdurrahman Delapan puluh satu tahun telah berlalu,bendera...

Sayang, Aku Perempuan

*Oleh: Qonita Razinatul Amani Sayang, aku perempuan Aku lahir bersama...

Sujud yang Tertinggal

Sujudku masih tergesasalatku terbuang di ujung waktuazan berkali lewat...