
Oleh: Zaskya Alma Shyra
Cinta?
Bagaimana ku menggapainya?
Bagaimana ku menjalaninya saat dalam naungannya.
Aku lontarkan tanya itu pada jiwa dan raga
Belajar cinta dari rumah tangga orang tua.
Kala kecil aku ikut tersiksa,
saat remaja aku sempat menghina
masanya dewasa aku mulai merasa, sederhana tapi penuh tanya.
Cinta mudah pudar,
Terasa sakit ketika salah menyasar.
Pun buta, selalu mengintai cinta.
Kala orang tua tak lagi peka.
Cinta mudah menginjak.
Harga diri yang retak,
namun kehadirannya membuat semua tersentak.
Suka duka bak sinetron yang disimak.
Buah hati, melahirkan akar pertahanan.
Namun ku terus bertanya bagaimana cinta yang aman.
Kala keduanya kian menyakiti tanpa henti.
Ku terus meminta arahan sang illahi.
Jika bukan karena ‘hadiah’ kesabaran,
kuyakin kau tak akan membiarkan dua insan beriringan.
“Katanya” saling mencintai setiap denyutan nadi?
Tapi mengapa kau menaruh trauma yang menjadi?
Jika cinta sebatas jumpa,
Tak ada beda dengan api yang membara.
Jika ku taruh semua rasa,
bukan pula ku sebut cinta.
Semua berdendang kala cinta memanggang.
Tapi, dalam hening ku terus berpegang,
bahwa itu bukanlah cinta.
Jadi, apa sebenarnya itu cinta?

