" > 3 mnt membaca"> Berdakwah Melalui Film - Suaka Online
Sosok

Berdakwah Melalui Film3 mnt membaca

Dok. Pribadi

Dok. Pribadi

SUAKAONLINE.COM–Banyak jalan untuk berdakwah, misalnya melalui film. Salah satunya dosen jurusan Film dan TV di Institut Seni Indonesia Bandung (ISBI), Agus Hakim. Lelaki berusia 40 tahun yang akrab disapa Bang Doel tersebut berkomitmen untuk tetap konsisten dengan film Islam.

Selain menjadi tenaga pengajar, Agus juga seorang sutradara film islam. Mengawali cerita, pria yang sudah menyutradarai beberapa sinetron Islam ini mengatakan bahwa menjadi sutradara film maupun sinetron Islam itu tidak mudah. Bagi Agus, film Islam tidak ditemukan di Indonesia. “Di Indonesia tidak ada, yang ada film islami, itu beda dengan film Islam,” ujarnya Agus, Senin (30/4/2015).

Menjadi sutradara film Islam memiliki tanggung jawab ganda, bukan hanya kepada produser saja, tetapi kepada Tuhan. Film Islam adalah film yang benar-benar menggambarkan tentang kehidupan dan agama Islam, sedangkan film islami hanya menggambarkan kebudayaan islam saja. “Lihat saja sekarang, film islami dimana-mana ada, yang bukan suami istri jadi pemain, terus pelukkan,” ungkap pria berkulit sawo matang tersebut, sembari menatap layar laptopnya.

Agus memandang, sistem pemerintahan memperngaruhi hasil dari film di negara tersebut. “Saya tetap komitmen dengan film Islam saya, meskipun tanggung jawabnya, subhanallah berat,” katanya sambil menyeringai.

Menjadi sutradara film Islam bagi Agus tidak bedanya membagikan kebaikan, sekaligus mencari pahala. Lewat film Agus bisa memberikan gambaran bagaimana kehidupan yang terjadi atau biasanya juga, Agus memilih ide cerita dari realita sosial. Kata Agus, dengan adanya sistem yang abu-abu tersebutlah yang membuat film islam sulit laku di pasaran Indonesia, yang hampir membuatnya frustasi. Namun, pria yang menyutradai sinetron berjudul “Semuanya Milik-Nya” yang dimainkan oleh Marissa Haq dan Ikang Fauzi ini tetap berpegang teguh pada komitmennya.

“Saya sempat frustasi karena film-film Islam di Indonesia saja tidak laku. Tapi, alhamdulillah ada beberapa film saya yang bisa dibeli oleh pihak lain. Dan tidak hanya itu saja, film Islam saya pun diseminarkan waktu itu di IKJ (Institut Kesenian Jakarta), padahal di perfilman Indonesia tidak laku, ini malah diseminarkan, saya jadi kaget waktu dapat undangan,” ujar dosen yang juga mengajar di UIN Bandung dengan mata kuliah Komunikasi Visual dan Grafis ini.

Tak hanya itu, di Indonesia sendiri masyarakat cenderung tidak bisa bahkan tidak mampu membedakan mana film yang islami mana film yang islam, kata Agus. Pria kelahiran Jakarta ini mengatakan bahwa film yang beredar sekarang itu adalah film islami, bukan film Islam. Sebagai contoh, ujar Agus, film ayat-ayat Cinta karya Hanung Bramantyo tersebut adalah film islami.

“Saya penasaran waktu itu, awalnya saya tertarik dan berpikir ini filmnya bagus, tapi kok ke sini-sininya malah banyak adengan yang kurang nyambung,” tuturnya dengan dahi berkerut. Agus menilai film dengan tokoh Aisha dan Fahri tersebut hanya memperlihatkan kebudayaan islam saja, bukan ajarannya. Seperti menikah dengan Al-qur’an, adanya penghulu, dan lain sebagainya.

Meskipun demikian, Agus masih tetap bertahan dengan profesinya sebagai sutradara film Islam, Agus pun mengatakan akan terus berkomitmen meskipun sudah mengeluarkan cukup banyak lembaran rupiah dalam produksi filmnya. “ Ya kalau tidak laku, berarti harus buat lagi yang baru, kan misinya juga dakwah, rezeki ada saja.”

Dengan prinsip tersebut, Agus menjelaskan bahwa dalam membuat film Islam harus memegang tiga syarat. Syarat yang pertama, katanya, yang membuat film Islam harus orang islam itu sendiri. Karena, visi dan misinya adalah dakwah. Kedua, film islam harus dipakai nilai-nilai islamnya, termasuk dalam lingkup pemain. Dan yang ketiga, lanjut Agus, aturan-aturan harus dibuat sesuai aturan Islam, hal inilah yang paling penting.

“Kalau sudah memegang tiga prinsip itu, maka sebagai sutradara saya sudah punya tabungan untuk di akhirat kelak. Kalau pun saya meninggal setelah membuat film itu, saya rela dan ikhlas. Karena, film itu berisi visi dan misi Islam,” pungkas pria lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan judul tesis Kajian Visualisasi Nilai Islam Film Ayat-Ayat Cinta tersebut.

Reporter         : Restia Aidila Joneva

Redaktur        : Isthiqonita

5 Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas