Oleh: Nia Nur Fadillah*
Atas nama kesejahteraan kau sebut
Tanah kami kau renggut
Atas nama kekuasaan kau sebut
Kami terusir dari tanah nenek buyut
Tak bisakah kau melihat kami damai
Olehmu hidup kami tercerai-berai
Dalih memberikan kemakmuran
Justru pengkhianatan kau berikan
Saat kami tetap bertahan
Tanpa ampun kalian melawan
Atas nama ketertiban kau sebutkan
Gas air mata dilemparkan
Oleh: Nur Muhamad Iskandar*
Begitu membosankan bila hanya terpaku bisu di dalam rumah. Maka sedari jumpa rasa jengah, aku rutin pergi ke kampus, walaupun sedang libur semester, tapi tak apa. Rasanya menghabiskan waktu di kampus agak sedikit menghibur. Datang ke perpustakaan tuk baca buku, ke masjid untuk ngadem di selasar, makan cuanki di bawah pohon rindang, atau keliling-keliling kampus lihat kegiatan anak-anak pergerakan.
Oleh: Ninda Nur Aidah*
Foto-foto itu tersimpan rapi di Google Drive, memperlihatkan bagaimana ibuku dulu sangat aktif mengikuti berbagai kegiatan di kampus. Setiap gambarnya menghidupkan kembali masa lalu, penuh dengan peristiwa perjuangan. Sepertinya foto-foto itu menjadi saksi dan bukti bahwa sejarah tidak bisa diingkari hanya melalui orasi dan teriakan semata. Sejarah memiliki cerita tentang perlawanan dan eksploitasi. Namun, sejarah juga memiliki sisi kenangan indah dan kebahagiaan.
Oleh: Sir Malibari Java
Aku berlari menuju tiang-tiang lampu samping jalan, waktu itu menunjukkan Rabu malam. Kegiatan kampusku baru selesai jam 8 malam, dari sisa waktu sore yang biasanya aku pulang, sekarang tidak. Aku memulai hal baru, sesuatu yang berbeda dari mahasiswa-mahasiswa pada umumnya. Alasan aku berlari, karena penasaran yang tak habisku ini, penyelidikan.