Cerpen

Suara Aktivis Untuk Parlemen

Ilustrasi: Desty Rahmawati/Suaka

Oleh: Ninda Nur Aidah*

Foto-foto itu tersimpan rapi di Google Drive, memperlihatkan bagaimana ibuku dulu sangat aktif mengikuti berbagai kegiatan di kampus. Setiap gambarnya menghidupkan kembali masa lalu, penuh dengan peristiwa perjuangan. Sepertinya foto-foto itu menjadi saksi dan bukti bahwa sejarah tidak bisa diingkari hanya melalui orasi dan teriakan semata. Sejarah memiliki cerita tentang perlawanan dan eksploitasi. Namun, sejarah juga memiliki sisi kenangan indah dan kebahagiaan.

“Jadi ibu dulu seorang aktivis?” tanya Sarah tiba-tiba.

Hening. Seketika Rayya berhenti membaca untuk sekedar mengingat beberapa detik cuplikan memorinya. Dia membalikkan tubuhnya agar sejajar dengan anaknya, Sarah. Lalu tersenyum.

“Kenapa cuman senyum aja bu?” Sarah bertanya lagi sembari melihat kembali ke layar komputer dihadapannya.

“Ya gitu deh. Bebas kamu mau pake istilah apapun, apakah mau aktivis atau oposan. Ibu dan teman-teman ibu cuman mau mengekspresikan ketidakpuasan kita aja. Kita ngerasa harus adanya tindakan dalam menghadapi kondisi dimana demokrasi yang saat itu sudah meredup.”

“Eummm cara bicara ibu aja selalu kaya orang idealis,” kata Sarah dengan sedikit tertawa.

“Oh begitu yah, ibu gak sadar kak,” Rayya dengan muka tak percaya.

“Selalu bu selalu, ngeliat foto-foto ini, terus baca-baca artikel yang ada di media, aku malah heran sekarang ibu jadi pembisnis foto studio dan guru les? Seharusnya, kalo liat latar belakang ibu, cocoknya jadi reporter atau politikus sih, iya gak?” tanya Sarah dengan heboh disertai tawa yang memekakkan telinga.

“Emang udah takdir ibu aja sebagai pebisnis dan guru, fokus dengan hobi dan membantu mencerdaskan anak bangsa ha..ha..ha.. Kalau jadi reporter udah ibu coba, dahulu waktu kuliah,”

“Kalo jadi kader partai politik, ibu tertarik enggak?”

“Masuk ke dalam perpolitikan banyak banget ujiannya. Sistemnya otoriter, harus manut sama ketua partainya, kalo kepilih jadi pejabat masih jadi petugas partai, kebanyakan menjalankan politik praktis, belum lagi korupsi, kolusi, nepotismenya, menurunkan semangat idealisme itu, sudah susah mau mengubah juga kalo sistemnya sudah mengakar,”

“Mengakar gimana bu?”

“Ya contoh simple aja, kalo mau buat Surat Izin Mengemudi (SIM). Padahal pemerintah sudah menerbitkan PP nomor 76 tahun 2020 yang ngatur biaya pembuatan SIM. Mau yang baru bikin atau pun yang mau di perpanjang. Tertera jelas tuh, pengemudi tak perlu merogoh kocek terlalu dalam karena tarif yang ditawarkan tak lebih dari seratus dua puluh ribu untuk yang baru, kalau yang diperpanjang nggak sampai seratus ribu. Realitasnya gimana coba?”

“Iya benar bu, bulan kemarin temen aku juga habis buat SIM, bayarnya sembilan ratus ribu, ih jauh banget sama ketentuannya ya ternyata. Padahal katanya sudah nego tahu bu, tetep katanya ga bisa kalo mau dipercepat,”

Hadeuh ada-ada saja, kalau sudah kaya gini lantas siapa yang salah?”

“Gak habis pikir deh bu, padahal kan mereka sudah dapat gaji dari pemerintah, berbagai tunjangan juga dapat, kayak nggak ada rasa bersyukurnya banget, masuk kocek sana kocek sini. Kasian orang-orang yang mau beli makanan aja harus mikir dua kali, gak mikir kesitu apa ya,”

“Ya, sebenarnya itu memang sudah kebiasaan dari lama, hingga seperti akar yang sangat sulit dicabut. Tapi ini kembali ke subjektivitas, kita rasa dengan gaji dan tunjangan itu seharusnya cukup, tetapi ada segelintir oknum yang mungkin tidak cukup jika hanya mengandalkan gaji dan tunjangan untuk memenuhi kebutuhan hidup,”

“Memang gaya hidupnya saja yang tinggi ha..ha..,”

“Bisa jadi,”

Suasana hening dipecahkan oleh Deni, ayahku. Dia bekerja sebagai pengusaha coffee shop, cafe nya tidak jauh dari foto studio ibu. Menurutku, ayah adalah sosok yang tak kalah inspiratif dari ibu, dia kuat, bertanggung jawab, dan selalu memberikan pelajaran di setiap aktivitas yang ia lakukan.

“Nah sekarang giliran ayah yang aku tanyain,”

“Boleh,” jawab Deni sembari duduk disebelah Rayya.

“Ini siapa yah? Aku lihat ayah selalu berfoto dengan orang ini,”

“Oh itu si Ahmad, teman ayah di jurusan, teman ibu juga di komunitas jurnalistik. Dulu ia sering demo bareng ibu. Si Paling Aktivis emang,”

“Iya itu si Ahmad kritis banget, bahkan di antara kalangan temen-temen jurnalistik juga dia yang paling berani, udah mah kritis, berani pula, jadi dia suka mengkritik kebijakan kampus bahkan pemerintah,” tambah Rayya bercerita.

Ibu dan ayah bercerita lebih dalam tentang sosok Ahmad, yang terkenal kala itu sebagai mahasiswa paling kritis terkait kebijakan kampus dan pemerintah. Bahkan Ahmad tak jarang mendapat intervensi dari pihak kampus, majalah yang ia terbitkan selalu berhasil menjadi sorotan dan menjadi berita panas di kampus. Selain tiu, Ahmad juga sukses membuat mahasiswa lain aware terhadap isu negara yang dirasa memang perlu kritikan tajam dari kalangan mahasiswa.

“Karena ibu sering bareng si Ahmad, ibu juga suka disebut si paling aktivis tuh. Segala apa-apa harus sesuai dengan kepentingan publik, visi dan misi, ha..ha..katanya si gitu,”

“Pantesan dah ibu suka komentar mulu kalau aku beli sesuatu yang kurang memberikan manfaat, terus kemarin waktu ada sosialisasi penggusuran tanah di Desa ibu ngeyel dan komentar terus sama keputusan kepala desa,”

“Bukan ngeyel karena gimana-gimana, tapi ya kamu pikir aja dimana sisi adilnya jika harga tanah yang seharusnya pemilik tanah berhak menentukan harga tanahnya, tapi ini malah langsung tanda tangan dengan harga berapapun sesuai yang diberikan oleh pihak pembeli. Kan aneh, kasian juga ada itu, Bu Endang, tanahnya lumayan luas yang tergusur, hanya dapat delapan ratus juta. Padahal di awal diberitahunya bisa mencapai satu miliar,”

“Iyah si bu, ibu udah benar komentar dan bersikeras agar mendapat keadilan untuk warga yang lain, tapi ibu jadi dicap gak baik sama kepala desa,”

“Apa emang artinya dicap baik atau buruk sama kepala desa? Toh, kepala desa saja bisa dipilih Kembali, belum lagi dia dapet suara minta dulu ke warga, apa nggak boleh sebagai warganya meminta keadilan dan meminta tolong untuk dirundingkan kembali dengan pihak pembeli?”

Waduh bu aku engga bisa jawab,” kata Sarah dengan mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah.

“Iya gini ka, maksudnya kalo kita tahu itu salah jangan hanya diam, kalau nggak bisa bersuara seminimalnya diri kamu sendiri bisa menolak ketika tahu ada kebijakan yang kurang tepat,”

“Iya bu,” jawab Sarah malu.

“Semangat kak, ibu kamu sudah dari sananya gini ha..ha..” ledek Deni kepada Rayya yang disusul tawa gelak.

Yeuu awas ya lu, itu handuk kalo gua liat ada di atas kasur, abis lo,” balas Rayya dengan menunjukan kepalan tangan tanda meninju.

Kami tertawa. Pikiranku melayang pada kata-kata ibu tadi, bahwasannya kita tidak boleh diam melihat ketidakadilan, ketidakbijakan dalam menentukan regulasi. Perlu adanya kesadaran dalam diri bahwa ketika melihat yang salah harus bertindak dan mengkritisi. Seminimalnya kamu menolak dalam diri sendiri akan hal kurang tepat itu.

Aku jadi mengerti mengapa korupsi di negara kita sulit diberantas, hukum dapat dibeli, keadilan berpihak pada penguasa. Mungkin itu karena banyak aktivis, kritikus, akademisi, terpinggirkan dari masyarakat. Mereka dicap sebagai pemberontak, disiarkan di televisi nasional, hingga namanya tercium tidak enak di kalangan masyarakat.

Terkadang miris ketika banyaknya demonstrasi dari para mahasiswa, dari para buruh jarang sekali pejabat negara mendengarkan keluhan dan kritikannya. Mereka cenderung bersifat pragmatis dan memeluk sifat anti kritik. Ironisnya, yang katanya perwakilan rakyat itu malah bertolak belakang dengan apa yang sering mereka gaungkan.

“Bu kalo Ahmad itu sekarang dimana dan kerja apa bu?” tanya Sarah kepada ibunya yang hendak pergi.

“Oh dia di Jakarta sekarang jadi anggota dewan,”

*Penulis merupakan mahasiswa UIN SGD Bandung Semester tiga jurusan Pendidikan Biologi, serta anggota LPM Suaka.

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ke Atas