Romantisme Itu Dilucuti

Date:

- Advertisement -
Ilustrasi: Desty Rahmawati/Suaka

Oleh: Insan Mutaqin Nasid*

Dengan ini, aku menyatakan

Bahwa kemerdekaan adalah kebohongan

Demonstrasi adalah kekosongan

Reformasi adalah kenangan

…

Kawan, katakan kepadaku tentang reformasi

Ketika negeri ini berubah dengan bangga atas kaki sendiri

Namun, kemana konsistensi reformasi dalam ingatan

Apakah kini jadi buku usang yang kembali ditinggalkan?

…

Kampus kini tak lagi memupuk idealisme untuk perubahan

Isinya cuma sekelompok orang yang sukanya bersuara untuk cari muka

Padahal, sudah lama keadilan kita cita-citakan

Berkata untuk kepentingan bersama, taunya bertindak korup seperti penguasa negara

…

Miniatur negara yang kehilangan mimpinya

Bahkan, aku melihat, kampus dijadikan ajang pamer harta; pamer gaya

Buku-buku sudah jarang menjadi teman para insan akademika

Akademik hanya logika untuk legalisisr kuasa

…

Ah, kawanku, bangsa besar ini hanyalah sebuah cerita

Dari buku-buku dongeng yang sering dibacakan orang tua

Aku kira kita masih mencita-citakan romantisme perjuangan masa lalu itu

Ternyata, kitalah yang telah melucuti petuah itu

…

Kini, mulai ditinggalkan seperti bangkai atau buku tua berisikan catatan hutang

Kita sudah lupa arah pandang

Belaian kapitalis terlalu lembut memeluk para aktivis muda

Pikiran-pikiran tanpa rohani yang bersih hanyalah sesuatu yang hampa

…

Terima kasih kawan, kau tetap hidup

Walau bayangan kita telah mati

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Sejarah Pendidikan Islam semester empat, serta anggota magang LPM Suaka

Share post:

Popular

Berita Terkait

Aku Yang Bisu

*Oleh: Qarin Qurnaeni Katanya, aku napas bumiKatanya, aku layaknya urat...

Merdeka, untuk siapa?

*Oleh: Imam Syaban Abdurrahman Delapan puluh satu tahun telah berlalu,bendera...

Sayang, Aku Perempuan

*Oleh: Qonita Razinatul Amani Sayang, aku perempuan Aku lahir bersama...

Di Antara Sembilan Kursi

Mentari pagi mulai merangkak naik, mengantarkan langkah kaki Andre...