Cerpen

Eksplorasi Rabu Malam Noble

Ilustrasi: Mohamad Akmal Albari/Suaka

Oleh: Sir Malibari Java

Aku berlari menuju tiang-tiang lampu samping jalan, waktu itu menunjukkan Rabu malam. Kegiatan kampusku baru selesai jam 8 malam, dari sisa waktu sore yang biasanya aku pulang, sekarang tidak. Aku memulai hal baru, sesuatu yang berbeda dari mahasiswa-mahasiswa pada umumnya. Alasan aku berlari, karena penasaran yang tak habisku ini, penyelidikan.

“Nob, kamu ngapain sendirian di situ, sendirian lagi?” sapa Leno, teman se-angkatan dari jurusan berbeda.

“Eh, gue abis jalan-jalan keliling kampus, biasa dah,” ujarku dengan santai.

“Ya udah, gua duluan ke kost-an,” ucap Leno yang perlahan meninggalkan Noble dengan motornya.

Namaku Noble. Di semester muda, kehidupan kampus terasa janggal, perilaku mahasiswa di awal kuliah, dilatih dan dibina untuk idealis, sudah berubah kotor oleh omongan-omongan diplomatis. Sedari awal kuliah, aku paham kalau semua orang akan berubah, jika ada penawaran dengan kesempatan lebih besar.

Tidak ada yang gratis di kuliah, beasiswa yang ku tempuh juga melalui jalur titipan dan pemotongan separuhnya. Tak ada pembelaan dan murni kesalahanku, karena mentalitasku terlalu lemah saat ditelepon kakak tingkat dengan kesepakatan yang tidak logis, namun aku tetap butuh.

Malam itu, kampusku terlihat nyaman, dari mulai kebersihan sampai proses pendidikan sangat baik. Aku merasa aneh, saking baiknya akreditasi kampus ini, menimbulkan pertanyaan besar bagi diriku, “mengapa bisa?”, “Atau aku yang terlalu bodoh melihat realita kampus seutuhnya?”.

Satu hal yang pasti, kampusku memang sedang mengejar berbagai pencapaian skala Internasional, para mahasiswa dituntut menulis jurnal memenuhi indikator bagi kampus. Tapi, kampusku lupa satu hal juga, masyarakat di sekitar yang kurang perhatian. Aku teringat, ketika ada orang yang tak dikenal menghampiriku, ia berkata “A, tahu gak, di kampus ini teh banyak warga yang susah dibedain sama mahasiswa, mereka sering numpang Wifi, pernah juga bawa Sajam – senjata tajam,”

“lho, emangnya kenapa? Kan, kampus baik-baik aja sama warga…” ucapku dengan spontan.

“Kalau menurut warga sini, kampus kurang penyuhulan ke masyarakat sekitar, beberapa warga yang nganggur minta untuk dipekerjakan di sini, kayak tukang bersih-bersih, itu juga udah bantu mereka. Nah, warga juga mau kalau mahasiswa di kampus ini tuh ngajar anak-anak di daerah mereka, ngaji aja cukup,” keluh orang asing yang Noble yakini mahasiswa sekampus.

Rabu malam, aku sengaja keliling kampus untuk memastikan beberapa hal, aku ingin mengecek rumor yang beredar, bahwa maling selalu ada dan berkeliaran di gedung tempat berkumpulnya para mahasiswa, Student Centre. Saat ku tanya satpam pun tentang ciri-ciri maling di kampus, tidak bisa dibedakan, mereka selalu memakai layaknya mahasiswa. Ini kejanggalanku selanjutnya, kampus ingin bertaraf Internasional, tetapi urusan internal payah diurusi.

Aku bilang payah. Memang semua orang bebas masuk-keluar memudahkan mahasiswa atau dosen ke kampus, gerbang selalu terbuka untuk siapa saja. Dulu, ada pembatasan dan pos jaga gerbang yang mengecek masuk-keluar kendaraan, tetapi diprotes dengan alasan menyulitkan dan harus berbayar.

Saat ku perhatikan orang-orang yang berkumpul pun, memang tidak bisa ku bedakan. Aku pun bertanya ke seorang dengan seragam Menwa di dekat kantin. “A, maaf, boleh ngobrol bentar gak? Gak penting sih, cuma butuh bantuan kayaknya,” ajakku.

“Oh boleh, A. Mau tanya apa ya?” jawabnya.

“Aku Noble, mahasiswa sini juga, kan Aa nih pake seragam Menwa, pasti tahu nih masalah maling yang bolak-balik kampus,” tanyaku yang terkesan canggung.

“Masalah maling ya, pernah sih beberapa kali kejadian kemalingan di kampus, tapi kalau sekarang tuh kurang tahu ya, emang katanya gimana? Ngomong-ngomong, aku Erik, mahasiswa Jurusan Psikologi semester 8, salam kenal ya,” balas Erik.

“Sekarang sih, masih belum jelas juga, tapi memang setahu aku, banyak mahasiswa yang buat Broadcast di media sosial, kehilangan helm, motor, dompet gitu. Terus, informasi yang aku dapat juga, maling di kampus itu susah dibedain, kira-kira bedainnya gimana?” ucapku sambil mengingat-ingat lagi.

Erik dengan latar belakang psikologi mengatakan, perbedaannya ada pada pola gerak-gerik di kampus. Ia memiliki pengalaman saat sendalnya dicuri ketika sholat Jumat, Erik sadar kalau di masjid kampus ada CCTV dan langsung mengecek rekaman. “Waktu pas aku lihat, jelas banget kalau dia lirik sekitar dan tunggu waktu yang pas, baru tuh ambil sendalnya,” kata Erik.

Persolan maling bagiku tidak lepas dari aturan kampus yang membebaskan semua orang atau mungkin perangkat keamanan, seperti CCTV tidak seluruhnya diawasi oleh satpam. Bisa jadi, ada oknum satpam yang bekerjasama dengan para pencuri itu. Kalau aku telusuri, kemungkinan terakhir beralasan dari gaji pokok satpam yang kecil, namun asumsiku bisa salah juga.

Dari Erik yang kutemui di kantin, stundent centre tidak ada apa-apa sebelumnya, sekadar kegiatan mahasiswa dari berbagai jurusan, Ormawa dan UKM di sekretariatnya masing-masing. Itu pun berakhir pada jam 09.30 WIB. Ya, banyak mahasiswa yang kecewa dengan kebijakan kampus itu.

Penyelidikanku malam itu tidak selesai disana, aku mulai menelusuri pelataran kampus, tempat para mahasiswa yang biasa nongkrong. Mereka berkelompok dengan pembahasan diskusi yang beraneka ragam, merencanakan berbagai hal, mulai dari politik sampai rumus hidup yang filosofis. Aku merasakan hal lazim kehidupan kampus, namun beberapa kelaziman tidak aku terima.

Salah satunya adalah pendidikan kampus yang cenderung menargetkan mahasiswa masuk dalam bursa demi memenuhi kebutuhan modern kini. Pandanganku seringkali dicap negatif, naif, dan kemunduran zaman. Orang-orang modern berpandai-pandai mencari pekerjaan dengan gaji tinggi dan mencapai kualifikasi pasar. Menurut mereka, itu adalah buah kesuksesan setelah berjuang dari proses pendidikan.

Aku tidak terima bukan karena tujuannya salah, cara-cara mereka mencapainya selalu licik dan curang. Bagaimana tidak! Pertama kali aku masuk ke kampus sudah dijejali kebusukan kampus dan hilang kepercayaanku pada pendidikan kampus.

Dua tahun lalu, temanku datang dari universitas lain, namanya Geofani. Saat bermain dikost-an ku, Geo memanggil saudaranya untuk datang ke kost-an ku yang sesama jurusan. Kita berdua bernostalgia waktu SMP dahulu, saling berbagi informasi teman SMP yang sudah banyak berubah.

30 menit kemudian, saudara Geo datang. Geo memanggilnya Budi, ia menuturkan padaku kalau saudaranya ini satu jurusan denganku dan beda beberapa tahun di atasku. Budi dan aku saling berkenalan, ia memilik badan besar dan cukup menyeramkan. Budi cerita bagaimana survive menjadi mahasiswa, budaya kampus yang sebenarnya. Ia cukup menyenangkan saat berbicara, meskipun nadanya sombong seakan keberadaan dia dibutuhkan orang-orang.

“Di kampus mah, aing mun eweuh (tuh, kalau enggak ada -Pen) duitnya, main slot. Biasana titah joki ka baturan, urang modalan kitu (biasanya, suruh joki ke temen, aku yang kasih modal gitu -Pen), tapinya prinsipnya bagi-bagi, soalna biasa bolak-balik kadie-kaditu, jadi eweuh waktu (soalnya, sering bolak-balik kesana-kesini, jadi enggak ada waktu -Pen),” tutur Budi.

Geo dan aku cuma bisa mendengarkannya, karena kita bukan pemain juga. Sontak Geo menanyakan teman rumahnya yang mau masuk ke kampus ini, tapi pembicaraan itu aneh saat ada kata “lobby” dan “kesepatakan”.

“Geo, jadi aya 3 jelema ti lembur, nu hayang asup kampus ieu (ada 3 orang dari kampung yang mau masuk kampus ini -Pen). Urang ges coba lobby ka Sekjur jeung Kajur, aya kuota ngan hiji, kesepakatan ge kudu asup organisasi kampus ( Aku udah coba lobby ke Sekjur dan Kajur, ada kuota hanya satu, kesepakatannya juga harus masuk organisasi kampus -Pen),” tegas Budi yang mengagetkan diriku.

Refleks diriku bertanya-tanya dalam hati. “Kalau ada jalur ini, orang yang udah lulus seleksi ujian, dicoret namanya demi mereka yang bayar pake uang, kasian mereka”.

Percakapan mahasiswa di kampus waktu malam, semakin merangsang diriku untuk tahu. Sedikit demi sedikit aku mulai berbaur dengan beberapa mahasiswa di depan Fakultas Hukum. Jelang pesta demokrasi dan rektorat baru, argumentasi yang mereka sampaikan semakin mendalam. Kampus, kata mereka akan mengalami berbagai perubahan. Kalau itu, aku tahu, berbeda yang mengurus, kebijakan juga bisa berbeda atau diteruskan.

“Teman-teman, rektor bakal berganti, setiap kandidat yang kuat terlihat dari peran mereka yang bermain bersama organisasi mahasiswa. Kita juga perlu selidiki, concern mereka ke kampus itu apa, seperti regulasi kekerasan seksual yang belum ada sampai sekarang, apakah akan diterbtikan di kepemimpinan selanjutnya atau tidak, kita bisa dorong ke sana,” ungkap seorang mahasiswa dengan gaya aktivis di kumpulan itu.

Sejenak, aku mendengarkan dengan khidmat perbincangan mereka. Masalah politik menurutku, bukan cuma masalah kekuasaan, tetapi mengukur skala kebijakan yang diterapkan. Baik atau tidaknya kebijakan, akan ternilai dari implementasinya. Konflik kepentingan di kampus yang sudah aku selidiki, tidak jauh dari membangun kerajaan yang saling memperebutkan peran strategis bagi warga kampus. Aku sudah membulatkan pilihan agar tidak berkecimpung masalah politik di kampus, tapi tetap penasaranku belum terpuaskan. Maka, lebih baik aku cukup tahu karena tidak memiliki kekuatan apalagi masssa.

Tujuanku menyelidiki memang irasional, aku belajar dari Erich Fromm tentang human needs, cara-cara kita menemukan tujuan hidup. Pondasi sense of identity, masih aku jalani dengan cara negatif yaitu irrational goals. Aku tidak punya tujuan rasional dari penyelidikan ini, aku menikmati, tetapi sekali lagi, belum puas.

Perlu ku ulangi, Rabu malam menjadi awal penyelidikan seriusku dari desas-desus yang kuterima. Konon, jika setiap hal yang diawali hari Rabu akan sempurna pada akhirnya. Sejak itu, aku mencoba tidak mendukung berbagai organisasi di kampus, tetap aku akan berkomunikasi kepada mereka.

Aku berpamitan dari kelompok yang berkumpul tadi, “semuanya, aku duluan ya. Udah malem juga, makasih buat obrolan yang menarik ini,” kataku sambil tersenyum menghargai keramahan mereka.

Akhirnya aku pulang, sudah tengah malam. Penyelidikanku, aku yakini tidak seperti penyelidikan aparat penegak hukum. Aku hanya Noble yang tumbuh untuk menyelidiki memuaskan rasa penasaran. Menjadi mahasiswa seperti ini, sungguh melelahkan.

*Tulisan ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

**Penulis merupakan blogger dan mahasiswa dengan memakai nama pena

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Ke Atas