Oleh: Nia Nur Fadillah*
Aku tak berharga
Bak puisi sang maestro Chairil Anwar
Aku binatang jalang
Dari kumpulannya yang terbuang
...
Jauh dari tanah airku
Membawaku ke tempat yang penuh pilu
Dengan semua janji manismu
Kau tipu aku
...
Tak pasti apa yang kulakukan
Tapi ku tak sendirian
Tak pasti apa yang harus kulakukan
Tapi aku butuh pertolongan
...
Tolong!
Hai tuan di sana tolong kami !
Tolong kami!
Bebaskan kami!
...
Apa ku tak berharga?
Hingga kau menjual nyawa
Apa kau insan manusia?
Tega mempermainkan nyawa
...
Disini aku menunggu
Berharap akan hal yang tak pasti
Atas semua kepastian yang ku nanti-nanti
...
Dari balik mejanya sang tuan menjawab
Atas semua kepastian yang ku rindukan
Bukan! Bukan aku, tapi yang kami rindukan
...
Terima kasih tuan kami bisa tidur tenang
Ku bukan binatang jalang, aku sudah pulang
Oleh: Mohamad Akmal Albari*
Ku tahu kota ini penuh estetika
Meraba sana-sini terisi romansa
Tapi apa, remahnya para durjana merajalela
Kota kembang nan juara politisasi mereka
...
Oh, kota penyimpan...
Oleh: Siti Yulianti Nurandini
Dalam pungkasan malam
Satu Oktober
Menjadi haribaan illahi
Tragedi menyayat hati
...
Riuh renjana menjelma kegusaran
Berkusu-kusu turun ke lapangan
Ganjil tak beraturan
Tumbang dalam kenaifan
...
Berlaku seolah pahlawan
Menjarah kemanusiaan
Tak lain demi kepentingan
Dan bersimaharajalela
...
Jerit tangis seakan terbungkam
Mengabur ditelan ketamakan
Kematian dan kesia-siaan
Hanya seonggok cerita tuan
...
Kaku dan ngilu sekali
Tinggal tubuh yang disepuh cahaya bulan
Teriring doa dan Alfatihah
Untuk seluruh korban Kanjuruhan