
SUAKAONLINE.COM – Unit Kegiatan Jurusan (UKJ) Eltra Theater menyelenggarakan pementasan teater bertajuk “CELLULAR” di Gedung Abjan Soelaeman, Kampus 1 UIN SGD Bandung, Jumat (20/6/2025). Pementasan dalam rangka Studi Panggung Gen VII Eltra Theater ini mengangkat isu ketergantungan media sosial (medsos) yang dikemas dalam penampilan seni teater.
Kisah bermula ketika Welas menangis meraung-raung karena diputuskan pacarnya. Temannya, Pasa, mencoba menenangkan. Namun, tangis dan amarah Welas tidak kunjung redam. Datanglah Wati dan Rara mengejek emosi Welas, yang semakin memperkeruh suasana. Hatinya semakin remuk, hingga Welas mulai menggedor-gedor pintu-pintu di belakangnya.
Pintu-pintu tersebut bermacam warna dan rupanya. Ada pintu hijau dengan logo WhatsApp, pintu merah dengan logo Instagram, pintu biru dengna logo Facebook, dan pintu kuning dengan logo aplikasi Memo. Setiap pintu menjadi representasi dari aplikasi-aplikasi yang gemar digunakan manusia untuk mencari jati dirinya. Namun, tepat di bagian tengah dari keempat pintu ini, terdapat meja hitam dengan logo TikTok.
Di meja ini, Kaum Pembebas yang dilambangkan menyerupai iblis duduk dan tertawa. Mereka bahagia akan menyeret manusia dalam kepalsuan tak terperi. Kepalsuan itu bernama media sosial, dimana manusia asyik menampilkan image terbaiknya sembari melupakan keakraban dengan diri sendiri. Dalam pementasan ini, kepalsuan yang Welas kejar adalah ingin terlihat romantis, bahagia, dan baik-baik saja dengan pacarnya.
Validasi media sosial mencengkeram Welas dalam keabsrudan. Orang tua dan teman-temannya berusaha menariknya dari kesibukan mengejar pandangan mata pemirsa virtual. Kaum Pembebas tentu ingin Welas tenggelam dalam pengejaran itu dan terjebak dalam citra media sosial yang fana. Hingga tiba-tiba, dari sisi belakang penonton, Julian berucap lantang, membuat khalayak terhenyak. Lantas, apa yang akan terjadi pada Welas selanjutnya?
Sutradara “CELLULAR”, Zamzam Petis, bermaksud menyampaikan isu-isu sosial era sekarang mengenai terfokusnya perhatian orang-orang akan citra diri di medsos. “Dikatakan bagaimana jadinya jika kita itu masuk ke dalam dunia medsos dan mereka menjadi satu wujud realitas. Karena memang di dalam dunia medsos berbagai macam hal terjadi di dalamnya. Kemudian dijadikan suatu komedi gitu di dalamnya,” tutur Zamzam, Jumat (20/6/2025).
Simbolisasi medsos cukup menonjol dalam sejumlah properti yang menghias pelataran pementasan tetaer. Zamzam mengaku bahwa makna di balik pintu-pintu dengan logo medsos WhatsApp, Instagram, dan Facebook, dan Memo mudah ditebak penonton. Namun, terdapat perbedaan simbolisasi medsos TikTok yang direpresentasikan oleh meja bundar bertaplak hitam. Meja ini menjadi tempat Kaum Pembebas merencanakan kejahatan untuk menyeret manusia tenggelam dalam kepalsuan medsos.
“Karena memang ada beberapa stigma gitu di masyarakat tau mungkin keresahan saya pribadi gitu tentang aplikasi TikTok itu. Jadi, ada keresahan tersebut yang menjadikan, oh, ini ternyata sebagai satu medsos yang bagus, tapi memang di sisi lain ada sesuatu hal yang gelap, dan hal itu akhirnya dijelaskan dengan beberapa aplikasi lain gitu,” tambahnya.
Butuh waktu yang cukup lama untuk membuat properti yang simbolis dengan desain yang mencolok. Pembuatan properti dan urusan artistik kerap menjadi kendala terbesar dalam persiapan pementasan. “Dalam prosesnya, kendala itu memang sering terjadi, apalagi dalam pembuatan artistik dan properti seperti ini. Memang ini sangat absurd gitu kalau misalkan sebagai hal yang realistis. Makanya ini sebagai suatu naskah surealis gitu,” ucapnya.
Zamzam ingin menyampaikan bahwa setiap hari, manusia dihadapkan pada pilihan. Menurutnya, bahkan ketika seseorang terjebak dalam suatu pilihan, sebagaimana Welas yang pada akhir cerita tidak memilih apapun. “Si tokoh yang menulis semua rangkaian ini tidak bisa menyelamatkan tokoh Welas tersebut. Nah, mungkin itu satu pertanyaan yang interpretasikan dan menyerahkan kepada para penonton untuk menginterpretasikannya,” tukas Zamzam.
Persiapan pementasan ini tentu memakan waktu yang tidak sedikit. Untuk penulisan naskah, dibutuhkan waktu sekitar tiga bulan, kemudian persiapan pementasan dari bulan Februari hingga bulan Juni. Selama pertunjukan, emosi penonton seolah dibuat naik turun. Ada kalanya suasana terasa mencekam dan membingungkan dengan gema. Ada kalanya pula gelak tawa penonton pecah melihat kelakuan lucu Juleha, seorang pria berpakaian dan bersikap secentil wanita.
Pementasan teater pun ditutup beriringan dengan riuh tepuk tangan penonton. Mahasiswa semester 6 jurusan Sastra Inggris, Abdullah Ginanjar atau kerap disapa Abdul, bahkan senantiasa menanti-nanti pertunjukan Eltra Theater. “Emang tiap tahun tuh penampilannya selalu unik gitu,” ucap Abdul ketika diwawancara bersama teman-temannya.
Salah satu keunikan pementasan yang menarik perhatiannya adalah bagaimana penonton dibuat seolah begitu dekat dengan Welas, sang tokoh utama. Menurut Abdul, aktivitas Welas di medsos hingga perasaan yang diutarakannya dalam aplikasi Memo bisa penonton simak melalui rangkaian dialog tatkala pementasan, bukan sekadar membaca ketikan seperti yang lumrah terjadi dalam kehidupan. “Itu bener-bener konsep yang bener-bener unik beneran,” ucap Abdul.
Keunikan performa sukses berpadu dengan dialog yang sarat akan pengingat agar tidak melupakan hal-hal pokok dalam hidup, seperti memahami diri sendiri daripada haus validasi virtual dari medsosl. “Kalau dari aku, sih, yang pastinya terus berkembang dengan ide-ide dan konsep-konsep yang lebih baru dan lebih first thing,” harap Abdul.
Reporter: Hanifah Flora Reine/Suaka
Redaktur: Mujahidah Aqilah/Suaka

