" > 3 mnt membaca"> Dema-F Saintek Menggelar Talkshow Nasional - Suaka Online
Advertorial

Dema-F Saintek Menggelar Talkshow Nasional3 mnt membaca

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tahun 2016, Maman Abdurrahman menjelaskan tentang perubahan iklim dalam Talkshow Nasional di Aula Anwar Musaddad, Selasa (12/3/2020). (Rini Zualiati/Suaka)

Dalam memperingati milad Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek), Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (Dema-F Saintek) mengadakan acara Talkshow Nasional dengan tema “Fenomena Anomali Perubahan Iklim dan Pengaruhnya Terhadap Lingkungan dalam Perspektuf Sains dan Islam” di Aula Anwar Musaddad, Selasa (12/3/2020). Acara ini merupakan rangkaian kegiatan dari Arkananta 2020.

Ketua Pelaksana, Muhammad Irsyad Maulana mengatakan tujuan dari pemilihan tema tersebut karena melihat keadaan bumi sekarang dan disesuaikan dengan Visi dan Misi UIN SGD Bandung. “Kita liat keadaan bumi kita saat ini, lalu kita kaji dalam acara talkshow, disesuaikan dengan visi misi UIN wahyu memandu ilmu dan coba dipadukan antara ilmu pengetahuan dengan perspektif Islam,”kata Irsyad, Selasa (12/3/2020).

Kemudian acara ini menghadirkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tahun 2016, Maman Abdurrahman, Dinas Binamarga dan Tata Ruang Jawa Barat A. Koswara dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Kota Bandung, Yan Firdaus. Saat membuka acara talkshow, Koswara mengatakan bahwa ia mencoba membentuk iklim yang kondusif dengan menggunakan konsep infrastuktur berkelanjutan.

“Saya akan coba membuat bagaimana di Dinas Binamarga mencoba membentuk iklim yang kondusif dengan menggunakan konsep infrastruktur berkelanjutan. Pembangunan berkelanjutan artinya kita memenuhi kebutuhan kita pada saat ini, tapi tidak melupakan kebutuhan anak dan cucu kita di masa yang akan datang. Dengan mendaur ulang limbah dan banyak teknologi sekarang maka dilakukan upaya agar tidak merusak lingkungan,” ujar Koswara.

Konswara mengungkapkan biasanya material yang menjadi kebutuhan negara mencapai sekitar 22 juta ton, itu diperoleh dari menggali gunung lalu mengambil material dari isi  gunung. Kemudian di Binamarga dikenal dengan teknologi daur ulang aspal. Konsep teknologi itu dimaksud dapat berpengaruh mengurangi pengambilan alam dan penggunaan material.

Baca juga:  Panitia Ad Hoc Gelar Sosialisasi Jelang Pembentukan Ormawa-U

Berbeda dengan Koswara, Yan Firdaus menjelaskan bahwa fenomena ini sudah terjadi sejak lima tahun terakhir, dimana perubahan iklim sangat kontras terasa di dunia. “Ini ditandai dengan tidak lazimnya suhu udara di berbagai negara, bahkan untuk beberapa daerah di Indonesia khususnya Jawa Barat ditandai dengan terjadinya banjir di beberapa daerah yang tidak pernah mengalami bencana banjir,” jelas Yan.

Kemudian sambung Yan, curah hujan yang tinggi dapat menjadi faktor alam tersebut. Namun, jika dikaitkan antara pembangunan dan perubahan iklim, hal tersebut dapat berkaitan karena dari pembangunan bisa memunculkan fenomena perubahan lingkungan, sehingga mau tidak mau  proses alam mengalami pergeseran.

Sedangkan dalam perspektif Islam, Maman mengungkapkan bahwas apa yang terjadi terhadap alam saat ini berhubungan erat dengan life style atau gaya hidup manusia sendiri dan sudah di atur sejak ribuan tahun yang lalu dalam Al-Qur’an. “Al-Qu’ran telah mengatur tentang life style sejak ribuan tahun yang lalu. Pertama, jangan hidup berlebih-lebihan. Kedua, dilarang hidup mubazir. Dan ketiga, jangan berlaku fasik.”Tutupnya.

Lebih lanjut, Maman menambahkan gaya hidup manusia yang menghancurkan lingkungannya sendiri seperti sampah – sampah yang berserakan, banyaknya beralihnya fungsi lahan, banyaknya penggunaan kendaraan dan konsumsi rokok menyebabkan global warming atau pemanasan global.

Reporter : Rizky Rahmatillah

Redaktur : Hasna Fajriah

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas