
SUAKAONLINE.COM, Infografis–Perubahan iklim mengacu pada perubahan jangka panjang dalam suhu dan pola cuaca. Maka tak heran jika bumi kian hari kian panas dan cuaca yang semakin ekstrim. Sejak tahun 1800-an, aktivitas manusia menjadi pendorong utama climate change terutama pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara dan minyak bumi. Emisi gas terus mengalami peningkatan dan berakibat naiknya suhu bumi dalam dekade terakhir.
Laporan PBB tahun 2018, ribuan ilmuan dan peninjau pemerintah sepakat membatasi kenaikan suhu global tidak lebih dari 1,5 derajat selsius untuk membantu menghindari dampak terburuk dari perubahan iklim dan membuat bumi tetap layak untuk dihuni. Emisi yang menyebabkan perubahan iklim datang di setiap belahan bumi dan memerangi banyak orang. 100 negara dengan emisi terendah menghasilkan 3 persen dari total emisi. 10 negara dengan emisi terbesar menyumbang 68 persen.
Negara-negara G-20 yang dilaporkan bertanggung jawab atas 75 persen emisi gas rumah kaca global. Climate Change Performance Index (CCPI) 2022 menunjukan Indonesia berada di peringkat ke lima dengan skor 57,17. Hal ini tentunya menjadi PR untuk kita semua agar masalah climate change ini bisa kita atasi bersama. Ini merupakan sebuah ancaman global untuk seluruh umat manusia.
Banyak solusi untuk menangani perubahan iklim yang nantinya memberi manfaat bagi berbagai sektor kehidupan manusia. PBB mempunyai perjanjian global dalam mengatasi krisis ini, seperti Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang perubahan iklim dan perjanjian paris. Tiga kategori aksi yang luas yaitu mengurangi emisi, beradaptasi dengan dampak iklim, dan mendanai penyesuaian yang diperlukan.
Mengalihkan sistem energi terbarukan yang semula dari bahan fosil menjadi energi yang bersumber dari angin, matahari, atau air. Hal tersebut tentu akan mengurangi emisi yang memicu perubahan iklim. Koalisi negara-negara berkembang berkomitmen untuk mencapai nol emisi bersih tahun 2050. Sekitar setengah dari pengurangan emisi harus dilakukan pada 2030 untuk menjaga pemanasan dibawah 1,5 derajat selsius.
Adaptasi perubahan iklim melindungi orang dari suhu yang lebih tinggi, naiknya air laut, badai yang ganas, curah hujan yang tak terduga, dan lautan yang lebih asam. Banyak orang yang rentan terhadap efek ini, seperti mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan. Negara berkembang dan pulau kecil sangat rentan terhadapa adaptasi terhadap badai dan kenaikan air laut. Kerugian terhadap bencana telah mencapai 200 persen dari ukuran ekonomi nasional.
Perubahan iklim mendorong kelaparan dan kesulitan pangan. Penggunaan lahan tanah, air, dan energi yang tidak berkelanjutan untuk makanan berkontribusi pada emisi gas rumah kaca dan berakibat melonjaknya suhu bumi. Suhu yang lebih tinggi dari yang diharuskan memengaruhi sumber daya pangan. Mengakibatkan sekitar 811 juta orang di dunia menghadapi kelaparan di sepanjang tahun 2020.
Melihat dampak yang begitu dahsyat dan sudah kita rasakan saat ini. Sudah seharusnya kita berkontribusi dalam mengurangi pemanasan global dan climate change dari hal-hal yang sederhana seperti menggurangi penggunaan plastik, meminimalisir sampah rumah tangga, hingga menggunakan produk-produk ramah lingkungan.
Sumber: databooks.katadata.co.id, un.org
Peneliti: Raafi Herdiansyah Putra /Suaka
Desain: Ari R Prayoga/Suaka

