" > 6 mnt membaca"> Gaya Hidup Konsumtif dan Problematika Turunannya - Suaka Online
Kolom

Gaya Hidup Konsumtif dan Problematika Turunannya6 mnt membaca

Ilustrasi: Rini Zulianti/Suaka

Oleh: Diyanah Nisa Halimatussa’diah*

Gaya hidup konsumtif memicu pelaksananya untuk selalu membeli barang-barang yang sebenarnya tidak perlu dan tak jarang sama sekali tidak digunakan. Orang-orang seolah tidak trendy jika tidak memakai baju baru, seolah terlihat miskin jika menggunakan plastik keresek dua kali. Padahal, kegiatan mereka sama sekali tidak bermanfaat kecuali hanya untuk dilihat orang saja. Jika menilik hasil riset Badan Pusat Statistik (BPS) dalam buku Statistik Lingkungan Hidup Indonesia pada 2017 yang menyatakan bahwa satu orang Indonesia menghasilkan 0,52 kg sampah per harinya, maka bayangkan berapa ton sampah yang dihasilkan oleh seluruh rakyat Indonesia, belum di seluruh dunia.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, gaya hidup konsumtif menghasilkan sampah yang cukup banyak. Masalah sampah telah menjadi momok yang cukup menakutkan bagi masyarakat Indonesia. Apalagi setelah terjadinya kasus longsor di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah pada 21 Februari 2005 lalu yang menewaskan 141 jiwa. Selain itu, dilansir dari Kompas.com, berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan BPS, sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun. Jumlah tersebut kemudian mengantarkan Indonesia menjadi penyumbang sampah plastik kedua terbesar di dunia setelah Cina.

Begitu pula dengan permasalahan sampah fashion yang merupakan sumber sampah kedua. Selain penghasil sampah terbesar, industri fashion, khususnya fast fashion, juga bermasalah dalam pemenuhan hak kerja dan keselamatan dari pekerjanya. Contohnya kejadian runtuhnya Rana Plaza di Bangladesh pada 24 April 2013, yang dilansir dari International Labour Organization (ILO) menewaskan 1132 orang dan mencederai lebih dari 2500 orang. Kejadian ini menunjukkan ketidaklayakan bangunan yang mencirikan kurangnya terpenuhi keamanan pekerja di dalamnya. Selain itu, besarnya upah yang didapatkan oleh para pekerja tersebut juga tidak dapat memenuhi biaya kehidupan sehari-hari mereka. Cleanclothes.org menyebutkan bahwa pekerja fashion di Bangladesh mendapat gaji kurang dari 2 euro (estimasi Rp 35,870) per harinya.

Problematika fashion tidak hanya masalah sampah dan pemberdayaan manusia. Industri fashion juga bermasalah dengan pengadaan bahannya yang bersinggungan dengan kekerasan terhadap hewan (animal cruelty). Bahan mentah seperti kulit, bulu, sutra dan lain sebagainya sering kali di panen dengan cara yang tidak ‘hewani’. Seperti yang kerap diperlihatkanoleh organisasi kenamaan People for the Ethical Treatment of Animals (PETA)di laman-laman sosial medianya. Angsa-angsa dicabuti bulunya tanpa diberi obat bius dan dibiarkan berkeliaran dengan bekas-bekas darah dari bulu-bulu tersebut. Atau ulat-ulat sutra yang direbus hidup-hidup untuk kemudian dipilin benang sutranya. Tak jarang pula merk-merk fashion kelas atas yang menggunakan bahan mentah yang berasal dari hewan langka. seperti hewan langka Amerika, koyote yang sengaja diburu ilegal untuk kemudian dijadikan jaket bulu musim dingin. Pengadaan bahan mentah yang sangat tidak etis yang dipilih oleh manusia yang katanya ‘makhluk paling pintar’. What an unethical form that was chosen by the smartest well-being.

Masalah tidak berhenti di situ saja, pengadaan plastik dan fashion, keduanya sama-sama berandil besar pada krisis iklim yang melanda seluruh dunia. Salah satunya dikarenakan proses produksi yang menghabiskan banyak sumber alam yang tidak dapat diperbaharui. Dilansir dari Kumparan, sebuah kaus berbahan katun memerlukan kurang lebih 2700 liter air untuk proses pembuatannya. Pembuatan setengah kilogram benang sendiri membutuhkan lebih dari 50 liter air. Juga proses pembuatan plastik yang membutuhkan bahan mentah yang berasal dari minyak bumi.

Proses pembutannya saja sudah sedemikian problematik, tidak pula didukung dengan penyelesaian yang baik. Pengolahan dan penempatan sampah kurang diperhatikan oleh para organisatornya. Dilihat dari banyaknya jumlah sampah plastik dan fashion yang kemudian bersarang di alam dimana hewan-hewan tinggal. Tak jarang kita melihat unggahan-unggahan yang menunjukkan hewan-hewan yang terjebak di bungkus-bungkus makanan atau sampah-sampah yang dianggapnya makanan dan menyebabkan kematian tragis bagi mereka. Juga kasus yang telah disinggung sebelumnya, yaitu mengenai longsornya gunungan sampah.

Gaya hidup konsumtif juga membuat distributor dari suatu barang untuk melakukan hal yang lagi-lagi tidak penting. Pembelian suatu barang yang kemudian memerlukan packaging terstandar untuk menjaga ‘kualitas’ produk di dalamnya. Contohnya saja, dalam pembelian satu bungkus mie instan berapa banyak plastik yang diperlukan untuk membungkus bahan-bahan di dalamnya. Wadah di dalam wadah, plastik di dalam plastik. Ketika packaging suatu barang menggunakan hanya satu wadah, pembeli kerap kali protes dan merasa barang tersebut tidak ‘aman’.

Minimalism sebagai Solusi yang dapat ditawarkan

Dampak dari gaya hidup konsumtif sebenarnya sudah cukup disadari oleh masyarakat dari belahan dunia ‘yang lebih maju’. Contohnya adalah penggantian bungkus-bungkus makanan segar yang diberlakukan beberapa supermarket Thailand. Di Indonesia sendiri, kesadaran mengenai dampak gaya hidup konsumtif ini masih jarang yang membicarakan sehingga perlu diberikan audiensi dan penyuluhan-penyuluhan lainnya. Gerakan-gerakan yang mendukung gaya hidup minim sampah (minimalis) belakangan mulai mendapatkan perhatian berkat gencarnya kampanye yang dilakukan oleh organisasi-organisasi pencinta lingkungan. Contohnya adalah organisasi nirlaba Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB) yang membuka toko dengan konsep minim sampah untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan juga untuk mendukung gaya hidup organis minimalis. Toko yang diberi nama Toko Organis tersebut merupakan toko grosir minim sampah pertama di daerah Bandung.

Toko Organis menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari seperti peralatan mandi, mencuci, makanan, alat-alat makan berbahan kayu, alat-alat kebersihan yang berbahan utama sabut kelapa, tas dari karung goni dan juga peralatan perempuan seperti menstrual pad, pantyliner, dan banyak lagi. Selain menjual barang-barang sehari-hari, toko ini juga menyediakan peralatan kompos sampah seperti keranjang takakura berukuran 50 kg yang dapat memuat sampah hingga 1,5 kg per hari. YPBB juga mengadakan penyuluhan-penyuluhan mengenai pentingnya hidup minim sampah di sekitar Bandung, Soreang dan Cimahi. Selain melakukan penyuluhan, gerakan YPBB ini dijadikan panutan oleh toko sejenis lainnya yang bernama Toko Saruga di Jakarta.

Selain keberadaan toko grosir non-sampah, gerakan hidup minimalis juga di dukung oleh adanya gerakan fashion #tukarbaju yang di inisiasi oleh zerowaste.id. Karena belum memiliki toko fisik, #tukarbaju menjalankan gerakannya dengan membuka event-event di berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Jogjakarta dan sebagainya. Sistem yang diberlakukan di gerakan ini adalah dengan membawa baju yang masih layak pakai dan lulus kurasi tim untuk kemudian ditukarkan dengan baju dari peserta lainnya.

Gerakan minim sampah juga sudah mulai di dukung oleh pemerintah dengan pemberlakuan pengurangan plastik kresek di market-market konvensional, juga peniadaan sedotan plastik di beberapa restoran cepat saji. Walaupun belum berlaku dengan sempurna, gerakan-gerakan tersebut diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah pertahunnya. Dibandingkan dengan gaya hidup konsumtif, pelaku gaya hidup minimalis diuntungkan dengan lebih sedikitnya uang yang harus dikeluarkan. Pembelian barang-barang toiletries dengan isi ulang selain mengurangi jumlah sampah juga memotong biaya yang harus dikeluarkan untuk pengadaan wadah, juga miringnya harga yang didapatkan dari belanja barang bekas.

Gaya hidup baru yang sebenarnya lebih menguntungkan baik bagi manusianya sendiri maupun alam. Dengan menjalankan gaya hidup ini manusia dapat berkontribusi dalam memperpanjang usia dunia dengan mengurangi terjadinya krisis iklim. Mudah-mudahan kedepannya dapat lebih diterapkan oleh semua kalangan di seluruh dunia, agar dapat mengurangi jumlah sampah dan juga menaikkan kesejahteraan pekerja-pekerja fashion dengan tidak menggunakan barang-barang fast fashion.

*Penulis merupakan mahasiswa Jurusan Sastra Inggris semester enam dan Anggota Magang LPM Suaka 2020

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © 2016 Suaka Online │ LPM SUAKA UIN SGD Bandung

Ke Atas