" > 3 mnt membaca"> Hidupkan Nilai Islam, Ilmu Hadits Adakan Bedah Buku Living Qur’an dan Hadits - Suaka Online
Advertorial

Hidupkan Nilai Islam, Ilmu Hadits Adakan Bedah Buku Living Qur’an dan Hadits3 mnt membaca

Penulis buku Living Quran dan Hadits, Ahmad Ubayda Hasbillah tengah memaparkan materi pada acara bedah buku Living Quran dan Hadits di aula  kopertais lantai 4 UIN Bandung, kamis (28/11/2019). (Hamzah Anshorullah/Suaka)

SUAKAONLINE.COM – Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Hadits Fakultas Ushuluddin menggelar bedah buku Living Quran dan Hadits pada Kamis (28/11/2019), di Aula Kopertais Lantai 4 UIN SGD Bandung. Bedah buku karangan Ahmad Ubaydi Hasbillah ini turut dihadiri oleh Dekan Fakultas Ushuluddin, Wahyudin Darmalaksana, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin, Muhlas dan beberapa dosen pengajar fakultas Ushuluddin.

Dalam sambutannya, Wahyudin menjelaskan bahwa materi yang disampaikan dalam buku Living Quran dan Hadits ini berbeda dengan materi-materi yang biasa disampaikan ditempat lain. Dia menganjurkan mahasiswa dan masyarakat Ushuluddin untuk menjadikan buku ini sebagai sumber rujukan dalam berprilaku ekstrim. “Jadikan buku ini sumber kalian dalam berprilaku ekstream, sehingga bisa menjadi rujukan untuk menulis buku-buku lain,” ujar Wahyudin sekaligus membuka acara bedah buku itu.

            Ucapan ekstrim yang dilontarkan Dekan Ushuluddin ini dibenarkan oleh penulis buku Living Quran dan Hadits, Ahmad Ubayda Hasbillah. Ahmad menyampaikan bahwa terkadang cara ekstream memang perlu untuk diaplikasikan. Alasannya adalah karena pada awalnya, tulisannya mengenai Living Quran dan Hadits hanya merupakan judul sebuah kajian. Hingga akhirnya dia melakukan langkah ekstream untuk menjadikan Living Quran dan Hadits ini menjadi sebuah Ilmu.

            Ahmad juga mengatakan bahwa awal mula ia berniat menulis buku ini adalah dari kegelisahannya pada empat tahun lalu ketika dia berada dalam program perkuliahan tentang ilmu hadits. Ketika itu Ahmad menyadari terkait kurangnya minat para pemuda dalam Ilmu Hadits dan al-Quran. Dia lalu menanyakan kepada para peserta yang sebagian besar berasal dari jurusan Ilmu al-Quran dan Tafsir dan Ilmu Hadits mengenai siapa saja yang menjadikan jurusan mereka sebagai prioritas dalam memilih jurusan.

Sebelum dijawab ia langsung meyakinkan bahwa peminat utama jurusan Ilmu Hadits pasti kurang dari 10 orang, yang mana sisanya menjadikan Ilmu Hadits sebagai pilihan kedua dan selanjutnya. Selanjutnya Ahmad menjelaskan alasannya menggunakan kata living dalam judul buku itu adalah karna kata living lebih praktis digunakan untuk berbagai kalangan. “Banyak yang tanya kenapa pakai living dari pada bahasa arab. Saya berfikir sepertinya kalo pakai bahasa arab, pembaca buku saya akan kurang meluas. Jadi saya cari kata yang enak, akhirnya terbesitlah kata Living,” ujar Ahmad.

Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Hadits, Irfan Subagja menyampaikan bahwa landasan HMJ Ilmu Hadits mengadakan bedah buku ini adalah karna materi dalam buku Living Quran dan Hadits ini banyak dibutuhkan oleh mahasiswa khususnya semester tujuh Jurusan Ilmu Hadits dan Ilmu al-Quran dan Tafsir sebagai bahan penelitian. “Diadakan acara ini adalah karena ini merupakan kebutuhan mahasiswa semester tujuh, terutama dalam segi living, ilmu living untuk penelitian,” ujar Irfan saat diwawancarai pada acara itu.

Dalam sambutan lain yang disampaikan oleh Muhlas, dia berharap agar bedah buku menjadi tradisi yang dilakukan secara berkelanjurtan. Dia mengatakan bahwa manfaat yang akan diperoleh ketika dekat dengan buku antara lain adalah dibenturkannya dengan para tokoh besar dan upaya meningkatkan kultur akademik. “Saya harap bedah buku ini menjadi tradisi yang continue, karena banyak manfaat yang akan didapat ketika seseorang dekat dengan buku,” ujar Muhlas pada sambutannya pagi itu.

Salah satu peserta dari jurusan Ilmu al-Quran dan Tafsir, Heru menyampaikan alasannya mengikuti kegiatan adalah karena materi yang disampaikan dalam buku merupakan materi yang menarik, selain karna di kampus UIN SGD Bandung sendiri yang menurutnya dalam kehidupan sehari-hari masih jauh dari nuansa qurani, juga karena bedah buku tentang Living Quran dan hadits ini hanya dilakukan sekali.

Reporter : Hamzah Anshorullah

Redaktur : Lia Kamilah

Komentar Anda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Ke Atas